Rekor Terancam Tak Diakui Gara-gara Sneaker Super Nike, Balas Protes Pelari Jarak Jauh Angkat Suara

Sport

Kamis, 16 Januari 2020 | 15:31 WIB

200116152753-rekor.jpg

dailymail

Catatan rekor terancam gara-gara mengenakan sepatu kontroversial Nike, Vaporfly, pelari jarak jauh Eliud Kipchoge menegaskan tak ada alasan World Athletics tak mengakui capaiannya di nomor maraton. Ia menyebut sudah seharusnya federasi atletik dunia menerima kemajuan teknologi. 

Dikutip dari DailyMail kemarin, Vaporfly Nike menjadi sasaran “investigasi”  World Athletics karena dinilai memicu bertumbangannya rekor lari secara tidak fair. Dikatakan tak adil karena Vaporfly dirancang dengan efek pegas yang memberi efek entakan tambahan.

Eliud kala memecahkan rekor di Viena.

Fine by me.

Selain Eliud, pelari jarak jauh lainnya Brigid Kosgei dari Kenya juga mengakhiri rekor maraton Paula Radcliffe di Chicago dengan catatan waktu 2 jam 14 menit 4 detik atau lebih cepat dengan selisih nyaris dua menit. Meski keputusan akhir belum dicapai tapi niat World Athletics melarang Vaporfly disebut Eliud justru tidak adil.

Menanggapi ini kepada Telegraph, Eliud menyebut dalam nomor lari jarak jauh pada akhirnya daya tahan pelari menjadi  faktor penentu.  “Semua fair. Teknologi terus berkembang dan kita tak bisa menghindar selain menyesuaikan diri,” ungkapnya.  Ia pun menganalogikan penggunaan Vaporfly di kalangan pelari tak ubahnya ban di balapan F1.

The issues..

“Di Formula 1, semua menggunakan ban Pirelli tapi juaranya Mercedes. Why? Karena mesinnya paling prima. Jadi bukan faktor sepatu, tapi pelarinya. Kepada semua yang keberatan, yang lari itu atletnya bukan sepatunya. Siapa yang di balik kemudim bukan yang membuat ban,” paparnya lugas.

Moratorium sedang dipertimbangkan World Athletics, yang kemungkinan tetap mempertahankan catatan rekor terakhir tapi tetap melarang penggunaan Vaporfly. Salah satu kekhawatiran terbesar yaitu pemecahan rekor oleh “atlet minor” berkat bantuan teknologi pada Olimpiade Tokyo tahun ini. Terutama nomor bergengsi 100 meter milik Usain Bolt dengan 9,58 detik.

Rekor Brigid Kosgei ikut terancam.

Pelat karbon jadi persoalan.

Kontroversi juga muncul di tengah meningkatnya tekanan pada World Athletics untuk menerapkan  aturan yang lebih ketat terkait sepatu pelari karena bisa memengaruhi  integritas. Keberhasilan Kosgei memangkas waktu hingga 1 menit 21 detik dari rekor Radcliffe pada Oktober tahun lalu, mendorong seruan  penyelidikan teknologi di belakang produk sneaker Nike  yang tren di kalangan pelari amatir.

Selain itu ada juga aspek  kesehatan jangka panjang akibat sepatu berpelat karbon pada sol.  Sementara regulasi saat  ini menyatakan sepatu tidak boleh  memberikan keuntungan yang tidak adil dan harus terjangkau oleh  semua orang.



Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA