Jejak Wisata Belerang di Tangkubanparahu

Pariwisata

Minggu, 8 Desember 2019 | 20:42 WIB

191207214134-jejak.jpg

LEGENDA kehidupan Sangkuriang seakan-akan hidup pada saat mata memandang panorama Gunung Tangkubanparahu dari kejauhan. Gunung yang menyerupai sebuah perahu terbalik di kawasan Bandung Utara tersebut, sering dianggap masyarakat Jawa Barat sebagai lambang keangkaramurkaan Sangkuriang terhadap alam yang begitu cepat berganti.

Namun legenda yang terjadi tersebut berlangsung sudah cukup lama. Kini dengan wajahnya yang kadang-kadang samar tertutup kabut, akan nampak suasana lain saat mengunjungi gunung yang menyimpan kawah sangat indah di lerengnya tersebut. Siapa pun yang pernah mengunjungi Gunung Tangkubanparahu, akan menikmati suasana alam yang nyaman dan terasa berbeda dengan suasana kota Bandung sehari-hari.

Dalam banyak hal, memang Gunung Tangkubanparahu menyimpan potensi wisata alam sekaligus wisata pegunungan yang menawarkan nuansa berbeda. Nuansa berbeda ini sudah mulai nampak saat kita memasuki kawasan Lembang yang merupakan kaki dari Gunung Tangkubanparahu. Mulai dari kawasan kaki gunung ini akan terasa udara yang sejuk dan nyaman. Makin ke atas udara dingin akan terasa menusuk tulang.

Jika sudah tiba di puncak Gunung Tangkubanparahu, angin kencang terasa akan menerpa sekujur badan setiap pengunjung. Kencangnya angin yang menerpa tersebut, membuat badan terasa dingin dan kaku. Karenanya jika anda ingin berwisata ke Gunung Tangku­banparahu jangan lupa untuk membawa jaket atau sweater sebagai alat pelindung tubuh. Jika tidak, hampir dapat dipastikan kegia­tan wisata anda tidak akan terasa nyaman.

Dinginnya udara di puncak Gunung Tangkubanparahu ini dikarenakan hampir setiap hari suhu udara rata-rata di kawasan tersebut berkisar antara 7-29 derajat celcius, dengan kelembaban udara berkisar antara 45-95 persen. Wajar saja bila suhu udara di kawasan wisata Tangkubanparahu terasa dingin menusuk pori-pori dan tulang.

Selain itu dengan ketinggian 2.076 meter di atas permukaan laut, kawasan ini dipastikan akan menjadi incaran banyak orang yang membutuhkan udara segar. Suasana di Gunung Tangkubanparahu ini akan terasa jauh berbeda dengan suasana kota Bandung yang akhir-akhir terasa mulai menyengat.

                                                                                                                           Kawasan wisata belerang     

Karakteristik yang dimiliki Gunung Tangkubanparahu ini memang agak berbeda dengan gunung kebanyakan yang ada di Jawa Barat. Perbedaan yang sangat menonjol dari kawasan wisata Gunung Tangku­banparahu ini adalah bau belerangnya yang sangat khas dan menyen­gat hidung.

Memasuki kawasan wisata Gunung Tangkubanparahu yang memiliki 10 kawah tersebut, bau belerang sudah mulai terasa. Makin ke atas lagi hingga sampai ke puncak Gunung Tangkubanparahu, aroma belerang semakin tersebar ke mana-mana. Ke mana pun kita melang­kah, aroma belerang ini terasa menyengat indera penciuman kita.

Tak salah bila kemudian dikatakan, selain menawarkan wisata alam dan pegunungan yang begitu indah, Gunung Tangkubanparahu pun menawarkan wisata belerang yang terdapat di sejumlah kawah yang ada di gunung tersebut, seperti Kawah Ratu, Upas, Baru, Domas dan Kawah Jurig. Terbentuknya kawah-kawah tersebut, terjadi saat letusan Gunung Tangkubanparahu pada tahun 1829, 1846, 1847, 1910, 1926 dan 1929.

Berada di puncak Gunung Tangkubanparahu akan terasa suasana dan aroma berbeda karena penyebaran udara yang terasa merata di kawasan tersebut. Aroma belerang sudah menjadi suasana keseharian di Gunung Tangkubanparahu. Namun kadang-kadang bau belerang ini sangat tergantung kepada arah angin. Jika angin bertiup ke arah selatan, bau belerang akan terasa berkurang, begitu pun sebalik­nya jika angin bertiup ke arah utara maka bau belerang terasa sangat menyengat hidung.

Kandungan belerang yang ada di kawasan wisata Gunung Tangku­banparahu ini, selain sudah menjadi ciri khas kawasan wisata tersebut, juga mengandung sejumlah keistimewaan. Salah satu keistimewaan dari kawah yang mengandung belerang tersebut adalah, diyakini banyak orang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit. Selain itu masih ada juga kawah yang mengandung belerang di Gunung Tangkubanparahu, ternyata mampu mematangkan telur ayam.

                                                                                                                              Wisata jalan kaki  

Selain dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan, untuk sampai ke kawah Gunung Tangkubanparahu pun dapat ditempuh dengan jalan kaki melalui kawasan wisata alam Jayagiri. Rute napak alam melalui Jayagiri ini, memiliki keasyikan tersendiri terutama bagi mereka yang gemar akan wisata jalan kaki.

Di sepanjang jalan menuju Gunung Tangkubanparahu, akan ditemukan aneka ragam jenis tumbuh-tumbuhan. Karakteristik pohon-pohon yang ada di seputar kawasan wisata Tangkubanparahu sangat berbeda antara yang berada di daerah bawah dan daerah atas (puncak). Kalau di daerah bawah, akan ditemukan sejumlah pepohonan yang berukuran besar. Sedangkan di daerah atas, akan dijumpai pepoho­nan yang ukurannya lebih kecil.

Menelusuri rute jalan kaki melalui Jayagiri, ternyata memiliki keunggulan tersendiri. Dengan menempuh waktu sekitar 30-60 menit, anda akan tiba di puncak Gunung Tangkubanparahu. Walaupun badan bermandikan keringat, ada suasana bangga bisa menaklukkan perja­lanan lewat jalur Jayagiri tersebut.

Di kiri kanan jalan setapak menuju puncak Gunung Tangkubanparahu, akan dijumpai jenis-jenis pohon yang diantaranya sudah termasuk pohon langka. Di antara jenis-jenis pohon yang akan ditemukan di sepanjang jalan menuju kawah Tangkubanparahu tersebut, adalah puspa (schima noronbae), jambu alas (euginia desiflora), cantigi (vaccinium varingifolum), kipare (glochidion sp), harendong (melastoma malabarium), saninten (castanea argentea) dan lain-lain.

Bagi anda yang kurang puas terhadap rute perjalanan kaki melewati jalan setapak di kawasan Jayagiri, anda dapat meneruskan perjalanan dengan menelusuri pendakian ke stasiun geologi, atau yang lebih dikenal dengan stasiun pengawasan gunung berapi. Stasiun pengawasan gunung berapi ini berada di bagian atas pung­gung gunung atau turun sedikit menuju Kawah Domas. Kawah Domas ini diketahui sebagai salah satu kawah yang masih aktif menge­luarkan semburan lava.

Perjalanan menuju sejumlah kawah yang terdapat di Gunung Tangkubanparahu ini, merupakan salah satu jejak perjananan menel­usuri kawasan wisata belerang yang sangat dominan di gunung tersebut. Dipastikan anda tidak akan kecewa bila berada di kawa­san wisata Gunung Tangkubanparahu ini, yang menawarkan sejumlah pesona dan fenomena alam begitu menarik untuk ditelusuri.

 

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA