Budayawan Jabar-Jateng Deklarasikan Akulturasi Budaya di Banjar

Seni & Budaya

Minggu, 10 November 2019 | 21:45 WIB

191110214705-buday.jpg

Agus Supriyatman


DEWAN Kebudayaan Kota Banjar (DKKB) mempertemukan dua budaya yang berbeda, Sunda dan Jawa, yang selama ini hidup berdampingan dalam satu kerangka daerah.

Kedua budaya tersebut dipertemukan dalam sebuah pertunjukan Gelar Karya Budaya yang mengusung tema "Akulturasi Budaya Perbatasan Sunda-Jawa", di areal persawahan, Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat, Minggu (10/11/2019) malam.

Wakil Ketua DKKB, Syarif Hidayat menerangkan, penyatuan dua budaya ini sudah masuk pada 7 Agenda Strategi Kebudayaan Kota Banjar sebagai pedoman kinerja DKKB. Menurutnya, sebagai wilayah dengan nilai keunikan tersendiri, Banjar harus memiliki budaya yang menjunjung tinggi nilai perdamaian.

Selama ini, ujarnya, terjadi dogma di masyarakat bahwa Sunda dan Jawa tidak dapat dipersatukan akibat ada dendam lama yang tak kunjung sembuh yaitu dampak peristiwa perang bubat antara Galuh dan Majapahit.

Namun, di Banjar sendiri dogma konflik itu tidak ada. Masyarakat Sunda-Jawa semua berbaur menyatu dan menghasilkan budaya yang baru telah terjadi sejak lama.

"Kami mencoba melakukan rekonstruksi perdamaian abadi yang terjadi di Kota Banjar. Dengan cara menghadirkan tokoh budaya dari Sunda dan Jawa untuk berkomitmen perdamaian abadi di Kota Banjar," ungkap dia.

Lebih lanjut Syarif menegaskan, secara geografis Banjar merupakan daerah perbatasan dua provinsi. Secara antropologi pun hidup dalam akulturasi budaya.

"Maka, perlu kiranya kami DKKB mendorong terciptanya ekosistem dan iklim kebudayaan yang mengakomodir dua budaya tersebut. Melalui gelar karya budaya yang dihadiri oleh Budayawan Cirebon, Galuh dan Yogyakarta ini, kami inginkan sampaikan Jabar juara dalam budayanya. Dengan adanya akulturasi budaya ini merupakan nilai luhung yang harus terus ditanamkan semua lapisan masyarakat," paparnya.

Wakil Wali Kota Banjar, H. Nana Suryana mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Dewan Kebudayaan Kota Banjar (DKKB). Bagi dia dengan adanya DKKB akan sangat membantu visi misi Banjar juga Jawa Barat.

"Kami memiliki visi misi mengembangkan Banjar menjadi daya tarik. Melalui Dewan Kebudayaan ini adalah pintu gerbang Banjar menuju perwujudan daya tarik sehingga masyarakat akan mandiri dalam perekonomiannya," jelas dia.

Nana berpesan, Dewan Kebudayaan harus tetap solid meski terdapat dinamika di dalam organisasi. Bagi dia, menjadi pengurus Dewan Kebudayaan bukan hanya para seniman saja melainkan orang-orang yang memiliki visi dan semangat yang sama dalam membangun daerah Banjar.

Nana memberikan motivasi kepada Ketua Harian DKKB untuk tidak patah semangat, tetap berkarya dan terus memberikan terobosan baik demi pemajuan kebudayaan. Meskipun dalam perjalananannya akan terdapat dinamika.

"Saya menginginkan Gelar Karya Budaya ini harus dilanjutkan terus. Dan bahkan saya menginginkan Gelar Karya Budaya ini dilaksanakan dengan tingkat peserta se-Jawa Barat. Ini harus kita bicarakan bersama-sama," tuturnya.

Gelar Karya Budaya tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Festival Rakyat Langensari (Viral) II yang digelar oleh Pokdarwis, Genpi dan bekerja sama dengan Dewan Kebudayaan Kota Banjar. Seniman Jabar dan Jawa Tengah hadir untuk mendeklarasikan akulturasi budaya di Kota Banjar.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA