Tea Walk di Kawasan Perkebunan Teh

Pariwisata

Minggu, 8 Desember 2019 | 16:18 WIB

191207072408-tea-w.jpg

KAWASAN Bandung termasuk salah satu kawasan yang paling banyak menyimpan potensi wisata perkebunan teh. Di sejumlah tempat yang ada di Bandung seperti di kawasan Bandung Selatan dan Bandung Utara, akan ditemukan cukup banyak objek wisata yang menawarkan nuansa perkebunan teh sebagai latar belakang (back ground)-nya.

Sejumlah perkebunan teh yang saat ini sudah dikembangkan sebagai kawasan wisata di antaranya Perkebunan Teh Rancabali, Malabar dan Ciater. Dari ketiga perkebunan teh yang berada di kawasan Bandung Selatan dan Bandung Utara tersebut, bagi mereka yang menyukai alam perkebunan teh akan dijumpai banyak hal yang menarik.

Berjalan-jalan sambil menikmati keindahan alam yang ditawarkan perkebunan teh (tea walk), ternyata memiliki keasyikan tersendiri. Bagaimana tidak, di samping pandangan mata akan disegarkan dengan panorama alam perkebunan yang begitu memikat, juga suasana hati pun akan terasa senang saat menelusuri objek wisata perkebunan teh di sejumlah tempat tadi.

Rasanya, kalau pun kita berlama-lama berada di objek wisata perkebunan teh, tak ada rasa bosan yang menghantui kita. Namun muncul perasaan lain yaitu perasaan kedekatan dengan alam yang terhampar begitu luas di kiri dan kanan kita. Karena saat-saat menelusuri jalan setapak di perkebunan teh, merupakan saat-saat yang paling menyenangkan bagi mereka yang suka atau cenderung menyatu dengan alam.

Seperti layaknya siklus hidup tanaman teh di Jawa Barat, kondisi tiga perkebunan teh yang terdapat di kawasan Bandung Selatan dan Utara ini pun, memiliki karakter alam yang hampir sama. Tiga perkebunan teh yang menjadi salah satu kawasan objek wisata unggulan tersebut, terletak di alam pegunungan dengan suhu udara yang sejuk. Kawasan udara yang bersuhu udara demikian, memang menjadi suatu kawasan yang merangsang pertumbuhan teh menjadi subur dan enak dipandang mata.

Saat "galamedianews.com" berkesempatan menikmati menikmati objek wisata tea walk di Perkebunan Teh Malabar (Pangalengan), Rancabali (Ciwidey) dan Ciater (Subang) beberapa waktu lalu, terasa ada nuansa baru bagi penambahan diversifikasi produk wisata unggulan di Bandung dan sekitarnya. Dengan nuansa alamnya yang begitu khas dan memikat, siapa pun dipastikan akan tertarik untuk datang dan menikmati keindahan panorama alam perkebunan teh yang terasa agak berbeda dengan nuansa objek wisata lain yang sudah pernah mereka rasakan.

Dengan jarak tempuh antara 30-50 km dari pusat kota Bandung, ketiga objek wisata perkebunan teh tadi dapat anda nikmati keindahannya. Bila sudah tiba di perkebunan teh, sejauh mata memandang akan terlihat hijau daun teh yang terasa begitu segar dan enak dipandang mata. Selain itu, suhu udaranya yang begitu sejuk walaupun panas terik menyertai kunjungan kita, tidak terlalu membuat kita merasa khawatir karena nuansa alam yang ditawarkan perkebunan teh seakan-akan memberikan hembusan kesegaran AC secara alamiah.

                                          Wisata agro

Kawasan perkebunan teh selain dapat dijadikan sebagai kawasan wisata tea walk, juga dapat dijadikan kawasan wisata agro yang cukup menjanjikan. Untuk menjadikan kawasan perkebunan teh menjadi kawasan wisata agro, perlu diciptakan suasana terrtentu dalam mempopulerkannya. Seperti halnya kawasan wisata agro di Batu Malang yang menawarkan nuansa perkebunan apel dengan mengajak pengunjung untuk terlibat secara langsung di dalamnya.

Kondisi yang sama pun sebenarnya dapat diterapkan bila memang ingin mengangkat kawasan perkebunan teh menjadi kawasan wisata agro. Caranya adalah dengan melibatkan pengunjung yang datang ke perkebunan teh dalam kegiatan keseharian yang ada di perkebunan teh. Kegiatan keseharian inilah yang kemudian dapat dijadikan sebagai satu paket wisata khusus, misalnya mulai dari memetik teh hingga proses membuat daun teh menjadi suatu produk yang sudah siap dikemas.

Kondisi seperti ini bila ditawarkan kepada wisatawan, tentunya akan menjadi satu hal yang sangat menarik. Jadi kedatangan seorang pengunjung ke objek wisata perkebunan teh tidak hanya toh menikmati keindahan panorama alamnya, namun mereka juga diajak untuk mengetahui secara langsung proses pengolahan daun teh menjadi sesuatu yang istimewa. Bila benar hal ini dapat dikemas menjadi satu paket wisata agro, tentu banyak sisi lain yang dapat diangkat dari kawasan wisata perkebunan teh.

Dilihat dari kelengkapan fasilitas yang dimiliki ketiga objek wisata perkebunan teh unggulan di kawasan Bandung Utara dan Selatan tersebut, bukan tidak mungkin upaya untuk menjadikan kawasan perkebunan teh tersebut menjadi objek wisata agro, dapat direalisasikan. Pasalnya, di sejumlah perkebunan teh yang ada di Jawa Barat, selain sarana jalannya sudah cukup bagus juga akan dijumpai vila-vila milik PT Perkebunan. Kondisi tersebut, jelas sudah dapat dijadikan aset bagi pengembangan kegiatan wisata agro di perkebunan teh.

Malah di perkebunan teh yang langsung terdapat pabrik pengolahan daun teh menjadi produk yang siap dijual, akan terasa lebih mudah lagi dalam memberi warna bagi kegiatan wisata agro. Kesiapan lain yang perlu dilakukan adalah bagaimana menciptakan sumber daya manusia (SDM) perkebunan yang siap mendukung program wisata agro. Kesiapan SDM perkebunan ini sangat penting sekali, mengingat mereka-lah yang paling banyak berhubungan dengan pengunjung pada saat berbaur di perkebunan teh.

Dengan mata rantai seperti itu, hampir dapat dipastikan keberadaan objek wisata agro ini akan mendapat tempat di hati para wisatawan yang berkunjung ke objek wisata agro di perkebunan teh. Saat ini dengan sejumlah potensi yang dimilikinya, tak pelak lagi walaupun belum dapat dikatakan sebagai objek wisata agro, kawasan perkebunan teh di Bandung Utara dan Selatan, siap menjadi objek wisata alam unggulan di Jawa Barat.

Dalam banyak hal memang belum banyak yang dapat diungkapkan berkenaan dengan objek wisata tea walk di kawasan perkebunan teh. Namun gambaran singkat mengenai objek wisata tea walk ini, diharapkan akan mampu mengajak wisatawan untuk mengunjungi objek wisata yang jumlahnya cukup menyebar di tatar Sunda.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA