Lokomotif Pembangunan Masa Depan Jawa Barat Bernama Pariwisata

Pariwisata

Selasa, 3 Desember 2019 | 10:36 WIB

191203103840-lokom.jpg

kumparan


PARIWISATA benar-benar dijadikan lokomotif perekonomian di Jawa Barat dan menjadi antensi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat. Di bawah kepemimpinan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum perhatian tertuju pada peningkatan kepariwisataan, yang merupakan bagian dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPKMD) 2018-2023.

Ekonom Universitas Padjadjaran Dr. Ferry Hadiyanto menyebutkan, kepariwisataan sudah terbukti mempunyai dampak positif bagi pembangunan suatu daerah karena multiplier effect yang diciptakan. Menurut dia, ada dua pengaruh yang ditimbulkan dari sektor pariwisata, yakni pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung.

“Pengaruh langsung muncul dari pengeluaran wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke suatu destinasi wisata. Pengaruh tidak langsung bisa muncul dari berbagai jasa dan kebutuhan dari bisnis pariwisata, seperti transportasi, kuliner dan seterusnya,” kata Ferry dalam siaran persnya, Selasa (3/12/2019).

“Sektor pariwisata adalah sektor yang melibatkan semua stakeholder. Bagaimana sumber daya digunakan, produk diciptakan, pelanggan dipuaskan, dan investasi untuk meningkatkan kepuasan dan kebahagiaan masyarakat, sehingga akan menimbulkan multiplier effect, makannya pembangunan infrastruktur baru seperti destinasi, pusat budaya, creative center dan lainnya di Jabar adalah langkah yang tepat,” imbuhnya.

Apabila melihat trend pertumbuhan ekonomi Jawa Barat tahun ini kata Ferry, menurut data dari BPS Jawa Barat terjadi kenaikan dari triwulan I sebesar 5,43 % ke triwulan II 5,68 %. Hal itu salah satunya dari faktor penggunaan penyediaan akomodasi dan makan minum terhdapat PDRB Jawa Barat jika dirata-ratakan sebesar 9,5 % (data bps Jabar 2019)

Menurut Ferry data tersebut ditunjang oleh penyelenggaraan event pariwisata. Dalam industri pariwisata, kata dia, event memiliki daya tarik yang tinggi. Dia pun mencontohkan penyelenggaraan West Java Festival (WJF) 2019 yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat.

“Menurut data Disparbud Jabar penyelenggaraan event selama tiga hari tersebut menyedot jumlah pengunjung hingga 79 ribu. Jika setiap orang rata-rata mengeluarkan uang sebesar Rp 200 ribu, maka perputaran uang atau spendin money nya bisa mencapai Rp. 15 milyar an” kata dosen Ekonomi tersebut.

Ferry pun menyebutkan, penyelenggaraan event-event besar di Gedung Sate menurut pengelola Gedung Sate dalam satu bulan bisa 2-3 event. Karenanya area gedung sate terus berbenah diri memperbaiki dan merenovasi halaman dan taman Gedung Sate yang memang merupakan area publik. Dengan renovasi tersebut, Gedung Sate diharapkan dapat menyelenggarakan banyak event, baik berskala nasional maupun internasional.

Selain event, Pemprov Jabar fokus dalam meningkatkan kualitas destinasi wisata, ekonomi kreatif, dan promosi 
berbasis digital dan industri pariwisata.

Pembangunan dan perbaikan infrastruktur menuju destinasi pariwisata ke daerah – daerah di Jawa Barat terus dilakukan. Salah satunya di Kabupaten Majalengka yang mendapatkan bantuan pembangunan akses jalan ke destinasi Panyaweuyan dan Desa Wisata Bantaragung serta pembangunan alun-alun.

“Kami di daerah berterima kasih atas perhatian provinsi Jawa Barat, ini adalah bentuk sinergi antara pemerintah dengan program-program yang saling mendukung,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Majalengka, Gatot Sulaeman .

Gatot menambahkan bantuan yang diterima oleh Pemerintah daerah diharapkan menjadi aktivitas-aktivitas yang menunjang terhadap kegiatan pariwisata sehingga dapat menumbuhkan perekonomian di daerah.

Hal Senada Hendra Nugraha Koordinator Creative Hub Kabupaten Sumedang yang di tahun ini akan membangun gedung Creative Center di sumedang menyatakan bahwa kebijakan mengenai pembangun sektor pariwisata di daerah adalah kebijakan yang akan berdampak kepada semua aspek. Sehingga Pemerintah Daerah Sumedang pun berfokus pada pembangunan pariwisata.

“Untuk menciptakan ekosistem pariwisata dilakukan juga secara masive oleh pemda Sumedang. Sektor pariwisata akan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi. Pemda Sumedang juga membentuk Komite Pariwisata Daerah, Badan ekonomi kreatif daerah, hal itu untuk mendukung terwujudnya icon pariwisata di sumedang yang memiliki jati diri dan unsur budaya,” katanya.

Terkait promosi berbasis digital, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas pariwisata dan Kebudayaan Jabar, meluncurkan Sistem Pariwisata Terpadu (Siraru) dan aplikasi Smiling West Java. Sistem tersebut mampu mengintegrasikan kegiatan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan penyedia jawa wisata. Selain itu informasi mengenai calender of event di Jawa Barat bisa dilihat langsung melalui apps Smiling West Java

Seperti diketahui, tahun ini Pemprov Jabar sedang giat membangun infrastruktur baru yang akan mendukung kepariwisataan, seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pangandaran, KEK Cikidang, pembangunan enam destinasi pariwisata tipe 1 di antaranya Curug Malela, Curug Cinulang, amphiteater Ciletuh, Kebun raya Kuningan, Galunggung dan Panyaweuyan, lalu tujuh destinasi tipe 2 seperti Waduk darma, breakwater Pangandaran dan lainnya. Sementara untuk pembangunan pusat budaya di tahun ini ada di Kabupaten Subang dan Sumedang. Selain itu pembangunan 6 gedung creative center di Kota Bogor, kota Cirebon, kota Bekasi, Subang, sumedang dan Purwakarta. Ditambah penataan alun-alun di Kota Cirebon, Majalengka, Indramayu, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bogor pun terus dikebut pembangunannya.

Jika melihat perkembangan kepariwisataan secara global, langkah Pemda Provinsi Jabar sangat tepat. Berdasarkan data Organisasi Pariwisata dunia (UNWTO),kedatangan wisatawan internasional tumbuh 6 persen pada 2018. Perputaran uang di sektor pariwisata pun mencapai 1.332 miliar dollar Amerika Serikat pada 2017.

Pun demikian di Indonesai. Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementrian Pariwisata (Kemenpar) RI melaporkan, sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa terbesar bagi ekonomi Indonesia pada 2020. Sekitar 5,25 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional berasal dari sektor pariwisata.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA