Genthong dan Kendhi dari "Lempung Ajaib" Mampu Serap Logam Berat

Nasional

Jumat, 15 November 2019 | 21:03 WIB

191115204606-genth.jpg

Tok Suwarto

Prof. Dr. Pranoto, guru besar FMIPA UNS (tengah), penemu "lempung aktif ajaib" alofan yang mampu menyerap sebagian besar kandungan logam berat di perairan dan layak untuk konsumsi. Dia bersama Prof. Dr. Munawir Yusuf dan Prof. Dr. Eng. Syamsul Hadi, yang akan dikukuhkan sebagai guru besar.


GENTHONG atau tempayan air dan kendhi tempat air minum tradisional Jawa yang terbuat dari tanah liat atau "lempung aktif" dan dalam istilah ilmiah disebut "alofan", merupakan tempat penyimpan air bersih relatif paling aman dari muatan zat-zat berbahaya bagi kesehatan manusia. Hal itu karena alofan merupakan lempung aktif atau "lempung ajaib" yang mempunyai karakteristik mampu menyerap logam berat, zat warna dan bahan berbahaya beracun (B3) dan mampu mendorong serapan lebih dari 90 persen kontaminan.

Prof. Dr. Pranoto, guru besar bidang kimia lingkungan air Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Solo, menyampaikan hasil penelitiannya tersebut kepada wartawan, Jumat (15/11/2019). Dia menjelaskan, hasil temuannya tentang lempung aktif alofan sebagai absorben alam, akan dibacakan dalam pengukuhannya sebagai guru besar, Senin (18/11/2019), dengan judul "Pemanfaatan Lempung Aktif Alofan Sebagai Adsorben Alam Dalam Pengelolaan Lingkungan Air yang Berkelanjutan”.

"Karakteristik alofan sebagai absorben pada genthong dan kendhi yang terbuat dari tanah liat, berfungsi menyerap kontaminan dalam air. Konsentrasi optimum lempung aktif alofan, mampu menyerap logam kromium sebesar 0,050 mg/g atau 99,63 persen, logam besi sebesar 0,250 mg/g atau 99,81 persen, logam timbal sebesar 2,818 mg/g atau 70,43 persen, logam mangan sebesar 0,192 mg/g atau 89,5 persen, logam tembaga sebesar 0,188 mg/g atau 93,93 persen dan logam kadmium sebesar 0,116 mg/g atau 98,96 yang terkandung dalam air," jelasnya.

Prof. Pranoto menambahkan, para leluhur dahulu meminum air sumur yang ditempatkan di kendhi dan ibu-ibu rumah tangga menyimpan air di genthong. Namun tidak terkena cemaran logam berat karena besarnya serapan alofan yang merupakan bahan baku pembuat alat rumah tangga itu terhadap kandungan logam berat di air.

Dia mengingatkan, tanah liat atau lempung untuk bahan lempung aktif alofan melalui proses pemanasan yang diambil dari satu daerah dengan daerah lain berbeda kemampuan daya serapnya.

Menurut dia, lempung yang berasal dari kawasan gunung api pasif, seperti kawasan Gunung Papandayan di Jawa Barat, Gunung Sindoro Sumbing Jawa Tengah dan di kawasan Gunung Lawu perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur, jauh lebih tinggi daya serapnya dibanding daerah lain. Sedangkan bahan lempung aktif dari kawasan lain, tingkat efektivitas penerapannya terhadap logam berat relatif lebih rendah namun tetap bisa dimanfaatkan sebagai absorben alam.

Prof. Pranoto yang telah mengaplikasikan "lempung ajaib" alofan untuk membuat alat penjernih air dengan nama "Prans Water Filter" dan "Prans Water Filter Sedotan Aktif”, menyatakan, dia mengangkat tema penting dan mendasar memanfaatkan absorben alam tersebut. Hal itu sebagai upaya mewujudkan harmoni pengelolaan ekosistem air melalui pemanfaatan lempung aktif alofan dalam pengelolaan lingkungan air berkelanjutan.

Merujuk pada kebutuhan air bersih di perkotaan dengan mengambil air permukaan sebagai bahan baku, seperti dari air sungai, dia berharap temuannya menjadi solusi dalam mencukupi kebutuhan air bersih siap konsumsi di masyarakat.

Dalam pengukuhannya sebagai guru besar, Prof. Pranoto akan dikukuhkan bersama Prof. Dr. Munawir Yusuf (FKIP) dan Prof. Dr. Eng. Syamsul Hadi (FT-UNS). Pada pengukuhan itu, Prof. Munawir membacakan pidato berjudul "Paradigma Baru Pendidikan Bagi Penyandang Disabilitas" dan Prof. Syamsul Hadi dengan topik "Energi Terbarukan untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan".

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA