Tegallega dari Dulu Hingga Kini Selalu Menjadi Tempat Bersenang-senang

Pariwisata

Minggu, 8 Desember 2019 | 16:20 WIB

191207073835-tegal.jpg

SEPERTI sudah menjadi tradisi, hampir semua wilayah atau tempat di Kota Bandung mengacu pada objek yang menonjol dan mudah dikenal. Misalnya Kampung Kaum (kampung sekitar Masjid Agung), Sasakgantung (Jembatan gantung), Kiaracondong (beringin miring), Gardujati (rumah terbuat dari kayu jati), Tegallega (lapangan yang luas) dan lain sebagainya.

Perkembangan nama kelompok pemukiman tersebut didasarkan atas keadaan atau ciri khas yang ada di lokasinya, baik secara alamiah maupun hasil pengolahan atau pembukaan lahan. Dan ada pula yang didasarkan atas maksud pengelompokan semata-mata. Namun tak dapat dipungkiri, adanya pola pemukiman seperti itu, memudahkan komunikasi bagi berbagai pihak baik pemerintah maupun warga kota.

Dari sekian banyak tempat di Kota Bandung, Tegallega menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan begitu saja dari sejarah Kota Bandung. Soalnya wilayah Tegallega sejak dari zaman baheula hingga sekarang, selalu menjadi bahan pembicaraan. Siapa yang tidak kenal dengan Tegallega pada zaman dulu. Dulu keberadaan Tegallega dapat dianggap sebagai salah satu denyut nadi.

Bila ditelusuri lebih jauh, mulai dikenalnya sejumlah nama di Kota Bandung termasuk kawasan Tegallega, yaitu semenjak adanya pemindahan pusat pemerintahan Keresidenan Priangan Cianjur ke Kota Bandung. Sejalan dengan rencana itu, pada tahun 1860 di Kota Bandung dirintis pembangunan gedung keresidenan di daerah Cicendo dan dibangun pula sebuah hotel pemerintah. Dengan demikian, pada waktu itu di Kota Bandung sudah berdiri beberapa buah bangunan modern. Hal tersebut pada gilirannya telah mendorong perkembangan jalan dan sarana transportasi, serta sarana atau fasilitas kota lainnya.

Dari sinilah kemudian di kawasan Tegallega dibangun tempat pacuan kuda yang terkenal dengan perkumpulan Pacuan Kuda Priangan (Preanger Wedloop Societeit) dan bangunan Hoofdenschool (1879), yaitu sekolah khusus untuk mendidik calon-calon pegawai pribumi tingkat menengah, sehingga sekolah ini disebut juga "Sekolah Pamongpraja". Pada tahun 1900, sekolah itu berubah menjadi OSVIA (Opleidingschool voor Inlandsche Ambtenaren/Sekolah Pendidikan calon Pegawai Bumiputera). Masyarakat Sunda pada waktu itu, sering menyebut sekolah ini dengan Sakola Menak, karena murid-muridnya terdiri atas anak-anak golongan menak seperti bupati, patih, wedana dan lain-lain.

Wilayah Tegallega saat itu termasuk salah satu wilayah yang memiliki intensitas kegiatan yang cukup tinggi. Siang malam kawasan ini selalu dipenuhi orang, dengan maksud dan tujuan yang berbeda-beda. Tak salah bila kemudian kawasan Tegallega waktu itu, selalu disebut-sebut sebagai suatu wilayah yang sangat erat kaitannya dengan sejarah berdirinya Kota Bandung.

                                            Pacuan kuda

Pada waktu dulu di wilayah Tegallega terdapat tempat pacuan kuda yang sudah cukup dikenal bukan hanya oleh pembesar dan orang-orang Belanda, rakyat kecil yang termasuk dalam kelompok pribumi pun sudah mengenal tempat pacuan kuda ini. Acara pacuan kuda digelar setiap bulan Juli-Agustus oleh masyarakat Priangan penggemar kuda pacu bernama Preanger Wedloop Societeit.

Untuk memeriahkan acara tersebut, areal sekeliling alun-alun dan Jalan Otto Iskandardinata yang waktu itu bernama "Pangeran Sumedangweg" dari ujung utara hingga Tegallega, dihiasi lentera dan hiasan kertas warna-warni, dipadukan dengan untaian daun cemara atau beringin. Hiasan itu antara lain dililitkan pada tiang-tiang lampu dan tiang-tiang bendera. Sebelum pacuan dimulai, biasanya kuda-kuda yang akan bertanding terlebih dahulu dipamerkan di alun-alun.

Atraksi pacuan kuda tersebut, bukan hanya digemari oleh warga masyarakat Bandung (masyarakat pribumi maupun Eropa dan Timur Asing), akan tetapi orang-orang dari luar Bandung pun sengaja datang untuk menonton acara tersebut yang merupakan keramaian tahunan.

Keramaian di lapang Tegallega dan sekitarnya, bukan hanya di siang hari saja, tetapi pada malam hari pun tetap ramai dengan berbagai acara atau kegiatan lain. Warga masyarakat pribumi yang hadir dalam keramaian tersebut, banyak yang memakai pakaian cukup bagus dan baru. Secara tidak langsung, hal itu menunjukkan bahwa sebagian warga masyarakat pribumi rupanya cukup baik.

Acara pacuan kuda tahunan tersebut selain membawa dampak positif, juga menimbulkan dampak negatif. Selain sebagai hiburan, keramaian yang berlangsung cukup lama itu menguntungkan para pedagang yang menjual berbagai jenis makanan dan barang-barang dagangan lain. Bagi para nyonya Belanda, acara itu digunakan untuk pamer model-model busana. Para wanita pribumi, khususnya Mojang Priangan pun tidak ketinggalan turut memamerkan model gelung konde dan jenis-jenis perhiasan.

Tak jarang pula, pada saat situasi-situasi seperti ini dijadikan ajang perjudian dan pencopetan oleh kelompok-kelompok tertentu. Di sisi lain, keramaian itu pun memunculkan pula terjadinya ekses negatif lainnya seperti prostitusi. Biasanya dampak dari keramaian dalam pacuan kuda itu terjadi setelah keramaian berakhir. Misalnya, istri mendesak suaminya untuk membelikan perhiasan atau baju bagus akibat melihat wanita-wanita lain di keramaian memakai barang-barang tersebut, sedangkan dirinya belum memiliki barang tadi.

Kasus lain, kerukunan suatu keluarga/suami istri menjadi rusak akibat sang suami kalah judi. Tidak jarang pula pada saat-saat seperti ini, suami-istri diketahui menyeleweng pada saat keramaian acara pacuan kuda berlangsung. Kasus-kasus yang terjadi tadi, seringkali berakhir dengan perceraian. Suatu sumber menyebutkan, bahwa setelah acara pacuan kuda di Tegallega berakhir, angka perceraian di Priangan meningkat.

Itu dulu lalu bagaimana kondisi Tegallega pada masa sekarang? Ternyata kondisinya tidak lebih baik, meski sekarang di tempat tersebut sudah dibangun kawasan Taman Hutan Kota Tegallega dan berbagai objek wisata monumental. Namun kesan semrawut sangat terasa di wilayah yang dulunya menyimpan banyak potensi sejarah masa lalu bagi Kota Bandung. Meskipun kita tidak mungkin menjual Tegallega hanya dengan mengenang nostalgia belaka. Yang jelas dari dulu hingga sekarang, kawasan Tegallega dipakai sebagai tempat bersenang-senang bagi masyarakat.

 

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA