Anak-Anak Kota Solo Ingin Suaranya Didengar

Nasional

Kamis, 14 November 2019 | 21:18 WIB

191114211747-anak-.jpg

Tok Suwarto

Belva Aulia Putri Ayu Rehardini (tengah) dari Forum Anak Surakarta (FAS), didampingi perwakilan Unicef Indonesia, Armunantha, memberikan keterangan tentang seruan agar suara anak didengar, Kamis (14/11/2019).


ANAK-anak di Kota Solo menyeru agar suara mereka untuk mendapatkan hak-hak anak didengar. Karena suara anak adalah merupakan pandangan anak terhadap segala sesuatu yang tidak ramah anak.

"Kami di antaranya menyuarakan kawasan tanpa rokok karena asap rokok mengganggu tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan. Kami juga usul radio anak, karena kebanyakan radio tidak ramah anak dengan konten yang tidak sesuai kepribadian anak," ujar Ketua Forum Anak Surakarta (FAS), Belva Aulia Putri Ayu Rehardini, kepada wartawan di rumah dinas Wali Kota Solo "Loji Gandrung", Kamis (14/11/2019).

Dia yang baru pulang sebagai utusan Indonesia di forum hak-hak anak di Jerman, menjelaskan rencana peresmian monumen Konvensi Hak-hak Anak (KHA) di Taman Jayawijaya, Kota Solo, bersamaan peringatan 30 tahun KHA, 20 November 2019.

Belva mengungkapkan, kini suara anak tentang hak-haknya harus didengar dan pandangan anak-anak juga harus menjadi pertimbangan dalam membuat kebijakan. Dalam peringatan KHA ke-30 sejak Indonesia meratifikasi KHA pada 1989, menurut siswa SMP Negeri 1 Solo itu, anak-anak yang tergabung dalam FAS mengerjakan monumen KHA tersebut, sejak dari perencanaan dan pembuatan desain.

"Yang mendesain monumen KHA bukan orang-orang tua atau orang dewasa. Tetapi kami anak-anak yang mengambil peran dalam peringatan 30 tahun KHA," jelasnya.

Dia menambahkan, dalam rangakaian peresmian monumen 30 tahun KHS, juga digelar kegiatan Kids Take Over, yaitu sebanyak 25 orang anak akan melakukan wawancara dengan narasumber tokoh-tokoh penting di Jawa Tengah dan Indonesia. Kegiatan yang merupakan bagian dari workshop jurnalistik anak itu, dia sebut sebagai simbol pelibatan anak dalam pengambilan kebijakan.

"Kami anak-anak perlu dilibatkan, karena pada dasarnya anak memiliki hak untuk berpartisipasi dan hak untuk didengar. Hak-hak tersebut juga salah juga satu manifesto yang dirumuskan di konferensi kota layak anak di Jerman, karena ada beberapa negara yang suara anak-anak belum didengar orang dewasa," lanjutnya.

Perwakilan Unicef Indonesia, Armunantha yang mendampingi Belva menyatakan, dalam peringatan Hari Anak se-Dunia dan peringatan 30 tahun KHA, anak-anak akan memegang peranan penting. Anak-anak menjadi fokus, pelaku yang sekaligus menyajikan keinginan-keinginan mereka sendiri.

"Partisipasi anak tersebut sebagai upaya agar anak mengambil kebijakan terhadap apa yang mereka inginkan. Selama ini, anak merasa masih anak sehingga dianggap tidak perlu didengar suaranya. Tetapi pada peringatan Hari Anak se Dunia ini, anaklah yang menjadi pemimpin, yang menjadi inisiator dan yang memutuskan," tandasnya.

Armunantha menambahkan, anak-anak penting untuk mendapatkan kesempatan yang sangat bagus untuk menyampaikan ide-ide, gagasan dan didengar suaranya. Sedangkan pemerintah dituntut memenuhi hak-hak dasar anak, seperti akta kelahiran, ruang terbuka hijau untuk anak dan seperti di Kota Solo, Pemkot memfasilitasi diskon belanja khusus untuk keperluan sekolah.

"Hak-hak anak itu sejak lahir umur nol tahun sudah harus dipenuhi dengan akta kelahiran. Kemudian hak-hak untuk tumbuh kembang dengan penyediaan ruang terbuka hijau. Dan fasilitas diskon belanja itu merupakan media pendidikan agar anak hemat dan terbiasa menabung," tuturnya lagi.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA