Lebih dari 100 Hari Jadi Menteri, Nadiem Belum Melakukan Apa-Apa di Bidang Pendidikan

Nasional

Senin, 20 Januari 2020 | 17:16 WIB

200120171624-lebih.jpg

dok

Mendikbud Nadiem Anwar Makarim

PENGAMAT Pendidikan, Indra Charismiadji menilai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim hampir belum malakukan apa-apa setelah menjabat lebih dari 100 hari. Pasalnya, beragam gagasan yang Nadiem rangkum dalam konsep "Merdeka Belajar" belum ada yang diturunkan menjadi sebuah kebijakan konkret berupa pogram.

Ia menegaskan, Nadiem seperti gagap dalam menyikapi kompleksitas permasalahan di dunia pendidikan nasional. Mulai dari ekosistem birokrasi hingga regulasi yang tumpang tindih.

Menurut dia, intelektualitas Nadiem yang teruji, setidaknya dalam bidang teknologi, terbukti tidak serta-merta mudah diterapkan di lingkungan pendidikan.

"Sudah 100 hari lewat, sampai hari ini seluruh insan pendidikan Indonesia masih menunggu langkah konkret Mendikbud sebagi 'driver' program pembangunan SDM unggul. Pengelolaan program pendidikan sangatlah tinggi kompleksitasnya dan seseorang dengan tingkat kecerdasan dan pendidikan dari perguruan tinggi terhebat dunia tidak lantas dapat mengambil keputusan yang tepat," papar Indra saat dihubungi wartawan "PR", Dhita Seftiawan di Jakarta, Senin (20/1/2020).

Ia menuturkan, sebagai orang yang berada di luar sistem pendidikan, Nadiem seolah gagap untuk melangkah memulai perbaikan. Pasalnya, banyak hal yang mengejutkan di luar perkiraan Nadiem.

"Mungkin banyak hal-hal mengejutkan tentang sistem pendidikan Indonesia yang dulunya tidak disadari beliau sebagai seseorang yang berada di luar komunitas pendidikan," ujar Indra.

Misalnya, ucap Indra, Kemendikbud ternyata tidak punya sekolah, siswa dan guru. Pasalnya, sekolah, siswa dan guru berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi, kota dan kabupaten. Berbeda dengan Kementerian Agama yang berwenang penuh atas 3 unsur utama dalam pendidikan itu.

"Permasalahan pendidikan ternyata di luar kuasa Mendikbud untuk memperbaikinya walaupun masyarakat masih mengira itu semua adalah tanggung jawab Kemendikbud. Mulai dari sekolah ambruk, pemberdayaan pendidikan nonformal, manajemen guru, sampai kasus-kasus sepert siswa yang bunuh diri di sekolah seperti yang terjadi beberapa waktu ini," katanya.

Ia berharap, ke depan, Nadiem semakin berani dalam mengambil kebijakan. Menurut dia, kondisi saat ini adalah cerminan apa yang terjadi di daerah. Saat kepala dinas pendidikan bukan diseleksi dari mereka yang memiliki latar belakang dan kemampuan mengelola program pendidikan, pejabat tersebut akan sulit beradaptasi atau memulai perubahan.

"Presiden Joko Widodo mengharapkan adanya perubahan dalam sistem pendidikan Indonesia menjadi berbasis teknologi. Semua orang pun melihat potensi besar yang dapat dilakukan oleh Mendikbud mengingat latar belakang beliau sebagai seorang pengusaha digital tingkat global yang sdh mengangkat nama Indonesia dengan Gojeknya. Banyak hal yang sebenarnya dapat segera dia lakukan," ujarnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA