Menteri PPPA Sayangkan Banyak Pendidik Tersangkut Kasus Tindak Kekerasan Terhadap Anak

Nasional

Rabu, 20 November 2019 | 12:58 WIB

191120125919-mente.jpg

Tok Suwarto

Menteri PPPA, I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga, bersama Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo dan Perwakilan Unicef meresmikan monumen 30 tahun KHA di Taman Jayawijaya Kota Solo


MENTERI Pemberdayaan Perempun dan Perlindungan Anak (PPPA), Gusti Ayu Bintang Darmawati menyayangkan banyak kasus hukum dengan korban kekerasan terhadap anak-anak tersangkanya para pendidik. Dia menyatakan, Kementerian PPPA akan mencari pola untuk mencegah jangan sampai kasus tersebut selalu terulang.

"Sekarang ini banyak kasus hukum yang melibatkan anak-anak yang  justru pelakunya para pendidik. Itu kita sayangkan. Ke depan kita akan mencari pola mencegahan, dengan jalan bersinergi bersama kementerian, lembaga dan pemerintah daerah agar penanganan masalah anak terintegrasi," ujarnya kepada wartawan, di sela peringatan Hari Anak se Dunia sekaligus peringatan tiga dasawarsa ratifikasi Konvensi Hak-hak Anak (KHA) di Taman Jayawijaya Mojosongo, Kota Solo, Rabu (20/11/2019).

Menteri PPPA bersama Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo dan Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo, juga meresmikan Monumen KHA hasil rancangan anak-anak dan menanam "Pohon Harapan Anak" di tengah Taman Jayawijaya.

Selain upaya pencegahan masalah hukum yang melibatkan anak-anak dan para pendidik, menurut Menteri PPPA, masalah lain yang perlu diupayakan pencegahannya antara lain masalah pekerja anak dan lain-lain.

Namun dia menegaskan, dalam menangani masalah yang terkait dengan perlindungan anak sangat tergantung situasi dan kondisi setiap daerah.

"Kami di kementerian dan lembaga, ketika bicara masalah perempuan dan anak kewenangan kami sangat terbatas. Padahal, harapan masyarakat terhadap Kementerian PPPA sangat besar, sehingga salah satu caranya berkolaborasi dengan kementerian dan lembaga lain," jelasnya.

Sebelumnya, Gusti Ayu Bintang Darmawati, mengajak semua pihak mewujudkan visi abadi dari hak-hak asasi manusia untuk semua anak, yaitu mengakhiri kemiskinan anak dan meningkatkan kelangsungan hidup anak.

Selain itu, dia mendorong peningkatan jumlah anak yang terdaftar di sekolah, mengakhiri pengasingan sosial bagi anak-anak dan menjamin akses yang sama ke layanan-layanan penting.

"Sekarang kita harus tidak lagi membungkam anak-anak, sebaliknya harus membiarkan mereka berpartisipasi secara bermakna dalam keputusan yang menyangkut mereka,” kata Gusti Ayu Bintang Darmawati.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang diminta tanggapan tentang peringatan KHA tersebut, berharap, predikat ‘ramah anak’ jangan  sekadar menjadi aturan dan tidak sekadar menjadi jargon untuk memenuhi target-target saja. Dia menandaskan, ramah anak harus berupa sesuatu yang bisa diberikan dan benar-benar dapat dinikmati oleh anak.

“Kalau anak ingin main di tempat yang menyenangkan, maka ramah anak adalah taman. Ramah anak artinya tidak boleh ada bullying, maka ramah anak adalah juga berteman dan yang paling gampang adalah menanyakan langsung kepada anak-anak apa yang harus diberikan oleh pemerintah kepada mereka,” tuturnya.

Pada peringatan Hari Anak se Dunia dan 30 tahun KHA yang juga dihadiri perwakilan Unicef tersebut, anak-anak dan remaja menyerukan pentingnya keterwakilan anak pada pengambilan keputusan dan kebijakan negara.

Pernyataan anak yang terdiri dari 12 butir dan disusun dalam forum temu anak  Provinsi Jawa Tengah yang dihadiri 150 anak. Di antaranya berupa harapan agar setiap anak memiliki identitas legal, tidak ada lagi perkawinan usia anak dan pemberantasan korupsi agar sumber daya bisa digunakan untuk memenuhi hak-hak anak.


Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA