Pemuda Puspahiang Tasikmalaya Persembahkan Emas Di SEA Games Filipina

Sport

Jumat, 6 Desember 2019 | 19:01 WIB

191206190232-pemud.jpg

MUHAMMAD Taufik Ridho, pemuda asal Kampung Cimangu, Desa Cimangu Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, berhasil menyabet medali di ajang SEA Games yang digelar di Filipina.

Salah satu putra terbaik ini mengharumkan nama bangsa Indonesia dalam cabang olah raga Modern Pentathon.

Prestasi yang ditorehkan Taufik tidak tanggung-tanggung, Lajang berusia 30 tahun itu mempersembahkan dua mendali. Pertama medali emas dalam cabang olah raga Modern Pentathlon kategori Mens Beach Laser Individual, serta medali perunggu dalam kategori Beach Triathle Individual.

Kedua cabang olah raga ini menitikberatkan pada skill berenang, lari dan menembak. Berkat kegigihan usahanya, bendera merah putih dan lagu Indonesia Raya berkumandang di Filipina.

"Saya sangat bersyukur bisa meraih emas dan perunggu di ajang SEA Games. Prestasi ini saya persembahkan untuk ibu, bapak dan tante yang merawat saya, kampung halaman Cimangu, Tasikmalaya dan bangsa Indonesia," ujar Taufik, saat dihubungi melalui pesan Whastapp, Jumat (6/12/2019).

Menjadi atlet Triathlon bagi Taufik tidaklah semudah yang dibayangkan. Apalagi, sejak kecil Muhammad Taufik hidup jauh dari kedua orang tua. Dia hidup di pondok pesantren, sementara Ibu kandungnya Hj. Nurhayati dan ayah kandungnya, Syafic M. Choydry bekerja menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi.

Sebagai pengganti orang tua, selama bertahun-tahun Taufik pun dirawat oleh kerabatnya Mak Enti dan Pak Amat.

Kala itu sewaktu mesantren dan mondok di ponpes tempat mengenyam pendidikannya, dia divonis dokter menderita penyakit paru-paru. Lalu ia mulai menggeluti olah raga renang dan lari sebagai terapi. Maka harus rutin melakukan renang dan lari. Lambat laun, kedua olahraga yang menjadi basik para atlet Triathlon ini menjadi hobi Taufik.

Ia pun kemudian mencoba mengikuti berbagai lomba dan kejuaraan baik di tingkat lokal, daerah hingga nasional. Kemenangan pun terus diraih hingga mengantarkannya ke kancah SEA Games saat ini.

Taufik menyebutkan, sengaja menggeluti olahraga jenis Modern Pentathon karena termotivasi ingin bertemu dengan orang tuanya yang bekerja di Arab Saudi. Walaupun, Taufik harus kecewa karena tidak bisa melihat Ibu kandungnya, setelah wafat di Tanah Saudi tahun 2017 lalu.

Sementara ayah kandungnya belum kembali hingga saat ini. Taufiq pun tidak meminta apa-apa atas prestasinya, dia hanya ingin bertemu dengan kedua orang tuanya yang didambakan sejak kecil.

"Yang pasti saya ucapkan terima kasih, pada Desa Cimangu yang telah membesarkan saya, pada orang tua saya yang jauh di Saudi. Semua kerabat di Cimangu yang sudah saya anggap sebagai orang tua, pengganti ibu-bapa saya semasa kecil," katanya.

Diakuinya, keikutsertaannya dalam ajang kejuaraan olahraga tingkat Internasional tersebut, memang baru pertama kali. Sebelumnya ia sempat ikut berlaga dalam pesta olahraga Asian Games 2018, namun tidak diturunkan dan hanya sebagai cadangan saja.

Saat ini dalam ajang yang lebih bergengsi dirinya bisa membuktikan pada bangsa Indonesia, jika kemampuannya layak untuk diperhitungkan.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA