Achmad Purnomo Ingin Torehkan Sejarah Seperti Mahathir Mohamad

Nasional

Rabu, 13 November 2019 | 22:05 WIB

191113220324-achma.jpg

Tok Suwarto

Achmad Purnomo.


WAKIL Wali Kota Solo, Achmad Purnomo, yang kini berusia 72 tahun, pada pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 mendatang, diusung Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kota Solo sebagai bakal calon Wali Kota Solo periode 2020-2025. Achmad Purnomo yang telah mengemban jabatan wakil wali kota satu setengah periode dan dalam pencalonannya dipasangkan dengan Teguh Prakosa, menyatakan ingin menorehkan sejarah sebagai kepala daerah tertua.

"Kita melihat, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad terpilih di usia tua. Di Indonesia, KH Ma'ruf Amin dan mantan Wapres Jusuf Kalla juga terpilih sebagai wakil kepala negara di usia tua. Kalau saya ditugasi partai dan terpilih sebagai Wali Kota Solo, saya juga masih mampu mengemban tugas melayani masyarakat," ujar Achmad Purnomo kepada galamedianews.com, di Balai Kota Solo, Rabu (13/11/2019).

Wakil Wali Kota Solo yang pernah gagal dalam Pilkada karena dikalahkan pasangan Jokowi-FX Hadi Rudyatmo ini menyatakan, di usia tuanya sekarang ini kondisi kesehatan dan kebugaran fisiknya tidak ada masalah. Dia menunjukkan, aktivitasnya sebagai wakil wali kota mendampingi FX Hadi Rudyatmo, pada masa-masa menjelang akhir masa jabatan tidak berkurang bahkan kian meningkat.

"Niat kita memang melayani masyarakat. Sehingga dengan kondisi kesehatan dan kebugaran fisik yang masih baik, kegiatan pelayanan saya bersama pak Rudy tidak berkurang bahkan makin padat," jelasnya.

Disinggung dukungan keluarga yang pada pemilihan sebelumnya tidak bulat, Achmad Purnomo berpendapat, di keluarganya dikembangkan sikap bebas berpendapat. Ketika salah seorang anaknya tidak setuju dan isterinya juga kurang mendukung, Wakil Wali Kota Solo itu menganggap sikap keluarganya itu sebagai hal biasa, sehingga setelah dia terpilih akhirnya mereka memberi dukungan.

"Siapapun, termasuk di keluarga bebas berpendapat. Sewaktu anak sulung saya tidak setuju saya dicalonkan, ya tidak masalah. Karena sikap tidak setuju bukan untuk menghambat, tetapi sebagai pendapat untuk dipertimbangkan," tuturnya lagi.

Dalam pencalonannya di internal partai sendiri, pasangan Achmad Purnomo-Teguh Prakosa (Puguh) mendapat hadangan dari putera sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka yang belakang bermanuver mencari dukungan sampai ke DPP PDIP untuk mendapatkan rekomendasi. Menanggapi hal itu, Achmad Purnomo menyatakan, dia bersikap tenang-tenang saja dan tidak mempermasalahkan pergerakan putera sulung Presiden Joko Widodo tersebut.

"Saya tidak punya hak menanggapi yang dilakukan Mas Gibran. Itu kan hak pribadi semua orang, termasuk beliau. Kalau saya dicalonkan itu tugas partai kepada kadernya dan saya sebagai kader siap menjalankan amanah sesuai ketentuan," sambungnya.

Sebagai petugas partai, lanjut Purnomo, dia akan taat dan patuh terhadap keputusan DPP. Bila rekomendasi pencalonan jatuh ke tangannya, dia akan melaksanakan dengan baik. Sedangkan jika sebaliknya Gibran yang mendapat rekomendasi, Purnomo menyatakan tetap patuh. Pasalnya, Purnomo yang berlatar belakang akademisi alumni Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, mengaku tak punya ambisi selain ingin menghabiskan masa tuanya untuk melayani masyarakat.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA