Perayaan Hari Anak se-Dunia di Solo dalam Suasana Santai dan Ceria

Nasional

Rabu, 20 November 2019 | 16:44 WIB

191120164519-peray.jpg


SUASANA santai dan jauh dari kesan formal, mendominasi peringatan Hari Anak se Dunia sekaligus peringatan 30 Tahun Ratifikasi Konvensi Hak-hak Anak (KHA) di Indonesia, yang dirayakan di sebuah taman kota "Taman Jayawijaya" di kawasan Perumnas Mojosongo, Rabu (20/11/2019).

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga, beserta Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo, Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo, Unicef Country Representative to Indonesia Debora Comini dan sejumlah pejabat, ikut duduk lesehan di lantai panggung permanen yang beralaskan karpet serba biru.

Ketua Forum Anak Surakarta (FAS), Belva Aulia menuturkan kepada wartawan, rangkaian kegiatan peringatan Hari Anak se Dunia yang digelar bersamaan dengan peringatan 30 tahun KHA, seluruhnya digarap anak-anak dan disetting dalam suasana dunianya anak. Bahkan, menurut dia Monumen 30 Tahun KHA yang didirikan tepat di tengah taman dengan simbol-simbol dan ragam ornamen pada monumen bermotif batik itu, merupakan hasil karya yang dirancang anak-anak.

"Monumen itu terdiri dari dua tingkat, bagian pondasi dan relief bagian atas. Makna relief adalah perjalanan KHA dan makna ornamen empat anak adalah simbol empat hak dasar anak. Ornamen yang melingkar keatas adalah simbol agar hak-hak dasar anak tumbuh dan berkembang. Sedangkan anak yang memegang bola dunia mengandung makna, anak-anak bisa merubah dunia," tutur Belva yang masih duduk di bangku SMP Negeri 1 Solo.

Dalam rangkaian Hari Anak se Dunia tersebut, ratusan anak dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di Kota Solo untuk menyuarakan generasi mereka dalam mewujudkan masa depan Indonesia. Melalui diskusi panjang selama dua hari di Temu Forum Anak Jawa Tengah (Central Java Children Forum Summit), terserap suara anak-anak Indonesia termasuk forum anak dari Gorontalo dan Kepulauan Riau dan lain-lain. Suara anak-anak yang terdiri dari 12 butir manifesto tersebut, dibacakan anak-anak termasuk seorang penyandang disabilitas, di depan Menteri PPPA, Gubernur Jateng, Wali Kota Solo dan pejabat lain yang ikut menyemarakkan perayaan Hari Anak Se Dunia dan 30 Tahun Konvensi Hak Anak.

Perwakilan Unicef Indonesia, Debora Comini mengungkapkan, tahun 2019 ini, Hari Anak Se Dunia dirayakan di seluruh penjuru dunia sebagai hari aksi bagi anak, oleh anak dan untuk anak. Makna penting dari tema itu adalah agar anak-anak memiliki ruang dan suara untuk didengar.

“Konvensi Hak Anak adalah tonggak sejarah bagi anak. Itu merupakan pengakuan bahwa anak tidak hanya sebagai penerima pasif pengasuhan dan perlindungan, tapi juga sebagai individu-individu dengan hak-hak yang harus dihormati,” jelasnya.

Dalam menghadapi tantangan ke depan, menurut Debora Comini, saat ini sangat mendesak perlunya pengakuan hak anak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Selain itu, banyak pihak perlu melibatkan anak-anak dalam menciptakan solusi bagi masa depan yang lebih baik.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA