Jadi Peserta Piala Dunia Tanpa Negara, Rusia Dilarang Ikut Serta di Ajang Olahraga Selama 4 Tahun

Soccer

Selasa, 10 Desember 2019 | 12:32 WIB

191210121603-gunak.jpg

dailymail

Rusia dilarang mengikuti pertandingan di semua even olahraga top dunia selama empat tahun, termasuk Olimpiade Tokyo 2020 dan Piala Dunia Qatar 2022 karena dianggap “menghalangi” tes doping.

Keputusan diambil Komite eksekutif World Anti-Doping Agency (WADA) dengan kesimpulan Moskow sengaja menanam bukti palsu dan menghapus bukti yang menyatakan hasil doping positif. Sesuatu yang seharusnya akan membantu proses pengungkapan. Presiden WADA Craig Reedie mengatakan, "Sudah terlalu lama doping Rusia  mengurangi nilai kompetisi olahraga yang bersih."

Meski demikian timnas Rusia tetap akan diizinkan berpartisipasi di fase kualifikasi Piala Dunia tahun depan. Dan jika sukses maka Rusia akan tampil di puncak turnamen pada 2022 dengan bendera netral. FIFA sendiri masih dalam diskusi dengan WADA terkait klarifikasi mengenai implikasi larangan tadi.

Picu kritik luas.

Kemungkinan regulasi tanpa negara atau berbendera netral juga diberlakukan bagi 30 atlet Rusia untuk berkompetisi di Kejuaraan Atletik Dunia dengan status “atlet netral resmi”. Kebijakan ini mengundang kritik dari sejumlah pihak karena membuat putusan terkesan “fleksibel”.

Rusia dilarang ikut serta di even olahraga sejak 2015 dengan tudingan  program doping yang disponsori negara. Keputusan WADA juga mencoreng Rusia yang a terpaksa bersaing sebagai tim netral empat tahun setelah menjadi tuan rumah Piala Dunia di mana tim Beruang Merah mencapai perempat final.

Sebagai tim netral timnas Rusia  tak diizinkan menggunakan lagu kebangsaan ataupun bendera nasional selama Piala Dunia Qatar 2022. Tidak akan ada batasan sama sekali selama proses kualifikasi, karena even ini  dianggap sebagai turnamen regional yang dijalankan  UEFA.

Vice president WADA, Linda Helleland.

Rusia juga berharap bisa  bersaing di ajang Euro 2020 dengan masuknya St. Petersburg sebagai satu dari 12 kota tuan rumah  turnamen pan-Eropa pertama.

Keputusan berupa larangan empat tahun bagi Rusia mendapat dukungan penuh dalam pertemuan komite eksekutif WADA Rusia di Lausanne, Swiss, Senin lalu. Namun  anomali berupa kemungkinan atlet yang mampu membuktikan diri bebas  skandal doping untuk bersaing di Olimpiade Tokyo dengan bendera netral mendapat kritikan secara luas.

Putusan tadi menyusul keputusan lainnya pada bulan September ketika Badan Anti Doping Rusia (RUSADA) dipastikan tak terlibat dalam manipulasi data laboratorium tes obat yang diserahkan kepada penyelidik WADA pada Januari 2019.

Aleksander Lesun, atlet pentathlon  Rusia.

Komite Olimpiade Internasional dan Komite Paralimpik Internasional pun menanggapinya dengan menyatakan atlet Rusia akan bersaing sebagai peserta netral di Tokyo tahun depan.

RUSADA mendapat waktu 21 hari untuk mengajukan banding atas larangan  yang akan disidangkan oleh Pengadilan Arbitrase untuk Olahraga ini. Namun wakil presiden WADA Linda Helleland mengatakan para atlet dan tim nasional Rusia masih mungkin berkompetisi.

Sebelumnya sebanyak 168 atlet Rusia berkompetisi di bawah bendera netral di Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang setelah dilarang mengikuti Olimpiade 2014. "Saya ingin sanksi yang tidak dapat dipermudah," kata Helleland. "Kami berutang kepada atlet yang bersih dari doping untuk menerapkan sanksi sekuat mungkin."

Timnas Rusia tetap bisa berpartisipasi di ajang PD.

Sedangkan Travis Tygart, kepala eksekutif Badan Anti-Doping Amerika Serikat yang menjadi sosok di balik larangan kepada mantan pelatih Mo Farah Alberto Salazar karena pelanggaran doping awal tahun ini mengatakan keputusan WADA membuktikan  sistem yang  cacat dan menyerukan larangan total bagi atlet Rusia.

"Memberi ruang kemungkinan bagi Rusia untuk lolos dari larangan total menyakiti para atlet yang bersih dari doping juga integritas olahraga dan supremasi hukum," katanya. Ia juga menegaskan pentingnya reformasi saat ini.

Presiden WADA  Craig Reedie.

Whistleblower Grigory Rodchenkov, mantan pejabat anti-doping Rusia yang melarikan diri ke Amerika Serikat setelah tuduhannya tentang program doping yang disponsori negara dalam sebuah pernyataan menyatakan,  "Akhirnya, penipuan, kebohongan, dan pemalsuan dalam proporsi yang tak terkatakan mendapat hukuman penuh.”

Ia menambahkan hukuman juga pantas diterima oleh semua yang  terlibat  seperti atlet trek dan lapangan, angkat besi, ski hingga biathlon dengan hukum yang berlaku surut. Grigory pun mendorong evaluasi ulang hasil Olimpiade London dan Soch.

Menanggapi ini Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev menyebut vonis kali ini merupakan bentuk histeria anti-Rusia dan RUSADA kabarnya berencana mengajukan banding.


Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA