Kisah Warga Cianjur di Ohio AS, Puasa Saat Pandemi Ternyata Tak Sulit

Ramadan

Rabu, 20 Mei 2020 | 05:40 WIB

200520054152-kisah.jpg

ist

RAMADAN kali ini berbeda dengan sebelumnya. Pasalnya, di tengah pandemi corona, semua kegiatan di luar rumah saat ini dihindari, termasuk beribadah. Kegiatan beribadah kali ini pun menjadi lebih personal.

Hal ini dirasakan WNI asal Cianjur, Ihsan Nur Iman Faris, yang saat ini berada di Ohio, AS, mengikuti  Program Fulbright-Badan Bahasa Foreign Language Teaching Assistant (FLTA). Melalui program tersebut, Ihsan mendapatkan kesempatan mengajar Bahasa Indonesia di Ohio University.

Ihsan yang juga pengajar di Balai Bahasa UPI Bandung, menuturkan bahwa dirinya bukan kali pertama  datang ke Amerika Serikat. Pada tahun 2016 lalu, dia pernah mengikuti program Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) yang diadakan oleh Departemen Luar Negeri AS dan Kedutaan Besar AS di Indonesia.

Walaupun sebelumnya pernah pergi ke AS, ini adalah pengalaman Ramadan pertama Ihsan puasa di Negeri Paman Sam.

Kunjungan ke AS kali ini, lanjut Ihsan, merupakan bagian dari beasiswa Fulbright-Badan Bahasa Foreign Language Teaching Assistant (FLTA), sebuah program yang disponsori pemerintah AS-Indonesia untuk mengajar Bahasa Indonesia di Univesitas di AS.  Saat ini dia mengajar bahasa Indonesia di Ohio University.

Ohio University terletak di kota Athens, sebuah kota kecil yang berada di barat daya negara bagian Ohio. Kota kecil ini jauh dari hiruk-pikuk kehidupan perkotaan. Sangat bertolak belakang dengan kota besar seperti New York City atau Los Angeles.

Selama dua semester mengajar bahasa Indonesia dan belajar di program studi Asia, saya tinggal di apartemen bersama dua orang Amerika dan satu orang Venezuela.Negara bagian Ohio yang masuk dalam wilayah Midwest, mengalami empat musim selama satu tahun.
Berbeda dengan Indonesia yang lama siang dan malamnya relatif sama sepanjang tahun, durasi siang dan malam di Amerika berbeda-beda tergantung musim. Artinya, lama berpuasa tiap tahunnya akan berbeda pula. Tahun ini, bulan puasa di Amerika jatuh pada musim semi.

Waktu subuh di musim semi di kota Athens adalah pukul 05:15, sedangkan mahatari terbenam pada pukul 20:30. Jadi, umat Muslim di Athens berpuasa selama lebih dari 15 jam atau 2 jam lebih lama dari waktu berpuasa di Indonesia.

Untuk mengetahui kapan tepatnya waktu sahur dan berbuka puasa, Ihsan mengandalkan aplikasi ponsel dan website Muslim Students’ Association at Ohio University (MSA) yang tiap hari menginformasikan waktu sholat termutakhir.

"Saya makan sahur dan berbuka sendiri, sambil sesekali menelepon keluarga yang berada di Cianjur, Jawa Barat. Tentu saja kami tidak bisa sahur dan berbuka di waktu yang sama karena perbedaan waktu 11 jam antara Eastern Standard Time (EST) dengan Waktu Indonesia Barat (WIB). Jadi, ketika keluarga saya di Indonesia sedang siap-siap berbuka, saya masih santap sahur," kata Ihsan seperti dikutip wartawan PR, Huminca Sinaga, Selasa (19/5/2020).

Bahan makanan, lanjut Ihsan, selama pandemi ini masih bisa dibeli di pasar swalayan yang masih diizinkan buka karena dianggap bisnis esensial.

Bagi Ihsan, puasa tahun ini tidak ada menu spesial seperti biasanya Ramadan di kampung halamannya di Cianjur.

"Jika bosan dengan masakan sendiri, sesekali saya membeli makanan di restoran yang hanya melayani pembelian dibungkus atau diantar ke tempat. Saya terbilang jarang makan di luar karena biaya yang dikeluarkan jauh lebih tinggi dibandingkan biaya memasak sendiri.  Saya biasanya membeli makanan di restoran bernama Fusion. Restoran ini menjual berbagai masakan Asia seperti nasi goreng dan pad Thai," ujar peraih beasiswa dari pemerintah AS tersebut.

Tidak sulit
Berpuasa di Amerika Serikat secara umum, kata Ihsan, tidaklah sulit.

"Dalam situasi normal, orang-orang di kampus akan sangat menghargai pilihan kita untuk tidak makan dan minum. Bayangan saya, mereka bahkan akan membuka dapur umum dan memberikan makanan gratis seperti yang biasa dilakukan sehari-hari jika tidak ada pandemi Covid-19," tuturnya,

"Teman-teman di apartemen saya pun sangat menghormati pilihan saya untuk berpuasa. Mereka bahkan menyesuaikan menu makanan untuk saya yang seorang Muslim ketika mengundang makan malam bersama," imbuhnya.

Menurut Ihsan, hal tersebut menunjukkan sikap toleransi antar agama.

Untuk kegiatan keagamaan, ratusan mahasiswa Muslim yang tergabung dalam Muslim Students’ Association at Ohio University (MSA) biasanya mengadakan acara pengajian dan makan malam bersama setiap Jumat. Di luar bulan Ramadan MSA rutin mengadakan kegiatan sosial dan keagamaan setiap minggunya.

"Jika tidak ada pandemi Covid-19, saya yakin MSA akan mengadakan kegiataan yang lebih besar lagi untuk Muslim yang sedang berpuasa".

Pandemi Covid-19 ini, lanjut Ihsan, membuat Ramadan yang biasanya meriah menjadi sangat sunyi dan sepi.

"Jangankan berbahagia berbuka bersama ketika waktu maghrib tiba, mendengarkan adzan yang dikumandangkan hanya di dalam masjid saja tidak bisa," tuturnya.

Meskipun demikian, pengajar di Balai Bahasa UPI itu tetap bersyukur bisa mengalami bulan Ramadan di Amerika Serikat.
"Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa Islam itu universal, bisa dipraktikkan di konteks budaya barat bahkan saat pandemi sekalipun. Bulan puasa tahun ini juga mengajarkan saya kalau Ramadan di Indonesia yang selalu saya lewati sebelumnya itu spesial. Kegiatan ibadah Ramadan di Indonesia adalah aktivitas sosial yang mendorong kebersamaan, bukan hanya kegiatan personal yang dilakukan oleh perseorangan," kata Ihsan.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA