Ongkos Umrah di Bawah Rp 20 Juta, Menag : Itu Pasti Menipu

Nasional

Rabu, 20 November 2019 | 21:21 WIB

191120212032-ongko.jpg

ist

Menteri Agama, Fachrul Razi.


KASUS penipuan yang dilakukan First Travel terhadap jemaah umrah memberikan pelajaran tersendiri bagi Kementerian Agama. Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengaku pihaknya telah mengambil langkah meminimalkan kasus seperti yang dialami jemaah umrah First Travel.

Menyinggung soal biaya umrah, Menag menyatakan yang paling murah tidak kurang dari Rp 20 juta. Jika masih ada yang menawarkan biaya di bawah itu, Menag meminta jemaah untuk berhati-hati.

"Kami sudah coba mengambil langkah-langkah ke depan. Insyaallah ke depan nggak akan terjadi lagi. Kami sudah kasih patokan, misalkan, ongkos umrah itu paling murah Rp 20 juta. Kalau ada yang di bawah Rp 20 juta, jangan ikut, itu pasti menipu," kata Fachrul di Hotel Mercure, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, Rabu (20/11/2019).

Fachrul mengaku pihaknya telah mematok biaya umrah sedemikian rupa. Menurutnya, jika ada pihak yang menawarkan biaya umrah kurang dari Rp 20 juta, dia pastikan hal tersebut adalah penipuan.

"Kami sudah kasih patokan, misalkan, ongkos umrah itu paling murah Rp 20 juta. Kalau ada yang di bawah Rp 20 juta, jangan ikut, itu pasti menipu," tegasnya.

Fachrul juga mengakui, pihaknya telah mengevaluasi kasus First Travel. Ia mengimbau penyedia jasa travel tidak hanya mementingkan profit.

"Oh banyak. Nanti kami lihat, kami evaluasi masing-masing, satu per satu. Jangan mengambil keuntungan saja. Kalau di bawah Rp 20 juta, pastikan itu, itu pasti bohong, pasti nipu," tuturnya dilansir detik.com.

Ketika ditanya soal aset First Travel yang disita oleh negara, Fachrul mengaku masih terus memikirkan solusi terbaik. Dia menyinggung putusan Mahkamah Agung (MA) yang sudah inkrah.

"Kami juga ingin coba-coba memikirkan apa langkahnya karena kan sudah ada putusan MA, sudah inkrah. Tidak banyak yang bisa kita lakukan. Meskipun begitu, nanti akan kami dudukkan bersama, mengembangkan, kira-kira apa yang bisa dilakukan," pungkasnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA