Tidur Siang Lebih 90 Menit Berisiko Menderita Setroke 25% Lebih Tinggi

Ragam

Kamis, 12 Desember 2019 | 23:29 WIB

191212223145-tidur.jpg

BANYAK orang terbiasa tidur siang karena berbagai alasan. Tetapi, tidur siang justru bisa meningkatkan peluang menderita stroke.

Sebuah penelitian menemukan orang yang tidur siang lebih dari 90 menit berisiko menderita stroke 25 persen lebih tinggi.

Studi dari Cina yang meneliti sekitar 32 ribu orang dewasa sehat juga menemukan bahwa tidur malam selama 9 jam atau lebih juga meningkatkan risiko stroke. Bahkan risiko menderita stroke akibat tidur 9 jam atau lebih di malam hari mencapai sekitar 23 persen.

Para ilmuwan mengatakan orang yang menikmati tidur panjang atau tidur malam lama cenderung mengalami kolesterol tinggi maupun obesitas.

Peneliti DR Xiaomin Zhang dari Universitas Sains dan Teknologi Huazhong di Wuhan juga mengatakan tidur yang lama atau tidur panjang menunjukkan gaya hidup tidak aktif, yang terkait dengan peningkatan risiko stroke.


"Hasil ini menyoroti pentingnya tidur siang dan durasi tidur moderat serta kualitas tidur yang baik, terutama pada orang dewasa dan lebih tua," ujarnya dikutip dari The Sun dan suara.com, Kamis (12/12/2019).

Studi dalam jurnal Neurology juga menemukan tidur siang selama 90 menit meningkatkan risiko sebesar 8 persen dan 14 persen pada orang yang tidur malam lebih dari 9 jam .

Para ilmuwan menemukan orang yang tidur lama memiliki risiko terserang stroke 85 persen. Selain itu, mereka juga melaporkan memiliki kualitas tidur yang lebih rendah juga meningkatkan risiko sebesar 29 persen.

Stroke terjadi ketika suplai darah ke otak terputus, yang disebabkan oleh gumpalan darah atau perdarahan internal.

Setiap tahunnya sekitar 150 ribu orang di Inggris mengalami serangan stroke yang penyebab utamanya adalah kecacatan kompleks.

"Kami mengetahui bahwa durasi tidur dapat memengaruhi kesehatan jantung dan peredaran darah. Studi ini menunjukkan bahwa tidur untuk waktu lebih lama, kualitas tidur buruk dan tidur siang lama berkaitan dengan risiko stroke yang meningkat," jelas Barbara Kobson, perawat jantung di British Heart Foundation.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA