Dituding "Bantu Performa" Pelari Jarak Jauh

Dibanderol Rp 3,4 Juta, Sneaker Favorit Para Pencinta Maraton Nike Vaporfly Picu Kontroversi

Sport

Rabu, 6 November 2019 | 09:39 WIB

191105162237-nike-.jpg

dailymail


Even tahunan New York City Marathon yang minggu kemarin diikuti tak kurang dari 50 ribu pelari jarak jauh memang telah usai. Tapi publik masih membahasnya gara-gara sneaker andalan yang digunakan sejumlah elite peserta. Sneaker dimaksud tak lain Vaporfly yang merupakan koleksi mutakhir Nike untuk kelengkapan para pelari jarak jauh.

Dikutip dari DailyMail kemarin, Vaporfly menjadi sorotan setelah menjadi bagian dari catatan keberhasilan sejumlah sukses pelari jarak  jauh dalam beberapa bulan terakhir. Termasuk Eliud Kipchoge yang menggunakan versi khusus yang belum dirilis apparel raksasa Amerika tersebut. Eliud viral berkat keberhasilannya menuntaskan nomor jarak jauh di bawah dua jam di Vienna.

Vaporfly.

Ada juga penampilan mengesankan Brigid Kosegi di even Chicago Marathon bulan lalu yang ikut mempromosikan Vaporfly yang sejauh ini dibanderol $250 atau Rp 3,4. Namun alih-alih mendapat pujian karena menjadi bagian keberhasilan pelari top, koleksi Nike yang satu ini malah memicu kontroversi. Sejumlah kritikus mempertanyakan kemungkinan Vaporfly ikut menggenjot performa atlet yang ujung-ujungnya merugikan mereka yang tak mengenakannya.

Shalane Flanagan, pemenang New York City Marathon 2017 mengatakan  komunitas lari harus selalu mempertanyakan apa yang terjadi tetapi debat pun jangan sampai membuat prestasi atlet disepelekan.

“Faktanya Anda bisa memberikan sepatu pada yang sama pada siapa saja namun tidak lantas mereka akan mampu tampil setara Eliud atau Brigid Kosgei. Jika melanggar maka perusahaan harus mencocokkan inovasinya dengan asas fairplay  atau IAAF menegaskan kami tidak mengizinkan inovasi seperti ini sebagai bagian dari olahraga”.

Eliud Kipchoge dengan Nike NEXT% Vaporfly.

Sementara itu Asosiasi Federasi Atletik Internasional disebut telah menurunkan tim guna menentukan kelayakan  sepatu olahraga berteknologi tinggi di sirkuit lari jauh  catatan impresif Eliud. Tapi tidak jelas bagaimana hal itu akan mempengaruhi penilaian mereka.

Diharapkan mereka akan mengambil keputusan akhir tahun ini. Pihak asosiasi menyatakan masih akan bekerja untuk menentukan jalan tengah antara kemajuan teknologi dan etika dasar olahraga.

"Tantangannya adalah menyeimbangkan antara memacu pengembangan teknologi baru dengan tetap mempertahankan karakteristik dasar olahraga," ujar perwakilan tim. Sedangkan IAAF menentukan sepatu tidak boleh dikonstruksikan untuk memberi atlet bantuan atau keuntungan yang tidak adil. Juga bahwa semua jenis sepatu yang digunakan harus tersedia secara wajar dengan akses untuk siapa saja.

Dua versi ZoomX Vaporfly NEXT% .

Terkait hal ini juru bicara Nike mengatakan sepatu yang dikenakan Brigid di Chicago yaitu Nike ZoomX Vaporfly NEXT%. Sedangkan di Vienna, Eliud mengenakan versi masa depan Nike Vaporfly yang saat ini belum dirilis. “"Namun, sepatu hanya salah satu faktor dalam perlombaan dan kemampuan lari yang luar biasa dari para atlet seperti Eliud harus diakui."

Meb Keflezighi, eks pelari yang memenangkan medali perak Olimpiade 2008 New York City dan peraih medali Olimpiade mengatakan, para atlet  bukan sepatu mereka yang pada akhirnya pantas mendapat apresiasi.

“Selain sepatu, Anda harus memiliki paru-paru yang prima dan bekerja keras.  Tapi jika ada banyak bantuan pada akhirnya itu akan membuat perbedaan.” Komunitas lari bukan satu-satunya olahraga yang menentang inovasi dalam kelengkapan yang tidak fair termasuk kostum atletik.

Brigid Kosegi di even Chicago Marathon.

Tahun 2010 pakaian renang berteknologi tinggi dilarang digunakan menyusul pecahnya serangkaian rekor. Atlet juga keberatan mendapati publik mengaitkan prestasi mereka dengan teknologi kelengkapan lomba. “Bagaimana tidak frustasi saat seseorang juara lalu orang berkata, apa yang dikenakanmnnya," ujar pemenang Boston Marathon 201 Des Linden. Ia menegaskan, "Pada akhirnya orang ingin tahu siapa yang tercepat bukan siapa yang sepatunya paling canggih."

I see..

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA