Pabrik Karbon Hitam di Cilegon Bakal Tekan Impor Rp 1,5 Triliun

Nasional

Kamis, 21 November 2019 | 18:03 WIB

191121174009-pabri.jpeg

ist

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kanan) mendengarkan penjelasan tentang carbon black sebelum acara Peletakan Batu Pertama Pembangunan Pabrik PT. Cabot Asia Pacific South (PT CAPS) di Cilegon, Banten, Kamis (21/11/2019).


KEMENTERIAN Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri yang menghasilkan produk substitusi impor. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menarik investasi sektor tersebut, yang diharapkan bisa mengurangi defisit neraca perdagangan dan memacu pertumbuhan ekonomi nasional.

"Nah, ini yang sekarang dilakukan oleh Cabot, mereka akan menambah produksi black carbon yang diproduksi dari fase pertama perkembangan industrinya," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada Peletakan Batu Pertama Pembangunan Pabrik PT. Cabot Asia Pacific South (PT CAPS) di Cilegon, Banten, Kamis (21/11/2019).

Saat ini, PT. Cabot Indonesia (PT CI) merupakan satu-satunya produsen karbon hitam (carbon black) di dalam negeri, dengan total kapasitas produksi mencapai 90.000 ton per tahun. Korporasi ini akan menambah jumlah investasinya di Tanah Air sebesar Rp 1,4 triliun guna mendongkrak produksi carbon black sebanyak 80.000-90.000 ton per tahun dan masterbatch sekitar 20.000 ton per tahun.

"Kami mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi kepada PT. Cabot Indonesia yang akan membangun pabrik carbon black dan masterbatch di Indonesia. Kami memberi tantangan kepada Cabot Indonesia agar bisa operasional pada awal 2021," ungkap Agus dalam pernyataan tertulisnya.

Menperin menyampaikan, kebutuhan serat karbon hitam di industri dalam negeri saat ini masih cukup banyak, yang 70 persen dipasok dari luar negeri. "Berdasarkan data yang kami terima, kebutuhan dari carbon black di dalam negeri sebesar 230 ribu ton per tahun. Dan, 70 persen dari kebutuhan tersebut dari berbagai macam negara, termasuk China dan India," ucapnya.

Peningkatan kapasitas dari proyek ini, adalah menghasilkan carbon black lokal berkualitas tinggi yang akan digunakan untuk memenuhi permintaan konsumen Indonesia dan Asia Tenggara, yang meningkat sekitar 4-5 persen setiap tahunnya. Carbon black biasanya digunakan sebagai penguat pada produk ban dan produk karet lainnya. Selain itu, carbon black digunakan sebagai pigmen warna untuk plastik, cat dan tinta.

Menperin berharap, agar proses pembangunan pabrik PT CAPS dapat berjalan lancar. Sebab, dengan beroperasinya PT CAPS, Indonesia akan mampu melakukan substitusi impor carbon black sebesar 90.000 ton per tahun dengan nilai Rp 1,5 triliun per tahun.

"Memang saat ini kami sedang mendorong industri yang menghasilkan substitusi impor, seperti yang dilakukan oleh Cabot. Selain itu, kami memacu industri yang berorientasi ekspor," tegasnya.

Agus juga mengimbau agar proyek ini mengutamakan pada penggunaan komponen dan tenaga kerja lokal.

Senior Vice President sekaligus President of Reinforcement Materials Cabot Corporation, Bart Kalkstein mengatakan, pihaknya berinvestasi sebesar 100 juta dolar AS untuk meningkatkan kapasitas produksi black carbon.

"Sebagai produsen carbon black terbesar di dunia, kami memiliki posisi khusus untuk memperluas langkah kami secara global untuk dapat memenuhi kebutuhan konsumen di seluruh wilayah di dunia," ungkapnya.

Bart menambahkan, perluasan fasilitas produksi di Cilegon ini merupakan bagian proyek peningkatan kapasitas dan debottlenecking global yang telah diumumkan pada Mei 2018. Peningkatan kapasitas ini memungkinkan Cabot untuk mendukung pertumbuhan industri ban dan karet, serta karbon khusus di seluruh dunia.

Cabot telah mencatatkan perkembangan yang signifikan dalam mencapai tujuan peningkatan kapasitas produksi carbon black secara global sebesar 300 ribu metrik ton, dan akan mencapai target setelah proses commissioning dari fasilitas produksi baru ini.

Industri kimia
Pada kesempatan yang sama, Menperin Agus menyampaikan, selama ini sektor industri konsisten menjadi penggerak utama terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. "Sebab, sektor industri berperan penting dalam menciptakan nilai tambah, perolehan devisa dan penyerapan tenaga kerja yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Kemenperin mencatat, salah satu sektor manufaktur yang memberikan kontribusi cukup signifikan bagi perekonomian nasional, yakni industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia. Sepanjang tahun 2018, sektor tersebut memberikan kontribusi hingga Rp 166,89 triliun, dan pada triwulan II-2019 sebesar Rp 63,88 triliun.

Sepanjang tahun lalu, nilai ekspor industri kimia menyentuh di angka 8,79 miliar dolar AS dengan total investasi mencapai Rp 26,2 triliun. "Industri kimia merupakan satu dari lima sektor yang sedang mendapat prioritas pengembangan, sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0," ujar Menperin.

Menperin menyebutkan, dalam upaya menggenjot daya saing industri nasional, pemerintah telah melakukan sejumlah langkah strategis, antara lain memfasilitasi pemberian insentif fiskal seperti tax allowance, tax holiday, dan super deduction tax.

"Selain itu, melakukan upaya pengendalian impor dan pengamanan pasar dalam negeri, optimalisasi pemanfaatan pasar dalam negeri dan pasar ekspor, serta Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN)," ungkapnya.

Pemerintah juga telah berkomitmen untuk membangun industri manufaktur yang berdaya saing global melalui percepatan implementasi industri 4.0. "Dalam upaya mendukung pelaksanaan Making Indonesia 4.0, pemerintah tengah mengupayakan penguatan SDM melalui program vokasi industri. Hal ini sangat penting guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang terampil dan kompeten sesuai kebutuhan
industri," tandasnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA