Pemimpin Sufi Dunia Jabat Anggota Wantipres 2019-2024

Nasional

Sabtu, 14 Desember 2019 | 00:21 WIB

191214002802-pemim.jpg

Habib Luthfi saat dilantik menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden 2019-2024 di Istana Negara, Jumat (13/12/2019).

PRESIDEN Joko Widodo telah melantik sembilan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/12/2019). Mantan Menko Polhukam Wiranto didapuk menjadi ketua.

Pelantikan dijadwalkan dimulai pukul 14.30 WIB. Namun, hingga pukul 14.54 WIB, pelantikan belum dimulai. Pasalnya, salah satu calon anggota Wantimpres belum hadir, yakni Muhammad Luthfi bin Yahya atau Habib Luthfi.

Saat dikonfirmasi, Habib Luthfi memberi alasan dirinya datang terlambat. "Enggak usah tanya. Tanya sendiri sama jalan raya," katanya usai pelantikan, Jumat (13/12/2019).

Pelantikan Wantimpres baru dimulai pukul 14.55 WIB. Jokowi tampak mengenakan setelan jas hitam dengan dasi merah. Adapun delapan Wantimpres lainnya sudah tiba di Istana Negara sejak pukul 14.20 WIB. Mereka kompak mengenakan setelan jas hitam.

Nama Habib Luthfi menghiasi salah satu dari sembilan nama yang ditunjuk menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) periode 2019-2024. Habib Luthfi menjadi Wantimpres dari kalangan ulama yang dilantik di Istana Negara, Jumat (13/12/2019).

Ulama bernama lengkap Maulana al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya ini merupakan tokoh ulama penting di Indonesia. Ia merupakan anggota Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Di Jawa Tengah, Habib Luthfi merupakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 2005-2010.

Hasil gambar untuk Habib Luthfi wantimpres"

Sebagai seorang ulama, nama Habib Luthfi juga lebih dikenal lantaran merupakan pengasuh atau Ra’is ‘Am Jami’iyyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah (Jatman). Lewat jamaiyahnya itu, Habib Luthfi dikenal sebagai tokoh ulama yang mengajarkan model keislaman yang moderat dan toleran.

Komitmen Habib Luthfi dalam memelihara kesatuan dan persatuan terlihat dalam satu sambutannya dalam Konferensi Ulama Tarekat Internasional di Pekalongan, 2016. Dalam pidatonya ia menegaskan bela negara hukumnya wajib.

“Wahai bangsaku, relakah negeri kita ini terpecah belah? Jika tidak, ikuti kata-kata saya, bismillahirrahmaanirrahim, asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, radhiina billahi robba, wa bil islaami dina, wabi muhammadin nabiyya wa rasula. Kami berikrar, bela negara adalah wajib, bela negara adalah wajib, bela negara adalah wajib!”

Menurut Habib Luthfi, bela negara dan mencintai tanah air memiliki arti luas. Ia bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari lewat pendidikan, ekonomi, atau pertanian.

Untuk menyebarkan tarekatnya, ia mendirikan Mahasiswa Ahli Thoriqoh al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN). Satu organisasi tarekat yang disediakan untuk kelompok pelajar di kalangan mahasiswa.

Namanya kembali mencuat pada April 2019 lalu saat terpilih secara aklamasi sebagai pemimpin Forum Sufi Dunia pada Pengukuhan Forum Sufi Dunia di Hotel Santika, Pekalongan, Jawa tengah.

Hasil gambar untuk Habib Luthfi wantimpres"

Oleh mantan Menteri Pertahanan (Menhan) kala itu, Ryamizard Ryacudu, Habib Luthfi mendapat julukan sebagai Habib NKRI.

Menurut Menhan, Habib Luthfi memegang peranan kunci dalam perkemmbangan tarekat di Indonesia.

Habib Luthfi lahir di Pekalongan, 10 November 1946. Ia lahir dari keluarga Habib. Pendidikan agama Habib Luthfi mula-mula didapatnya dari sang ayah, Habib Hafidz Ali al-Ghalib.

Lalu singgah ke beberapa pesantren di sekitar Jawa Tengah, Indramayu, dan Cirebon. Acara pengajiannya dan organisasinya banyak dihadiri para tokoh dan pejabat

Pada Oktober 2019 lalu, The Royal Islamic Strategic Studies Centre, Jordania, menobatkan Habib Luthfi sebagai 50 tokoh Islam paling berpengaruh di dunia.

Ia masuk bersama dua nama lain dari Indonesia yakni, Said Aqil Siradj, Presiden Joko Widodo.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA