Kuasa Hukum Anak Bupati Majalengka : Penembakan untuk Melerai Keributan Massal

TKP

Rabu, 13 November 2019 | 21:45 WIB

191113214837-kuasa.jpeg

ist

Tim kuasa hukum Irfan Nur Alam memberikan keterangan kepada media, Rabu (13/11/2019).


KEJADIAN keributan yang diwarnai dengan aksi penembakan yang dilakukan Irfan Nur Alam belum lama ini, murni masalah utang piutang. Peristiwa itu dipastikan tak ada kaitannya dengan kebijakan atau perizinan yang yang dilakukan Pemkab Majalengka.

Hal itu disampaikan tim kuasa hukum Irfan Nur Alam, yang terdiri dari H. Dadan Taufik, Diarson Lubis, Dr Kristiwanto S dan Gunawan, ketika menggelar jumpa pers di Kabupaten Majalengka, Rabu (13/11/2019). Mereka juga menegaskan, penembakan dilakukan untuk melerai
bentrokan fisik kedua massa.

"Peristiwa yang terjadi malam itu bukanlah faktor kesengajaan namun murni insiden di luar dugaan klien kami. Jadi kami tegaskan kembali
kalau insiden itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan kebijakan Pemkab Majalengka. Untuk senpi yang digunakan juga legal karena memiliki izin resmi dari Mabes Polri," tutur tim kuasa hukum Irfan Nur Alam, seperti lewat keterangan tertulisnya, Rabu (13/11/2019).

Tim kuasa hukum Irfan juga menyatakan, peristiwa dipicu masalah utang piutang antara PT Laskar Makmur Sadaya dengan Panji Pamungkasandi dalam mengurusi perizinan ke Pertamina. Hal itu sesuai dengan surat perjanjian pembangunan proyek SPBU Nomor 01/SP/PEJ/I/2019 tentang pengurusan perizinan SPBU atas nama PT Laskar Makmur Sadaya Desa Palabuan Kecamatan Sukahaji Kabupaten Majalengka, yang pimpinanya
Danil Rezal Prilian, bukan Irfan. Ini pun hanya dipinjam perusahaan oleh HW melalui AS.

"Jadi ini berkaitan dengan pembuatan SPBU dan itu tidak ada kaitannya dengan utang piutang dengan klien kami saudara Irfan Nur Alam," jelasnya.

Mengenai kepemilikan senpi, resmi dikeluarkan oleh Mabes Polri yang peruntukannya membela diri. "Nah untuk memiliki senpi itu diperoleh
melalui prosedur yang benar dimulai dari pendaftaran dan tes sebagaimana peraturan perundang-undangan yang berlaku," paparnya.

Sebelum kejadian, Irfan saat itu berada dalam perjalanan dari Bandung menuju Majalengka. Saat itu, kata tim kuasa hukum, Irfan mendapatkan kabar adanya penyerangan dari sekelompok orang yang datang ke kediamannya di Cijati Majalengka. Guna menghindari bentrok fisik di lokasi tersebut, Irfan meminta agar massa yang dibawa Panji beralih ke tempat lain.

"Saat baru tiba di Majalengka, massa kedua kubu antara pendukung Panji dan pendukung klien kami sudah terlibat adu jotos. Guna melerai
keributan yang lebih besar maka klien kami terpaksa mengeluarkan senpinya dan menembakanya ke atas sebagai bentuk peringatan. Tapi saat itu Panji berusaha merebutnya hingga akhirnya mengenai tangannya," tukasnya.

Irfan merupakan aparatur sipil negara (ASN) di Pemkab Majalengka, dengan jabatan Kepala Bagian Ekonomi Pembangunan (Ekbang) Pemkab Majalengka. Selain menjabat Kabag Ekbang ia juga Ketua Persatuan Penembak Indonesia (Perbakin) Kabupaten Majalengka.

Seperti diketahui, seorang pengusaha konstruksi, Panji Pamungkasandi melapor ke polisi dan mengaku menjadi korban penembakan yang dilakukan oleh Irfan. Panji mengalami luka tembak di tangan kirinya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA