Korea Selatan Minati Bisnis Fiber Optik di Indonesia

Teknologi

Rabu, 15 Januari 2020 | 18:38 WIB

200115183539-korea.jpg

Edi Kusnaedi

INDUSTRI fiber optik di Indonesia semakin tumbuh dan berkembang pesat dalam beberapa tahun belakangan. Secara keseluruhan, kebutuhan industri kabel komunikasi di dalam negeri mencapai 9 juta kilometer.

Industri dalam negeri sudah bisa memproduksi sebanyak 5,4 juta kilometer kabel serat optik. Pada tahun 2019, diproyeksikan ada tambahan pabrik kabel serat optik baru yang mulai beroperasi.

Hal ini yang membuat investor dari korea selatan tertarik menanamkan modalnya di Indonesia. Ketua Asosiasi Perusahaan Nasional Telekomunikasi (Apnatel) Jawa Barat, Boris Syaifullah mengatakan, hingga saat ini sudah ada tujuh investor asal Korea Selatan dan Cin yang menyatakan keseriusannya untuk menanamkan modal dalam pembangunan Lingkungan Industri Optik (LIO) di Bandung.

"Bahkan kami dari Apnatel Jawa Barat kedatangan dua calon investor dari Korea Selatan yang serius ingin berinvestasi di industri fiber optik di Indonesia," ujar Boris.

Kedua investor datang berkunjung ke Kantor Apnatel Jabar di Jln. Terusan Buah Batu Bandung, Selasa (14/1/2020).

"Pasar fiber optik Indonesia sangat besar. Saat ini pembangunan fiber optik di wilayah Indonesia barat baru mencapai 60 persen pada grade terakhir," tambahnya.

Sementara di wilayah Indonesia timur, pembangunan fiber optik baru akan dimulai. Boris memprediksi, dengan kondisi geografis Indonesia, pembangunan fiber optik tersebut tidak akan selesai dalam waktu 40 tahun.

Apalagi dengan keberadaan aturan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) untuk industri telekomunikasi, termasuk fiber optik Indonesia.

Kondisi itu, menurut Boris, membuat para investor semakin tertarik menanamkan modalnya untuk membangun infrastruktur industri optik di Indonesia.

"Bahkan, keinginan investor asal Cina sangat besar," ujar CEO & Presdir PT. Borsya Cipta Communica ini.

Boris pun berusaha semaksimal mungkin agar bisa menguasai 51 persen saham. "Dengan terbentuknya pembangunan pabrik ini, maka ketergantungan akan impor bahan baku menjadi berkurang karena selama ini kita untuk bahan baku 90 persen impor," pungkasnya. (edi kusnaedi)

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA