Dosen FT-UNS Ciptakan "Si EMPU Kampung Sewu" untuk Mitigasi Bencana

Nasional

Rabu, 22 Januari 2020 | 14:03 WIB

BENCANA alam banjir yang melanda daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo, khususnya di wilayah Kampung Sewu, Kecamatan Jebres, Kota Solo, memantik inspirasi Dr. Eng. Kusumaningdyah, dosen program studi (Prodi) arsitektur fakultas teknik Universitas Sebelas Maret (FT-UNS) Solo, untuk menciptakan perangkat Disaster Tool Kit dan Disaster Prevention Activities. Perangkat mitigasi bencana tersebut berupa koper, tas dan saputangan atau kacu siaga bencana yang dia beri nama "Si EMPU Kampung Sewu"

Dr. Kusumaningdyah, yang menjabat sebagai Kepala  Laboratorium Urban Rural Design Conservation (URDC) Prodi Arsitektur FT-UNS, menjelaskan kepada wartawan, Rabu (22/1/2020), dia menciptakan perangkat itu dibantu masyarakat Kampung Sewu dengan koordinator Budi Utomo, Ester, dan David 'Naruto', yang merupakan pegiat Komunitas Sibat PMI Kelurahan Sewu.

Mereka sependapat, bencana alam dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, sehingga menuntut masyarakat di daerah rawan bencana untuk selalu waspada. "Kewaspadaan bukan hanya pada saat terjadi bencana, namun sikap siaga dan waspada perlu dilakukan sebelum bencana datang dengan langkah preventif. Berdasarkan itu, kami mengkreasikan perangkat bentuknya berupa koper, tas dan kacu siaga bencana yang kami namakan "Si EMPU Kampung Sewu", jelasnya.

Kata EMPU pada perangkat alat peraga tersebut, menurut Dr. Kusumaningdyah, merupakan singkatan Emergency Movement of People of Sewu. Dia menciptakan berdasarkan inspirasi dari  program Iza! Kaeru Caravan, yang merupakan program mitigasi bencana untuk anak-anak dan keluarga di Jepang yang diinisiasi oleh Hirokazu Nagata (NPO Art Plus, Kobe, Jepang).

Kepala Laboratorium URDC itu menceritakan, ide pemilihan nama ikon Si EMPU berasal dari nama permainan anak-anak yang terbuat dari tanah liat yang pada periode 1979-1990 kerap dimainkan di bantaran Sungai Bengawan Solo. Dia berharap, dengan pemilihan maskot Si EMPU dari Kampung Sewu, masyarakat lain di daerah rawan bencana dapat ikut melestarikan cerita dari permainan tradisional anak-anak Kampung Sewu.

"Produksi Si EMPU nanti akan diajarkan kepada warga Kampung Sewu dengan metode yang familiar, menarik, dan menyenangkan, dengan mengadaptasi kearifan lokal dan pengalaman bencana banjir di Kampung Sewu," tuturnya.

Dosen FT-UNS itu menyatakan, dia telah melakukan pengamatan terhadap banjir di Kampung Sewu yang merupakan bencana tahunan dan hampir selalu menggenangi permukiman warga yang saat itu belum direlokasi. Bencana terbesar pada akhir tahun 2007 didokumentasikan Dr.  Kusumaningdyah bersama tim, yaitu saat masyarakat menghadapi bencana banjir.

"Kami bersama warga Kampung Sewu mendokumentasikan bencana dalam bentuk  participatory mapping. Kami dari Laboratorium URDC Prodi Arsitektur FT-UNS bekerjasama dengan desainer produk Tissa Florika (Apprentice NPO Art Plus Kobe, Japan), mengembangkan Disaster Tool Kit dan Disaster Prevention Activities sebagai bentuk dokumentasi tentang cara bertahan dan bersahabat dengan bencana banjir di Kampung Sewu," sambung Kusumaningdyah.

Menyinggung ketiga komponen Si EMPU, Kusumaningdyah memaparkan, koper si EMPU adalah program mitigasi bencana anak-anak berbentuk puppet show. Di dalamnya ada peralatan yang mendukung pertunjukkan mini nan interaktif mengenai ilmu siaga bencana. Berikutnya, Tas Siaga Bencana dirancang untuk mengajarkan anak-anak siaga bencana dengan permainan menggunakan benda yang harus dipersiapkan saat terjadi bencana. Sedangkan Sapu Tangan si EMPU berguna untuk melindungi hidung dari asap dan debu. Selain itu, juga dapat digunakan untuk perban, lap, tas darurat, dan bendera.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA