Serikat Ekonomi Pesantren Diminta Hasilkan Produk Berdaya Saing Global

Nasional

Jumat, 15 November 2019 | 19:38 WIB

191115193938-serik.jpg

Septian Danardi

Pengurus SEP bertemu dengan Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki di gedung Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta, Jumat (15/11/2019).


SERIKAT Ekonomi Pesantren (SEP) yang baru saja dideklarasikan langsung diminta berlari kencang untuk menghasilkan produk yang bisa bersaing di dunia global. Hal tersebut terungkap saat pengurus SEP bertemu dengan Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, di ruang rapat menteri gedung Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta, Jumat (15/11/2019).

Apa yang menjadi target dari SEP sangat sejalan dengan program Kementerian Koperasi dan UKM yang akan menghidupkan koperasi mahasiswa dan pesantren.

"Kami ingin pesantren mampu menghasilkan produk yang bisa bersaing secara global, untuk mendongkrak ekonomi masyarakat dan bisa menumbuhkan enterpreneur baru di kalangan santri," kata Teten Masduki.

Ia meminta agar SEP dalam waktu dekat ini membuat cetak biru program dalam memajukan ekonomi umat. Selain itu, produk yang dihasilkan memiliki standar yang tinggi dan bisa bersaing secara global. Sehingga kedepannya masyarakat bisa semakin sejahtera.

Teten memaparkan, saat ini ekspor produk UKM dari Indonesia baru 15,7 persen. Padahal jumlah pelaku UKM di Indonesia mencapai 60 juta. Kondisi ini kalah oleh Malaysia yang sudah 28 persen, padahal pelaku UKM-nya hanya 600 saja.

"Pesantren dijadikan basis ekonomi umat, bagaimana sekarang ini menjadi penggerak perekonomian masyarakat. Selain juga mengajak masyarakat berakhlak baik. Kepala santri diisi, hati diisi perut juga diisi," katanya.

Sementara itu, deklarator SEP, Ahmad Tazzaka Bonanza mengatakan, dalam waktu dekat ini SEP akan membuat cetak biru program dalam pemberdayaan umat melalui koperasi. Pihaknya akan mendorong anggota SEP yang berjumlah 1.078 pesantren untuk membangun koperasi.

Dari 1.000 pesantren tersebut 500 di antaranya sudah memiliki koperasi dan sisanya akan diupayakan untuk membuat koperasi. "Jadi target kami akan membangun antara 200 sampai 500 koperasi pesantren. Sehingga pada tahun 2020 nanti ada 1.000 koperasi pesantren yang aktif," ujarnya.

Sebelum pembentukan, kata Ahmad, para santri akan diberi edukasi atau pelatihan soal perkoperasian dengan sistem magang di pesantren yang koperasinya sudah berjalan. Termasuk dibantu dari sisi permodalan.

"Rencananya kami akan membuat induk koperasi yang mewadahi 1.000 koperasi pesantren yang ada yakni Koperasi Serikat Ekonomi Pesantren atau Kasep," katanya.

Ahmad optimistis dengan adanya Koperasi Serikat Ekonomi Pesantren akan mampu memberdayakan dan mensejahterakan umat. Tentunya produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang berdaya saing global.

Ia mengatakan, potensi ekonomi di pesantren sangat besar. Di Indonesia ini ada 3,9 juta santri yang sebagian besarnya berada di Jawa Barat. Khusus anggota SEP saja jumlah santrinya mencapai 198.018 orang dengan jumlah kyai sebanyak 7.227 orang.

"Bayangkan kalau koperasi pesantren bisa memproduksi sabun, pasarnya sudah sangat jelas," katanya seraya menambahkan, saat ini SEP sudah menjalin kemitraan dengan beberapa pengusaha dalam mengembangkan produk.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA