Engelina Sihotang dan Salsa Gita Bornifa Jadi Pemenang Lomba Menulis Puisi MSB

Seni & Budaya

Selasa, 21 April 2020 | 08:01 WIB

200421064539-engel.jpg

Engelina Sihotang

SALSA Gita Bornifa (SMA Lembang) dan Engelina Sihotang (SMAN Majalaya) menjadi pemenang lomba menulis puisi tingkta SMA se Bandung Raya yang digelar oleh Majelis Sastra Bandung, Selasa (21/4/2020).

Salsa dengan judul puisi "Suara di Sini". Sedangkan Engelina dengan judul "Covid 19".

Menurut salah satu juri, Ratna M Rochiman, lomba ini semua akan berakhir pada 24 April. Namun dimajukan menjadi 20 April. Ada sebanyak 60 naskah yang masuk. Namun hanya 36 pusi yang bisa dinilai.

"Keduanya berhak mendapatkan uang masing-masing sebesar Rp200.000 dan sejumlah buku sastra," kata Ratna dalam rilis yang diterima galamedianews, Sealsa (21/4/2020).

Menurut Ratna, seharusnya ada pemenang ketiga yang mendapatkan uang Rp100.000. Tapi Karena juri tidak mendapatkannya maka, pemenang ketiga bisa mendapatkan sejumlah buku sastra. Pemenang tersebut yaitu Salma salwa hafidz (SMAN Majalaya) dengan judul puisi "Datangnya Pilu".

"Semua puisi akan Saya bukukan lalu dikirim ke WHO," ujarnya.

Suara di Sini
(Salsa Gita Bornifa Then - XI - SMAN 1 Lembang)

Ruh terpatri kembali pada tubuh.
Hembusan nafas terasa memburu
Tuhan ternyata masih beri kesempatan
Untuk terbangun kemudian.
Lantas bagaimana dengan tindakan?
Senyum kali ini, merobek bibir.

Hari-hari terlewati dengan mengunci diri,
Tak ada pertemuan, tiada perjamuan.
Tapi ada bahagia di pojokan hati,
Diam-diam, ia berusaha mengambil alih
Keseluruhannya, dari hati.
Senyum hari ini, merobek bibir.

Di luar, jalanan sepi.
Hanya gemuruh kendaraan,
Atau kicauan berita yang tak karuan.
Orang-orang ikut mengunci diri juga.
Tidak menarik lagi membahas penyakit,
Orang-orang sibuk menjadi penyair,
Membahas syair, musik, nyanyian,
Lalu hal-hal yang tak begitu penting.

Aku terkekeh geli melihatnya.
Kadang aku ikut-ikutan hal itu,
Mungkin dipaksa atau terpaksa.
Tawaku meledak tak kendali kemudian.
Bibirku robek oleh tawa kali ini.

Kini seluruh rumah peribadatan sepi.
Tak ada yang berani lagi,
Mungkin cukup manusiawi.
Tuhan mungkin mengerti,
Bahwasanya manusia hendaknya berdiam
Atau berdoa dalam heningnya
Sambil mengingat Tuhannya.

Aku terkekeh lagi,
Kali ini hatiku tergelitik.
Betapa lucunya manusia yang berdoa
Tapi tujuan mereka untuk dunia.

Senyum dan tawa berhasil merobek bibirku yang kian menipis dalam menyebut nama-Mu, Tuhanku.

(Lembang, April 2020)

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA