Potensi Radikalisme Turun, Penanggulangan Terorisme Tidak Boleh Mandek

Nasional

Selasa, 10 Desember 2019 | 17:26 WIB

191210172524-poten.jpg

dok

ilustrasi

BADAN Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut potensi radikalisme di Indonesia pada Tahun 2019 mencapai 38,43 pada skala 0-100. Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Meski begitu, BNPT tetap mengingatkan stakeholder dan masyarakat untuk tidak lengah meski potensi radikalisme dari hasil survei nasional yang dilakukan di 32 provinsi itu menunjukkan penurunan.

"Dibandingkan pada 2017 yang mencapai angka 55,12, potensi radikalisme secara nasional mengalami penurunan sebesar 16,69 poin," jelas Kepala BNPT, Komjen Pol. Suhardi Alius di Jakarta, Selasa (10/12/2019).

Hal tersebut dikemukakan Suhardi saat menyampaikan hasil Survei Nasional BNPT 2019 tentang "Internalisasi Kearifan Lokal dan Potensi Radikalisme di 32 Provinsi".

"Kesimpulannya, terjadi pergeseran dari kategori 'potensi sedang' ke 'potensi rendah'," ujar mantan Kepala Divisi Humas Mabes Polri itu.

Meski demikian, ia menjelaskan penurunan itu terjadi secara kuantitas, sementara secara kualitas dimungkinkan justru mengalami peningkatan.

"Jadi, biasa demikian. Daerah rawan kita patroli banyak-banyak, angka kuantitas akan menurun. Kalaupun ada, kualitasnya meningkat, nekat istilahnya. Ini hukum alam, kalaupun muncul berarti dengan segala risikonya," kata Suhardi.

Oleh karena itu, Suhardi menegaskan upaya penanggulangan terorisme tidak boleh berkurang, apalagi mandek.

"Bukan berarti rendah, terus (lengah). Tidak boleh underestimate. Harus kita tetap laksanakan penanggulangan secara maksimum," katanya.

Survei tersebut dilaksanakan BNPT berkolaborasi dengan peneliti Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), Balitbang Kemenag, dan berbagai "stakeholder" terkait.

Pengambilan sampel dalam riset itu menggunakan teknik "multistage cluster random sampling"' dengan rumah tangga sebagai unit terkecil, dan pengumpulan data melalui wawancara tatap muka kepada 15.360 responden di 32 provinsi pada April-Juli 2019.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA