Sering Terlupakan, 4 Desember 1884, Hari Lahir Pahlawan Nasional Raden Dewi Sartika

Ragam

Rabu, 4 Desember 2019 | 09:43 WIB

191204094829-serin.jpeg

wa

NYI Raden Dewi Sartika lahir dari keluarga Sunda yang ternama, yaitu R. Rangga Somanegara dan R. A. Radjapermas di Cicalengka pada 4 Desember 1884. Ketika masih kanak-kanak, ia selalu bermain peran menjadi seorang guru ketika seusai sekolah bersama teman-temannya.

Setelah ayahnya meninggal, Dewi kecil tinggal bersama dengan pamannya. Ia menerima pendidikan yang sesuai dengan budaya Sunda oleh pamannya, meskipun sebelumnya ia sudah menerima pengetahuan mengenai budaya barat.

Pada 16 Januari 1904, Ibu Dewi (Dewei Sartika) membuat sekolah yang bernama Sakola Istri (dalam bahasa Sunda, istri berarti perempuan) dengan 3 orang guru : Dewi Sartika sendiri, dibantu 2 orang kerabatnya Nyi Poerwa dan Nyi Oewid. Muridnya mencapai 60 siswi yang kebanyakan dari rakyat biasa.
Sementara waktu mereka meminjam dua ruangan di Paseban Barat halaman depan rumah Bupati Bandung (Pendopo).

Tahun 1905, karena jumlah siswi semakin banyak, sekolah dipindah ke sebuah bangunan di Jalan Ciguriang (sekarang Jalan Kautaman Istri), yang dibeli Dewi Sartika dengan tabungan pribadinya dan sedikit bantuan pribadi dari Bupati Bandung.

Sekolah tersebut kemudian direlokasi ke Jalan Ciguriang dan berubah nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Istri pada tahun 1910.
Pada tahun 1912, sudah ada sembilan sekolah yang tersebar di seluruh Jawa Barat, lalu kemudian berkembang menjadi satu sekolah tiap kota maupun kabupaten pada tahun 1920.

Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan).
Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh.

Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan.

Bulan September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi "Sakola Raden Déwi".

Raden Dewi dianugerahi gelar Orde van Oranje-Nassau pada ulang tahun ke-35 Sekolah Kaoetamaan Istri sebagai penghargaan atas jasanya dalam memperjuangkan pendidikan.

Ia berusaha keras mendidik anak-anak gadis agar kelak bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik, bisa berdiri sendiri, luwes, dan terampil. Maka untuk itu, pelajaran yang berhubungan dengan pembinaan rumah tangga banyak diberikannya.

Untuk menutupi biaya operasional sekolah, ia membanting tulang mencari dana. Semua jerih payahnya itu tidak dirasakannya jadi beban, tapi berganti menjadi kepuasan batin karena telah berhasil mendidik kaumnya. Salah satu yang menambah semangatnya adalah dorongan dari berbagai pihak terutama dari Raden Kandoeroean Agah Soeriawinata, suaminya, yang telah banyak membantunya mewujudkan perjuangannya, baik tenaga maupun pemikiran.

Raden Dewi meninggal pada 11 September 1947 di Cineam ketika dalam masa perang kemerdekaan.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA