Lakukan Penipuan Mobil Murah, Pengelola Akumobil Terancam 4 Tahun Penjara

Meja Hijau

Kamis, 13 Februari 2020 | 18:07 WIB

200213180701-lakuk.jpg

Lucky M. Lukman

ENAM orang terdakwa yang semuanya pengelola PT Aku Digital Indonesia (Akumobil) terancam hukuman selama empat tahun penjara. Mereka didakwa telah melakukan penipuan bermodus menjual mobil murah dengan jumlah korban mencapai ribuan orang.

Adapun keenam terdakwa yakni Bryan Jhon Satya Andristian (Direktur Utama), Alief Al-Yasien (Direktur Administrasi dan Keuangan), Ridwan Sadewa (Direktur Divisi Motor dan General), Firman Rakhman (Direktur Operasional Marketing Unit), Nurul Husni Farid (Direktur Operasional) dan Muhammad Idris (Direktur HRD dan Legal). Mereka dijerat dakwaan alternatif, yakni pasal 378, pasal 372, dan pasal 480 KUHPidana dengan ancaman maksimal 4 tahun penjara.

Hal itu terungkap dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jln. L.L.R.E Martadinata, Kamis (13/2/2020). Dalam dakwaannya, JPU Kejari Bandung Melur Kimaharandika menyatakan terdakwa Bryan bersama lima terdakwa lainnya telah melakukan perbuatan melawan hukum, yakni menipu atau menggelapkan uang 1.342 konsumen Akumobil dan 418 konsumen Akumotor.

"Akibatnya para konsumen mengalami kerugian sekitar Rp 101,6 miliar dan Rp 380 juta," ujar Melur.

Dalam paparannya di persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Suko Harsono, JPU Melur menjelaskan, para terdakwa diketahui hanya memiliki modal sebesar Rp 12 juta. Karena menjual mobil sangat murah dan banyaknya konsumen yang memesan, mereka akhirnya tidak bisa memenuhinya.

Adapun perbuatan tersebut dilakukan para terdakwa berawal saat mereka mendirikan perusahaan digital dengan cara membuat aplikasi agar konsumen bisa memberi kendaraan secara online dengan harga jauh dibawah harga diler resmi.

"Berdirilah perusahaan dengan nama PT Aku Digital Indonesia. Modal awal Rp 12 juta. Namun dalam akta pendirian disebutkan modalnya menjadi Rp 10 miliar dalam bentuk saham," ungkap Melur.

Kemudian untuk mempoerkenalkan produk perusahaan, para terdakwa berniat menjual mobil seharga Rp 60 juta, walaupun harga mobil tersebut dibeli dari dealer seharga Rp 130 juta. Untuk mewujudkannya mereka berencana membuka acara di beberapa lokasi untuk penjualan mobil baik baru ataupun bekas.

Selanjunya para terdakwa membuat acara "Flash Sale" dengan membuat selebaran berisi "Dapatkan ratusan unit mobil dengan harga Rp 50 juta, baik baru atau bekas berbagai merk dan jenis".

Mereka juga menwarkan kupon undian seharga Rp 1 juta yang sekaligus dijadikan DP pembelian mobil, dan startegi pemasaran pun berhasil dan menarik ribuan konsumen.

"Untuk meyakinkan konsumen, para terdakwa membeli mobil sesuai pesanan konsumen di diler. Tapi karena harganya berbeda, maka tidak semua pesanan konsumen bisa dipenuhi, walaupun mereka sudah membayar lunas," papar Melur.

Namun para terdakwa tetap melakukan strategi marketing itu sehingga semakin banyak konsumen yang tertarik. Akibatnya, sebanyak 1.342 konsumen Akumobil dan 418 konsumen Akumotor yang sudah membayar lunas dan belum mendapatkan unit mobilnya mengalami kerugian sekitar Rp 101,6 miliar, atau setidak-tidaknya 8 konsumen yang sudah bayar dan belum mendapatkan unit kendaraan mengalami kerugian Rp 380 juta.

Akibat perbuatannya, para terdakwa dijerat pasal 372 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 jo pasal 64 ayat (1) KUHPidana tentang penipuan sebagaimana dakwaan kesatu, atau pasal 378 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 jo pasal 64 ayat (1) KUHPidana tentang penipuan sebagaimana KUHPidana tentang penggelapan, atau ketiga pasal 480 KUHPidana tentang penadah barang curian.

Atas dakwaan tersebut, para terdakwa dan kuasa hukumnya tidak mengajukan eksepsi. Sidang ditunda hingga Selasa (18/2/2020) dengan agenda pemeriksaan saksi.

Sementara itu, penasihat hukum terdakwa Bryan, Mariani Wiwik menyebut kliennya sangat kooperatif. Bahkan Bryan memiliki niatan untuk mengembalikan semua uang para konsumen. Ia pun menyatakan, di tingkat Pengadilan Niaga Jakarta pihak Akumobil menang.

"Ada niat dari Bryan untuk membayar kepada para konsumen. Buktinya di pengadilan Niaga kita menang. Dan perkara perdatanya juga masih berjalan," ujarnya usai persidangan.

Wiwik menambahkan, pembayaran kepada konsumen saat ini terhenti karena kliennya ditahan dan perusahaan tidak bisa berjalan. Tapi, pihaknya terus menjalin komunikasi dengan para konsumen.

"Yang harus dibayarkan ke konsumen itu totalnya Rp 70 miliar. Bahkan, ada juga konsumen yang masih mau menunggu unit (mobil-motor) datang. Mereka juga masih menghubungi kami dan manajemen. Mereka mau menunggu sampai proses hukum di sini selesai. Yang jelas klien kami ini sangat kooperatif dan memang sudah ada niatan untuk membayar," pungkasnya. 

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA