Usung Health Tourism, Dedi Taufik Ajak Warga Kunjungi Monju

Pariwisata

Jumat, 14 Februari 2020 | 15:17 WIB

200214152137-usung.jpg

Whatsapp

MENGUSUNG health tourism, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar menggelar senam bersama di pelataran Monimen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Senam bersama ini digelar setiap Jumat pagi yang diikuti seluruh karyawan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar juga masyarakat di sekitar monumen.

Kepala Dinas Pariwista dan Kebudayaan Jawa Barat, Dedi Taufik menyebutkan, kegiatan senam bersama upaya menghidupkan keberadaan museum (Monju) yang merupakan monumen perjuangan rakyat Jabar. Selain itu untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Monju.

"Di dalam monumen terdapat museum tentang perjuangan rakyat Jabar yang layak dikunjungi," ujar Desi Taufik disela-sela senam bersama, Junat (14/2/2020). Dikatakannya, are Monju sangat pas untuk digelar senam bersama atau kegiatan lainnya baik yang bersifat kebudayaan maupun pariwisata.

"Dan ini bisa dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat, asalkan ada pengajuan terlebih dahulu," tanbahnya. Menurut Dedi, pihaknya terus melakukan pembenahaan dan penataan lebih lanjut, agar museum tersebut lebih sehat dan layam dikunjungi.

Monju atau Monpera terletak di Jalan Dipati Ukur No. 48, Kota Bandung, tepatnya di Kelurahan Lebak Gede dan Sadang Serang, Kecamatan Coblong. Bentuk bangunannya berbentuk bambu runcing yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern.

Lokasinya berada di kawasan terbuka, bergaris bentang lurus antara Gedung Sate dan Lapangan Gasibu, dan di depan Kampus Universitas Padjadjaran (Unpad). Di bagian bawah bangunan monumen ini terdapat ruangan yang cukup besar  yang berfungsi sebagai Museum Sejarah Perjuangan Rakyat Jawa Barat.

Letak monumen yang diresmikan penggunaanya oleh Gubernur Jawa Barat, R. Nuriana pada 23 Agustus 1995 ini sangat strategis, karena berada dalam satu titik area kunjungan wisata sejarah, yaitu Museum Geologi Bandung, Museum Pos, dan Gedung Sate. Letaknya yang berdekatan itu memudahkan untuk dikunjungi dengan berjalan kaki.

Monumen yang sejak April 2010 dikelola oleh Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah dan Nilai Tradisional (BPKSNT), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat, menginformasikan peristiwa-peristiwa sejarah di wilayah Jawa Barat. Di antarnaya didesain dalam bentuk diorama dan relief kesejarahan Jawa Barat.

Bentuk monumen ini tidak tunggal, tetapi plural. Diwujudkan dalam lima unsur bentuk yang menjadi satu kesatuan harmonis (beungkeutan), yang satu sama lain hampir sama. Bentuk seperti ini memiliki makna yang berhubungan dengan kebudayaan Sunda yang tidak mengenal pusat (sentral), melainkan tersebar di berbagai tempat, memiliki sifat plural, dinamis dan demokratis.

Monumen ini juga pada hakikatnya merupakan karakter perjuangan rakyat Jawa Barat dari masa ke masa, yang mengandung nilai-nilai hakiki budaya dan perjuangan rakyatnya. Tiada perjuangan tanpa persatuan, jadi harus menjadi satu ikatan (hiji beungkeutan), tetapi untuk menjadi satu ikatan persatuan memerlukan perjuangan.

Singkatnya perjuangan untuk persatuan dan persatuan untuk perjuangan. Semua itu diwujudkan dalam desain bangunan yang luwes, plastis, tidak masif, melainkan teranyam, yang didesain oleh seorang arsitek dari Bandung, Slamet Wirasonjaya dan perupa Sunaryo.

Pada 2014 Monumen ini mendapat dana Tugas Pembantuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Direktora Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk revitalisasi. Ada beberapa bagian yang penting dari revitalisasi ini, yaitu mengenai koleksi, tata pamer, ruang audio visual, ruang pengelola (kantor), dan perbaikan beberapa bagian bangunan yang rusak, terutama lapisan kedap air di bawah tangga.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA