Bagi Umat Islam di Zona Hijau Corona, Salat Jumat Hukumnya Wajib

Nasional

Jumat, 27 Maret 2020 | 07:52 WIB

200327075302-bagi-.jpg

SEBAGIAN umat Islam masih bingung, dalam menerima fatwa MUI tentang shalat Jumat berkaitan dengan wabah corona. Kebingungan itu terutama apakah sebagai seorang muslim dirinya wajib melaksanakan salat Jumat, padahal sebagian masjid termasuk masjid yang ada di lingkungannya sudah mengumumkan tidak mengadakan salat Jumat.

Keputusan Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, tampaknya telah merespon kegelisahan umat terkait dengan aktivitas ibadah Shalat Jumat di tengah darurat penanganan wabah Covid-19 khususnya di wilayah Provinsi Jawa Tengah.

Salah satu pokok LBM tersebut menyatakan, umat Islam yang berada di kawasan zona ‘hijau’ darurat penanganan Covid-19 (virus Corona) tetap diwajibkan untuk menggelar Shalat Jumat di masjid. Kendati begitu, pelaksanaannya tetap tidak boleh meninggalkan upaya kewaspadaan pencegahan sesuai Protokol Kesehatan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dalam menimialisir risiko penyebaran.

Melalui Surat Nomor 08/LBM/PWNUJATENG/III/20, LBM PWNU Jawa Tengah yang dikeluarkan di Semarang, pada 30 Rajab 1441 H atau 25 Maret 2020, menegaskan, Provinsi Jawa Tengah yang disinyalir menuju Zona Merah dalam status penyebaran Virus Corona, sesungguhnya tidak merata di semua wilayah kabupaten/ kota.

Sementara itu menurut pandangan fiqih, penyelenggaraan Shalat Jumat didasarkan pada kawasan desa/ kelurahan atau lingkungan. Sehingga hukum penyelenggaraan Shalat Jumat (Iqomat al-Jum’ah) menurut hasil LBM, kabupaten atau kota yang termasuk dalam Zona Hijau wajib dengan tetap mengupayakan kewaspadaan yang telah ditetapkan pemerintah, dikutif republika.co.id, Jumat (27/3/2020).

Untuk kabupaten atau kota yang termasuk Zona Kuning wajib menyelenggarakan Shalat Jumat dengan tetap mengupayakan pencegahan sesuai ketentuan atau protokol kesehatan yang ditetapkan Pemerintah.

Sedangkan kabupaten atau kota yang dinyatakan sebagai Zona Merah, maka harus diperinci sesuai desa, kelurahan atau lingkungan. Di mana, desa, kelurahan atau lingkungan yang masih aman dari penyebaran virus corona tetap wajib menyelenggarakan Shalat Jumat disertai upaya-upaya pencegahan sesuai Ketentuan atau Protokol yang ditetapkan pemerintah.

Desa, kelurahan atau lingkungan yang telah dinyatakan terjadi penyebaran virus corona sehingga terjadi kekhawatiran masyarakat akan penyebaran Virus tersebut, maka tidak diwajibkan menyelenggarakan Shalat Jumat.

Adapun untuk kehadiran pada Shalat Jumat (Hudlur al-Jum’ah), orang sehat atau orang tanpa gejala (OTG) wajib menghadiri Shalat Jumat. Sementara Orang Dalam Pemantauan (ODP) tidak wajib dan dianjurkan tidak menghadiri Shalat Jumat.

Pasien Dalam Pengawasan (PDP) haram menghadiri Shalat Jumat. Orang yang positif terpapar virus corona haram menghadiri Shalat Jumat dan orang yang tidak diwajibkan Shalat Jumat tetap wajib melaksanakan Shalat Dzuhur di rumah masing- masing.

Hasil Bahtsul Masail juga mengimbau agar takmir masjid melibatkan ulama, tokoh dan pemerintah setempat dalam penyelenggaraan Shalat Jumat. Selain itu takmir masjid juga melakukan usaha dengan sungguh- sungguh untuk mengikuti ketentuan atau protokol pencegahan virus corona yang ditetapkan pemerintah.

Terkait hasil keputusan Bahtsul Masail PWNU Jawa Tengah ini, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh yang dikonfirmasi mengatakan, apa yang menjadi keputusan bahtsul masail ini pada dasarnya tetap mengikuti instruksi pemerintah terkait protokol kesehatan untuk mengurangi risiko penularan.

Artinya sepanjang wilayahnya aman, dengan berbagai cara Shalat Jumat tetap wajib dilaksanakan, dengan tidak mengabaikan apa yang menjadi keputusan Pemerintah di tengah penyebaran wabah virus Corona ini.

Menurutnya, ini untuk menjawab apa yang terjadi di tengah masyarakat terkait hokum Shalat Jumat di tengah situasi wabah Covid-19. Karena banyak orang yang merasa bagaimana kalau tidak Jumatan. “Oleh karena itu, harus kita tuntun supaya tidak terjadi istilahnya grundel kok tidak boleh Jumatan,” katanya.

Maka Lembaga Bahtsul Masail Jawa Tengah mengadakan Bahtsul Masail. Karena Bahtsul Masail merupakan salah satu di antara aktivitas NU dalam merespon kegelisahan masyarakat tentang kemasyarakatan keagamaan, termasuk terkait dengan shalat Jumat.

"Supaya posisia Jumatan itu jelas. Kalau tidak boleh itu juga jelas bagi yang sakit memang tidak boleh. Aman dan tidaknya itu memang tergantung pertimbangan takmir dan pemerintah setempat,” tambahnya.

Editor: Rosyad Abdullah

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA