Ratusan Kendangers Bakal Getarkan Taman Budaya

Seni & Budaya

Jumat, 22 November 2019 | 15:51 WIB

191122155320-ratus.jpg

Kiki Kurnia


TIDAK kurang dari 300 kendangers (pemain kendang) dari berbagai daerah di Jabar bakal meramaikan Padungdung to Unesco di Teater Terbuka Taman Budaya Jabar, Sabtu (23/11/2019) mulai pukul 19.00 WIB - selesai. Acara tersebut merupakan peringatan 2th Kendangers Community Jabar - Indonesia.

Selain 300 kendangers, akan tampil pula pentolan drummers Krakatau, Gilang Ramadhan yang berkolaborasi dengan Idea' Percusion Bandung. "Akan tampil pula sejumlah seniman Jabar yang basic-nya sebagai pemain kendang, seperti Ohang, Kodel, Ade Rudiana dan sebagainya," ungkap panitia penyelenggara, Ipo pada wartawan di Bandung, Jumat (22/11/2019).

Dikatakannya, 300 kendangers tersebut akan memainkan kendang secara medley mulai tepakan kendang gaya Karawang, Bekasi, Subang, Bandung hingga Tasikmalaya.

Pada pementasan kali ini, tambah Ipo, pihaknya telah mempersiapkan sebuah karya, yakni satu lagu akan dimainkan dalam tiga genre kendang dengan berbagai pola tepak kendang.

"Misalkan lagu Es Lilin akan dibawakan dalam tiga wanda (gaya pola tepakan kendang) yakni dengan pola tepak jaipongan, Cirebonan dan penca silat," tambahnya.

"Bisa saja lagu gaya kaleran yakni Walet dimainkan dalam tepak penca silat, tepak tayuban Cirebon maupun tepak jaipongan," sambungnya.

Ipo juga menyebutkan, dalam pola tepak jaipongan, ada pola tepak Jugala dan Kaleran ( Bajidoran). Khusus untuk pola tepak Jugala sudah kurang dikenal oleh para kendangers apalagi oleh masyarakat generasi muda. "Saat ini, tepak jaipongan sudah terkontaminasi oleh gaya kaleran (Bajidoran)," katanya.

Sementara panitia lainnya, Riko menyebutkan, acara ini sebagai titik awal untuk menuju "Padundung to Unesco". Pasalnya, banyak seniman kendang asal Jabar yang melanglangbuana ke berbagai negara untuk mengajarkan seni kendang.

"Kita golnya bagaimana kendang ini diakui oleh Unesco sebagai warisan budaya tak benda asal Jabar,"  katanya.

Ia sangat optimis hal tersebut bisa terwujud. Pasalnya selain sudah menyebar ke berbagai negara, pola tepakan kendang Sunda ini sudah masuk ke tanah musik di tanah air termasuk seni tradisionalnya, seperti campursari, koplo, dangdut, dan sebagainya.

"Bahkan di Bali seni Joged Bung Bung yang menggunakan pola tepak Sunda banyak diburu wisatawan termasuk turis. Begitu pula dengan seni wayang kulit di Jateng, apabila pemain kendangnya mampu dan mahir memainkan pola tepak kendang Sunda akan sangat laku. Jadi para kendangers Sunda ini ibarat berlian yang banyak diburu, " jelasnya.

Sebelumnya Kendangers Community Jabar - Indonesia pernah menciptakan rekor ORI pada 2018 lalu dengan menampilkan17 genre kendang, 17 kedangers wanita, 17 kedangers cilik dan 170 kendangers pria. "Tahun ini tidak ada pemecahan rekor, tapi lebih konsolidasi ke dalam komunitas untuk menuju Padungdung to Unesco," tambahnya.

Sementara itu, praktisi sekaligus akademisi kendang, Ade Rudiana menantang para kendangers untuk menciptakan rythem dan menamakan beat kendang (rythem), seperti kendang mincid. Yang ada selama ini baru pola tepak jaipongan Jugala dan Bajidoran.

"Sedangkan jaipongan maupun bajidoran adalah sebuah tarian, bukan nama sebuah rythem atau pola beat (ketukan) kendang. Ini yang menjadi pekerjaan rumah besar bagi para kendangers," katanya.

Ade pun tidak mau pemain kendang disebut tukang kendang, layaknya tukang dagang atau tukang lainnya. Menurut Ade, untuk menjadi seorang pemain kendang (kendangers) harus menempuh pendidikan terlebih dahulu baik formal maupun informal.

"Bagaimana mau naik kendang Sunda ini, jika pemainnya saja disebut tukang. Yang bisa menaikkan harkat derajat kendang lebih tinggi, ya bergantung pada kendangersnya itu sendiri," jelasnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA