Jaga Kelestarian Seni Calung Lewat Pasanggiri Calung Kreasi

Seni & Budaya

Rabu, 4 Desember 2019 | 15:59 WIB

191204155823-jaga-.jpg

edy kusnaedi

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Tantan Surya Santana (kedua kanan) secara resmi membuka Pasanggiri Calung Kreasi ke-4 Tahun 2019 se-Bandung Raya, di Teras Sunda Cibiru, Rabu (4/12/2019).

DALAM rangka menjaga kelestarian kesenian calung, Paguyuban Calung Kota Bandung menyelenggarakan Pasanggiri Calung Kreasi Ke-4 2019 se-Bandung Raya, di Teras Sunda Cibiru (TSC), Rabu (4/12/2019). Dalam pelaksanaannya, Paguyuban Calung menggandeng Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung.

Ketua penyelenggara, Wawan Supriadi mengungkapkan, acara tersebut diikuti oleh sebanyak 17 grup calung. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan upaya pelestarian seni tradisi sesuai Perda No. 5 Tahun 2012 tentang Pelestarian Seni Tradisional.

"Dari 26 grup yang intens berkomunikasi, hanya 17 yang ikut serta dalam panggiri ini. Bukan hal yang mudah untuk mengumpulkan grup calung yang terdaftar di Kota Bandung yang tercatat kurang lebih ada 33 grup," ujar Wawan.

Menurut Wawan, kegiatan tersebut diharapkan dapat membangkitkan lagi seni calung yang sekarang mulai redup. Dengan begitu, seni calung ini tidak menjadi punah.

"Saya optimistis kesenian calung baik tradisi maupun kreasi masih mampu bertahan di era milenial dengan sering digelarnya kegiatan seperti ini," ujar Wawan.

Kepala Seksi Pengembangan Produk Budaya dan Kesenian Disbudpar Kota Bandung, Titin Kuswiatin mengungkapkan, seni calung saat ini sudah kurang diminati. Oleh karena itu kegiatan tersebut diselenggarakan selain upaya pelestarian budaya juga untuk mempopulerkan lagi kesenian calung.

"Kesenian calung ini kita jaga jangan sampai punah. Salah satu program yang kami laksanakan salah satunya Tradisional Art Goes to School, dengan menampilkan keseian tradisional salah satunya calung di sekolah-sekolah," tuturnya.

Menurut Titin, salah satu upaya agar calung bisa diminati oleh generasi muda, perlu melakukan inovasi-inovasi dalam setiap tampilannya, baik itu dari musikalitas, lawakan ataupun dari segi penampilan atau kostum.

"Perlu inovasi dari setiap penampilan grup calung, baik itu dari musikalitas maupun kostum. Tapi tentunya tanpa meninggalkan pakem yang sudah ada, supaya bisa lebih menarik lagi," ujar Titin.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Tantan Surya Santana mengungkapkan, di era milenial ini kesenian tradisional semakin kurang diminati generasi muda. Namun para pelaku seni harus tetap optimis dan terus melakukan inovasi sehingga kesenian calung ini bisa terus dipertahankan dan diminati generasi muda.

"Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, terus mendorong pelaku seni tradisi dalam upaya pelestarian serta implementasi Perda No. 5 Tahun 2012 tentang Pelestarian Seni Tradisional serta Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan," jelas Tantan.

Tantan merasa yakin kesenian calung akan tetap eksis dan berkembang seperti yang pernah dilakukan Darso. Namun catatannya, seniman calung terus berkreasi dan berinovasi dalam setiap tampilannya.

"Saya yakin kesenian calung akan tetap eksis dan diterima generasi sekarang, sebagaimana yang pernah dilakukan Darso. Bahkan bila berkreasi terus menerus bukan tidak mungkin calung bisa mendunia," pungkasnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA