Gegara Covid-18, Idulftri Tahun Ini Gamelan Sekaten Tidak Ditabuh

Seni & Budaya

Minggu, 17 Mei 2020 | 15:07 WIB

200517151410-gegar.jpg

TIDAK seperti biasanya pada Lebaran (1441 H) tahun ini, Gamelan Sekaten tidak dibunyikan (ditabuh). Hal ini lantaran mewabahnya Covid-19 dan untuk menghindari kerumunan warga.

Menurut Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA Arief Natadiningrat, tidak ditabuhnya Gamelan Sekaten karena masih pandemi Covid-19.

"Jika ditabuh, dipastikan akan mengundang kerumunan warga. Ini yang kita hindari," ujar Sultan Sepuh, Ahad (17/5/2020).

Gamelan Sekaten ini terang Sultan Sepuuh, sudah berusia 600 tahun lebih. Gamelan Sekaten ini digunakan oleh Sunan Gunung Jati dalam syiar islam di wilayah Jawa bagian Barat, khususnya di wilayah Cirebon.

"Pada masa itu, Gamelan Sekaten dibunyikan di Alun-Alun dan di dengarkan oleh masyarakat. Masyarakat yang mendengarkan konser gamelan ini harus membayar. Tapi membayarnya tidak dengan uang, membayarnya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat atau syahadatain, Ashaduallah ila ha ilallah Wa ashahadu anna muhammadarasulallah," terang Sultan Sepuh.

"Makanya, gamelan ini disebut gamelan sekaten yang berasal dari kata syahadatain," tambahnya.

Saat ini Gamelan Sekatrn dibunyikan (ditabuh) setahun dua kali dalam setahun, yakni pada waktu Idulfitri dan iduladha. Gamelan Sekaten ditabuh di Siti Inggil Keraton Kasepuhan oleh ketabat keraton.

"Namun untuk tahun ini, Gamelan Sekaten ditabuh karena adanya wabah Covid19," tandasnya.

Pada kesempatan itu, Sultan Sepuh menyebutkan, dimasa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) akibat pandemi Covid-19, Keraton Kasepuhan menyesuaikan dengan kebijakan pemerintah dan kondisi yang ada dalam kegiatan dan tradisi.

"Untuk itu pelakaanaan salat Idulfitri di Masjid Agung Sang Cipta Rasa ditiadakan," tegas Sultan Sepuh.

Sedangkan salat Idulfitri di Langgar Agung diadakan (diselenggarakan) mulai jam 6 pagi WIB, namun pada pelaksanaannya harus memenuhi protokol kesehatan, jaga jarak, pakai masker, dan lain lain. Selain itu batas jalan, bagian barat untuk jamaah pria, bagian timur jamaah wanita dan para jamaah id harus membawa sajadah masing-masing.

"Di dalam Langgar Agung tempat terbatas harap tidak boleh rapat dan jaga jarak, telah disiapkan tempat untuk sultan, keluarga, dan wargi keraton," katanya.

Sedangka untuk penghulu, kaum, BPKK harap menyiapkan diri masing masing, mengatur dan mengkoordinasikan dengan baik. Selain itu disiapkan pula fCis dan dupa.

"Usai salat idulfitri tidak ada salam-salaman atau bersentuhan dan tetap jaga jarak," tandasnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA