Tilap Dana Desa, Mantan Kades Diciduk Tepat di Hari Antikorupsi

TKP

Senin, 9 Desember 2019 | 17:59 WIB

191209175846-tilap.jpg

Tommi Andryandy/"PR"

Kejari Kabupaten Bekasi menggiring Asep Mulyana, mantan Kepala Desa Karangasih, Kecamatan Cikarang Utara, karena dugaan korupsi Anggaran Pendapatan Belanja Desa tahun 2016, Senin (9/12/2019).

BERTEPATAN dengan peringatan Hari Antikorupsi Sedunia, Senin (9/12/2019), Kejaksaan Negeri Kabupaten Bekasi menciduk Asep Mulyana, mantan Kepala Desa Karangasih, Kecamatan Cikarang Utara. Ia diduga melakukan tindak pidana korupsi Anggaran Pendapatan Belanja Desa tahun 2016.

Berdasarkan hasil audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan, dari total APBDes Rp 3.083.879.000, korupsi yang diduga dilakukan tersangka mencapai lebih dari Rp 1 Miliar. Asep diduga mengutip hampir seluruh anggaran desa hingga bernilai fantastis.

"Jika melihat kerugian negara yang sampai Rp 1 miliar dari total anggaran Rp 3 miliar, ini tentu nilai korupsi yang disignifikan. Jadi bukan satu dua kegiatan melainkan keseluruhan dari APBDes 2016 itu," jelas Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Bekasi, Angga Dhielayaksa di kantornya, Cikarang Pusat.

Diungkapkan Angga, tindak korupsi tersebut dilakukan di sejumlah kegiatan, baik pengerjaan infrastruktur hingga pemberdayaan masyarakat di desa. Motif yang dilakukan pun beragam, mulai dari penggelembungan anggaran hingga proyek fiktif.

"Jadi kan anggarannya itu bersumber dari alokasi dana desa, dana desa sampai bantuan dari provinsi. Postur anggaran di desa itu 60 persen untuk pembangunan dan 40 persen untuk pemberdayaan. Kebanyakan itu korupsinya di yang 60 persen meski ada juga yang di 40 persen," jelasnya.

Salah satu modus yang dilakukan yakni penyelenggaraan rapat minggon, pertemuan mingguan yang dilaksanakan pemerintah desa dengan masyarakatnya. Pada rapat tersebut, dengan modus untuk menjaga keakraban, masyarakat yang hadir diminta membawa makanan sendiri dari rumah. Kemudian dimakan bersama-sama pada rapat tersebut.

"Istilahnya itu botram, jadi bawa makanan masing-masing. Di sisi lain, di anggarannya justru ada untuk konsumsi rapat minggon. Ini yang dilakukan. Biayanya makan tidak banyak tapi kan dilakukannya tiap minggu yang berulang selama setahun," ungkapnya seperti ditulis wartawan "PR", Tommi Andryandy.

Selain itu, terdapat praktik penyimpangan lainnya seperti pembangunan jalan lingkungan hingga pembuatan kuitansi palsu. "Seperti perbaikan infrastruktur di desa. Dari anggaran yang terdata berapa tapi fakta di lapangan berbeda," ucap dia.

Lebih lanjut Angga mengatakan, kasus korupsi yang dilakukan Asep sebenarnya telah disidik sejak 2018. Namun, karena banyaknya temuan dari kasus tersebut, maka penahan baru dilakukan kemarin. "Banyak yang harus diurut dari anggaran-anggaran ini yang akhirnya diketahui total kerugian negaranya," tambahnya.

Menurut Angga, kasus ini masih dapat terus berkembang pasca ditahannya Asep sebagai tersangka utama. "Nanti faktanya akan terus berkembang di persidangan termasuk potensi tersangka lainnya," imbuhnya.

Sekedar informasi, Asep merupakan mantan Kades Karangasih dua periode yakni 2006-2012 dan 2012-2018. Bahkan pada Pilkades 2012, Asep berhasil menang setelah mengalahkan pesohor Viki Presetyo. Hanya saja, pada Pilkades 2018, Asep kalah.

Dalam kasus ini, Asep disangkakan pasal 2 ayat 1 junto pasal 18 subsider 3 pasal Undang-Undang 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU 20/2001.

Saat ini Asep ditahan penyidik berdasarkan surat perintah penahanan nomor Print -4045/M.2.3.1/Fd.1/12/2019 selama 20 hari di Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Bekasi.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA