Gerebeg Sudiro Awali Perayaan Tahun Baru Imlek di Solo

Nasional

Senin, 13 Januari 2020 | 18:14 WIB

200113181441-gereb.jpg

Tok Suwarto

JALINAN yang harmonis tanpa sekat perbedaan etnis antara warga keturunan Tionghoa dan orang-orang Jawa di Kampung Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Kota Solo, telah melahirkan akulturasi budaya yang mapan. Harmonisasi yang terbangun sejak puluhan tahun lamanya itu merupakan bukti kemapanan akulturasi dan menciptakan sebuah tradisi sebagai ungkapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam "Gerebeg Sudiro".

Rangkaian "Gerebeg Sudiro" yang digelar setiap tahun menjelang perayaan tahun baru Imlek itu bakal kembali digelar di Kota Solo pada 15-25 Januari 2020. Selama 10 hari itu, dalam tradisi "Gerebeg Sudiro" yang merupakan perwujudan akulturasi budaya beragam etnis di Kota Solo, digelar berbagai potensi Kelurahan Sudiroprajan dan kearifan lokal yang telah berlangsung lama.

Ketua 1 Panitia "Gerebeg Sudiro 2020", Arga Dwi Setyawan mengungkapkan, "Gerebeg Sudiro" merupakan salah satu wahana untuk merawat tradisi masyarakat Kelurahan Sudiroprajan, dalam bentuk akulturasi budaya. Menurut Arga, sebagai salah seorang generasi muda Kampung Sudiroprajan, rangkaian kegiatan "Gerebeg Sudiro" yang terdiri dari beberapa bagian dan inti acaranya berupa "Umbul Mantram" dan "Karnaval Budaya" melibatkan sebagian besar warga Sudiroprajan.

"Bahkan bukan hanya etnis Tionghoa dan Jawa. Umbul Mantram adalah ritual doa bersama menurut tradisi Jawa sebelum seluruh rangkaian acara Grebeg Sudiro dimulai. Masyarakat Sudiroprajan tanpa memandang dari etnis apa, terlibat dalam Umbul Mantram memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan berkah keselamatan dan kelancaran dalam acara Gerebeg Sudiro," katanya, Senin (13/1/2020).

Ritual doa bersama Umbul Mantram yang setiap tahun dilaksanakan di lokasi khusus "Boek Teko" tersebut, dipimpin seorang tua-tua dari Padepokan "Keris Brojobuwono" yang sekaligus bertindak sebagai pemimpin kirab Umbul Matram.

Puncak acara "Gerebeg Sudiro" berupa Karnaval Budaya yang akan diikuti berbagai kelompok masyarakat, seperti Paguyuban Pedagang Pasar Gede, grup-grup kesenian liong dan barongsai, produsen panganan tradisional di Kelurahan Sudiroprajan dan didukung Kelenteng Tien Kok Sie Pasar Gede, akan digelar pada 19 Januari 2020 mendatang.

Seperti tradisi Karnaval Budaya sebelumnya, pada "Gerebeg Sudiro" 2020 ini juga diikuti etnis lain dari luar Kota Solo. Dalam karnaval, sebanyak 4.000 kue keranjang sumbangan Kelenteng Tien Kok Sie akan dibawa kirab mengelilingi kawasan Pecinan Kota Solo.

“Gerebeg Sudiro memang merupakan hajadan tahunan warga Sudiroprajan bersama Kelenteng Tien Kok Sie dan Paguyuban Pedagang Pasar Gede. Tetapi pendukung karnaval budaya datang dari berbagai penjuru,” jelasnya.

"Gerebeg Sudiro" yang merupakan perkawinan budaya Jawa-Tionghoa dan masuk dalam kalender wisata Kota Solo, selama ini ditangani secara swadaya masyarakat dengan dukungan Pemkot Solo. Namun, pada 2020 ini "Gerebeg Sudiro" yang dianggap sebagai upaya pelestarian budaya diangkat ke tingkat nasional. "Gerebeg Sudiro" akan digarap dengan konsep budaya nasional agar pelestarian budaya perpaduan antar etnis yang menghasilkan akulturasi budaya dapat dikembangkan lebih luas dan beragam.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA