Masih Banyak Pengelola Objek Wisata yang Rakus Saat Fix Season

Pariwisata

Sabtu, 14 Desember 2019 | 20:40 WIB

191214204711-masih.jpg

MENJELANG fix season Libur Natal dan Tahun Baru 2020, sejumlah pengelola objek wisata, baik objek wisata alam maupun buatan di Jabar masih enggan berbagi pengunjung. Akibatnya, sering kali terjadi penumpukan wisatawan di objek wisata tertentu sehingga menimbulkan kemacetan.

"Saya masuh melihat sejumlah pengelola objek wisata, terutana yang sudah besar masih rakus terhadap kunjungan wisatawan," ungkap Kerua Riset Cekungan Bandung, T Bachtiar disela-sela sosialisasi Manajemen Krisis Kepariwisatan di Arya Duta Hotel Bandung, Sabtu (14/12/2019).

Menurut Bachtiar, seharusnya ada keberanian dari pengelola untuk menutup objek wisata sementara waktu jika pengunjung sudah over load. Tapi yang terjadi sekarang, para pengelola objek wisata malah berlomba-lomba terus menarik para pengunjung, sekalipun sudah oenuh sesak.

"Mereka baru memikirkan bagaimana bisa meraup keuntungan alias mgarawu ku siku, tapi kurang memperhatikan kenyamanan maupun keamanan para pengunjung," ujarnya.

T Bachtiar pun menyoroti aksesibilitas menuju objek wisata yang belum dikembangkan oleh pemerintah maupun pengelola. Menurut T Bachtiar aksesibilitas menuju ke objek wisata rata-rata masih satu akses, tidak jalan alternatif maupun, seperti papan peringatan, petunjuk alternatif atau alternatif objek wisata lain maupun akses keluar dari objek wisata.

*Kita sering lihat terjadi kemacetan panjang menuju ke salah satu objek wisata. Harusnya ada petunjuk ke arah objek wisata lainnya, sehingga wisatawam bisa disebar dan tidak menumpul disalah satu objek wisata," tambahnya.

Hal senada dikatakan, dosen Grografi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), DR. Nandi. Ia menyebutkan, di kawasan Bandung Utara banyak objek wisata alam dan buatan yang banyak menyedot pengunjung. Namun kata dia, bakk pemerintah maupun pengelola kurang bersinergi dalam penataam maupun pengelolaannya.

"Akibatnya terjadi kemacetan panjang dari Bandung ke Lembang. Jika hal ini dihiarkan terus menerus, akan terjadi bemcana besar. Bukan hanya bencana alam, tapi juga bencana sosial budaya terhadap masyarakatt sekitarnya. Bencana sosial budaya sulit ditangani dibanding bencana alam," terangnya.

Sementara itu, Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata dan kebudyaan Bandung Barat, David menyebutkan, sudah ada beberapa pengelola objek wisata yang tidak rakus lagi.

"Setelah diberi penjelasan dan sosialisasi, mereka mau berbagi pengunjung dan mau menutup objel wisata saat mengalami over load," katanya.

Dikatakannya, sebagian besar pengelola onjek wsiata di Bandunh Barat sudah memasang papan petunjuk, peringatan dan papan pengumuman untuk memberikan kenyamanan dan keamanan pada pengunjung.

Namun menurut Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Iwan Priatna menyebutkan, masih banyak pengelola objek wisata, khususnya wisata alam yang belum memasan papan petunkuk maupun papan peringatan untuk keamanan dan kenyamanan pengunjung. Ini dikarenakan kekurangpahaman para pengelola akan keselamatan dan kenyamanan pengunjung.

"Makanya kita gelar sosiaoisasi manajemen krisis kepariwisataan. Selain untuk sosialisasi, kegiatan ini juga untuk menerima masiukan dari stakeholder soal manajemen krisis kepariwisataan, agar bisa diaplikasikan tahun depan," ujarnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA