Selama Penerapan PSBB, Polda Jabar Tindak 47.749 Kendaraan

Video

Sabtu, 9 Mei 2020 | 17:53 WIB


DIREKTORAT Lalu Lintas Polda Jabar mencatat sebanyak 47.749 kendaraan yang ditindak saat akan masuk perbatasan Jawa Barat, selama menggelar Operasi Ketupat Lodaya 2020 yang di mulai dari 24 April sampai dengan 8 Mei 2020. Seperti diketahui, operasi itu dilakukan di tengah pandemi corona serta penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Hal tersebut diungkapkan Dirlantas Polda Jabar, Kombes Pol. Eddy Djunaedi kepada wartawan di exit tol Cileunyi, Kabupaten Bandung, Sabtu (9/5/2020). Masih dikatakan Eddy, ada 47.749 kendaraan yang harus ditindak dengan diputarbalikan.

"Ada 47.749, dengan rincian 29.077 motor, 16.941 mobil dan 1731 kendaraan umum," kata Eddy.

Kendaraan yang harus dapat tindakan putar balik ini, rata-rata berasal dari DKI Jakarta dan sebagian kecil dari Provinsi Jawa Tengah. Hal itu berdasarkan catatan dari penyekatan kendaraan di Karawang, yang menjadi pos perbatasan provinsi.

Rinciannya, untuk di pos penyekatan di KM 47 tol Jakarta Cikampek, polisi menindak 2.272 kendaraan, yang terdiri dari 1.717 mobil pribadi dan 555 kendaraan umum.

Untuk di jalur non tol, yakni di pos penyekatan Tanjung Pura, ada 1.417 kendaraan yang di tindak, dengan perincian 1.364 motor, 49 mobil pribadi dan empat unit kendaraan umum.

"Yang melanggar ini kebanyakan pemudik, dengan menggunakan sepeda motor," ucapnya.

Pihaknya pun juga melakukan tindakan tilang ke beberapa kendaraanbyang masih nekat mudik. Eddy menyebut ada 63 surat tilang ke pemudik yang nakal.

Dari puluhan ribu kendaraan yang terjaring, beberapa diantaranya terdapat travel gelap. Mereka beroperasi dengan memanfaatkan tidak diizinkannya transportasi umum, untuk beroperasi.

"Untuk travel gelap, ada 59 yang kami tindak," kata dia.

Eddy mengatakan, pada Operasi Ketupat Lodaya 2020 ini, bertujuan untuk menghalau pemudik dan menciptakan situasi kamseltibcar di wilayah hukum Polda Jabar. Dalam pelaksanaanya, Eddy menginstruksi anggotanya untuk mengedepan sisi humanis kepada masyarakat.

"Kami masih melakukan upaya persuasif dengan mengedepankan humanis, dengan cara memutar balikan. Kalau berulang kali baru kami upayakan untuk penilangan," pungkasnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA