Investasi Cina di Indonesia Meningkat, Defisit Perdagangan Jadi yang Terburuk

Nasional

Sabtu, 18 Januari 2020 | 12:06 WIB

200118112834-inves.jpg

ANTARA

Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi didampingi Dubes RI untuk Cina Djauhari Oratmangun (kiri) saat bertemu dengan Menteri Bea Cukai China (GACC) Ni Yue Feng (kiri membelakangi lensa), di Beijing, 25 April 2019.

NILAI investasi asing asal Cina di Indonesia sepanjang 2019 mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Namun defisit perdagangan Indonesia cukup melebar bahkan terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

"Diplomasi ekonomi Indonesia selama 2019 di Tiongkok berhasil meningkatkan nilai inbound investasi sebesar 81,3 persen," kata Duta Besar RI untuk Cina, Djauhari Oratmangun dalam laporan berjudul "Capaian Diplomasi Ekonomi Indonesia Tahun 2019 di Tiongkok", Sabtu (18/1/2020).

Ia menyebutkan jumlah proyek investasi dari Cina yang direalisasikan di Indonesia selama periode Januari-September 2019 mencapai 1.888 unit dengan nilai 3,31 miliar dolar AS. Pada periode yang sama tahun 2018 jumlah proyek hanya 1.059 unit dengan nilai 1,83 miliar dolar AS.

Selama kuartal III/2019 sebanyak 23 perjanjian kerja sama pengembangan empat koridor ekonomi di Sumatra Utara, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, dan Bali telah ditandatangani.

Perjanjian kerja sama meliputi pengembangan techno park, industrial park, pengolahan limbah, pembangkit tenaga listrik, e-dagang, pengembangan transportasi, pelabuhan, kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, pengembangan jaringan telekomunikasi berbasis 5G, dan industri perikanan.

Namun dari sisi hubungan dagang dengan Cina, Indonesia justru mengalami defisit sebesar 18,4 miliar dolar selama periode Januari-November 2019.

Padahal selama periode Januari-Oktober 2019 defisit perdagangannya masih 15,2 miliar dolar AS sebagaimana data Bank Indonesia Perwakilan Beijing yang diperoleh Antara pada 22 November 2019.

Data Kementerian Kepabeanan Cina (GACC) menyebutkan bahwa selama periode Januari-November 2019 nilai perdagangan kedua negara tercatat 72,42 miliar dolar AS atau lebih rendah daripada data Badan Pusat Statistik RI yang mencapai 72,66 miliar dolar AS.

Indonesia menempati peringkat ke-16 negara tujuan ekspor Cina yang pada periode tersebut totalnya mencapai 40,99 miliar dolar AS atau naik 4,02 persen (year on year).

Di sisi lain, Indonesia menempati posisi ke-15 negara pengekspor ke Cina dengan nilai 31,42 miliar dolar AS yang didominasi oleh kelapa sawit, batu bara, dan buah tropis.

Dari sektor pariwisata, Indonesia kembali gagal memenuhi target penerimaan kunjungan wisatawan asal Cina karena pada Januari-Oktober 2019 hanya menerima 1.817.130 kunjungan atau berkurang 6,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2018 yang mencapai 1.950.125 kunjungan.

Kementerian Pariwisata RI telah mematok target 3 juta kunjungan wisatawan asal Cina pada 2019 atau lebih tinggi dari target 2018 sebesar 2,5 juta.

"Bagi masyarakat sini perang dagang AS-Cina yang berkepanjangan telah menciptakan ketidakpastian ekonomi sehingga akan memperlambat pertumbuhan wisatawan Cina ke luar negeri, termasuk Indonesia," kata Dubes Djauhari.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA