Kabupaten Cianjur Raih Piala Pangyuga Utama Tembang Sunda Cianjuran XXII Damas

Seni & Budaya

Senin, 18 November 2019 | 21:36 WIB

191118213526-kabup.jpeg

WHATSAPP


KABUPATEN Cianjur berhasil meraih piala Pangyuga Utama sebagai supremasi tertinggi pada Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran XXII Daya Mahasiswa Sunda 2019. Sebagai tempat lahirnya Tembang Sunda Cianjuran, kabupaten penghasil tauco ini berhasil mengalahkan sejumlah daerah yang sering meraih juara,

Berdasarkan rilis dari daya mahasiswa Sunda (Damas) yang diterima, Senin (18/11/2019), untuk piala Nyi Mas Saodah diraih Fuji Mukhariman asal Kabupaten Garut, Piala Ir. Arifin Yoeseof diraih Arif Budiman (Cianjur), dan piala Euis Komarioah dirah Eli Sulastri (Bandung Barat).

Sejumlah pinunjul (juara) dihasilkan pada Pasanggiri Tembang Cianjuran tingkat Jabar Damas 2019 yang berakhir Minggu (17/11/2019) kemarin di Hotel Delamar Palasari Kabupaten Cianjur. Penutupan dan penyerahan piala kejuaraan langsung dilakukan Bupati Cianjur, Herman Suherman.

Herman menyebutkan, tembang Sunda Cianjuran di wilayah Jabar sedang mengalami kemunduran, terutama di wilayah Kabupaten Cianjur. Hal ini dikarenakan bermunculan budaya negara lain yang masuk tanpa filter terhadap kalangan generasi muda.
"Ada rasa khawatir budaya tradisional Sunda akan semakin hilang kalau tidak segera diperhatikan dan dikembangkan oleh kita semua," ujar bupati.

Oleh karena itu, kata Herman, dirinya sebagai Bupati Cianjur, mempunyau tanggungjawab yang cukup besar mengembangkan dan memeliharan tembang Sunda Cianjura yang yang lahir dari Cianjur. Menurutnya, ada beberapa langkah untuk memeliharan tembang Sunda Cianjuran, seperti menetaokan tembang Sunda (mamaos) Cianjuran menjadi muatan lokal di sekolah-sekolah di Kabupaten Canjur.

"Yang kedua, saya akan perintahkan agar kecapi terus ngajentreng di Taman Pancaniti belakang Pendopo Cianjur. Saat ini taman tengan direnovasi dan In sha Allah akan genh tumaninah untuk melantunkan tembang Sunda Cianjura," tambahnya.

Sedangkan untuk yang ketiga, Herman bertekad tembang Sunda Cianjura menjadi kebanggaan masyarakat Sunda (Jabar), yang golnya menjadi warisan budaya dunia. "Kita akan ajukan tembang Sunda Cianjuran bisa dicatat dan diakui sebagai warisan budaya tak benda atau world heritage oleh Unesco. Untuk mencapai hal ini perlu dukungan semua pihak, saya mendukung dan menunggu dorongannya," terangnya.

Sebelumnya ada sekitar 50 peserta yang tampil dalam pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran DAMAS XXII tahun 2019. Pasanggiri ini diselenggarakan demi melestarikan salah satu ciri keluhuran rasa dan karsa masyarakat Sunda yakni Seni Tembang Sunda Cianjuran. Namun sayang dalam pembukaan, piala Emas Sinilih Pancaniti yang menjadi kebanggaan bagi para peserta pasanggiri tiba-tiba saja diambil paksa oleh seorang seniman yang mengaku sebagai pupuhu Yayasan Pancaniti. Ia beranggapan, bahwa Piala emas Silih Pancaniti adalah hak Yayasan Pancaniti.

Pada pasanggiri tembang Sunda Cianjuran ini, ada beberapa kategori kejuaraan, yakni wawandaan, pameget, dan istri.
Untuk kategori wawandaan, juara wanda dedegungan diraih Gilang Angga Gumelar (Garut), wanda Rarancangan diraih Fuji Mina Karlina, wanda Jejempalangan dan Papantunan diraih Airf Budiman (Cianjur), wanda Kakawen diraih Taofik Mukhariman (Garut), wanda Panambih diraih Eli Sulastri (Bandung Barat).


Sementara untu kategori pameget (laki-laki)
Juara pertama diraih Taofik Mukhariman (Garut), juara dua Arif Budiman (Cianjur), juara tiga Gilang Angga Gumelar (Garut), harapan satu M Raudia Sukma (Garut), dan harapan dua Heryan Rossi Priraga (Sumedang).


Golongan istri (perempuan)
juara pertama Fuji Mina Karlina (Garut), juara dua Sri Ningsih (Cianjur), juara tiga Fadila Nur Asifah (Bandung), harapan satu Eli Sulastri (Bandung Barat), dan harapan dua Rika Dwi Prajani (Cianjur).

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA