Gawai Berpengaruh Negatif Terhadap Perkembangan Kejiwaan Anak

Ragam

Selasa, 14 Januari 2020 | 06:58 WIB

200114070406-gawai.jpg

TEKNOLOGI kini berkembang begitu cepat. Gawai, termasuk ponsel, begitu mudah diperoleh dan seakan sudah menjadi barang primer yang siapa pun harus punya.

Tak sedikit masyarakat kita yang bahkan memiliki dua sampai tiga ponsel setiap orang. Perkembangan teknologi juga tentu berdampak pada anak-anak. Dewasa ini, tak sedikit anak-anak dan remaja yang harus dikonsultasikan kejiwaannya.

Hal tersebut akibat tingginya intensitas mereka bermain gawai. Kecanduan akibat kepuasan mereka bermain menjadi faktor kuat perubahan sikapnya menjadi lebih eksklusif, sering marah, hingga mudah berbohong demi keinginannya menatap layar itu terwujudkan.

Melihat fakta yang sudah sedemikian parahnya, hal itu menjadi sorotan dr Citra Fitri Agustina, seorang dokter spesialis kejiwaan, di Rumah Sakit Yarsi, Jakarta Pusat yang dikutif laman nu.or.id Rabu (13/11). Dokter lulusan Universitas Indonesia ini mengatakan, apa yang membuat anak-anak kecanduan main gawai.

Peristiwa adiksi internet itu menurutnya ada beragam. "Ada siberseksual, pertemanan dunia siber, online shopping, judi online, penelusuran informasi apa saja padahal ya mereka tidak butuh-butuh banget, hingga gim adiksi," katanya.

Kesenangan mereka yang terpuaskan melalui salah satu di antara itulah kata dia yang membuat mereka kecanduan, ingin melakukannya lagi dan lagi, terus-menerus. Kalau kecanduan Napza itu biasanya dengan menambah tablet karena satu dua tablet kurang ‘nendang’.

"Kalau adiksi gawai ini membuat orang semakin besar kebutuhannya akan informasi yang ingin diaksesnya atau gim yang dimainkannya," ujarnya.

Lalu apa dampak yang ditimbulkannya? Menurut dr Citra, ada gejala perubahan perilaku dari orang tersebut, seperti mudah marah, terbawa emosinya dengan apa yang ditontonnya, dan tidak mampu mengurangi waktu penggunaan ponselnya.

Bahkan, lanjutnya, anak juga dapat memulai bohong. Misalnya saja, si anak ini dilarang sama orang tuanya, lalu ia merajuk ke neneknya sembari berbohong demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Tidak hanya berakibat pada mental mereka, tetapi juga pada kondisi fisiknya dengan susah tidur, misalnya.
Karena, biasanya mereka tidak menghentikan permainannya atau tontonannya karena nanggung dan nerusin terus-terusan. Bahkan bagi orang dewasa, karena tidak sanggup menahan kecanduannya itu yang berakibat pada susah tidur, akhirnya bangunnya kesiangan, terlambat kerja, dan kehilangan pekerjaan.

Editor: Rosyad Abdullah

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA