Dian Berjuang Menuntut Haknya, Hakim Sarankan Kedua Pihak Berdamai Soal Warisan

Meja Hijau

Kamis, 16 Januari 2020 | 18:33 WIB

200116213315-dian-.jpg

Lucky M. Lukman

SUASANA berbeda terjadi di ruang sidang 1 Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jln. L.L.R.E Martadinata, Kamis (16/1/2020). Dian Novina, saksi sekaligus pelapor dalam perkara dugaan memasukkan keterangan palsu dalam akta otentik, sempat berkaca-kaca saat memberikan keterangan.

Perkara itu menyeret Rachmat Surya Puluhulawa alias Luke sebagai terdakwa. Luke tak lain adalah anak tiri dari Dian.

Dalam keterangannya, Dian mengungkapkan, sejak suaminya meninggal di tahun 2010, ia dan anaknya terusir dan terkatung katung karena ulah terdakwa.

"Sejak suami meninggal tahun 2010, saya dan anak terkatung katung. Bahkan sampai sekarang anak saya terusir dan tidak mendapatkan warisan dari bapaknya," ungkap Dian.

Diceritakan Dian, ia dan anaknya tidak dimasukkan sebagai ahli waris almarhum suaminya, H. Muhammad Willy Suganda oleh terdakwa Luke. Padahal dia adalah istri sah almarhum dan juga mempunyai keturunan yang seharusnya mendapatkan haknya sebagai ahli waris.

"Tapi terdakwa malah menghapus nama anak saya sebagai ahli waris untuk membuat sertipikat tanah di Dago seluas 2.1 hektare," tambahnya.

Kepada Majelis Hakim yang diketuai Edison Muhammad, Dian mengaku hanya ingin membagi warisan suaminya tersebut sesuai dengan hukum Islam yang berlaku.
Namun anehnya, saat dia mendatangi Pengadilan Agama, penyelesaian kasus waris mendiang suaminya tersebut dinyatakan sudah selesai.

"Tiba-tiba saja selesai tanpa ada persetujuan dari kedua belah pihak," katanya.

Sebagai informasi, saat meninggal dunia, H. Muhammad Willy Suganda meninggalkan sejumlah harta gono gini. Di antaranya sebuah Hotel di Jalan Riau, rumah di Jalan Setiabudi, tanah di Lembang, tanah di Ciawi dan berbagai aset lainnya.

"Saya hanya meminta bagian hak anak saya sebagai ahli waris almarhum. Itu saja, tidak minta yang lain," tegas Dian.

Pada persidangan kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Bandung ikut menghadirkan saksi lainnya, yakni kuasa hukum Dian, Sri Suharyono. Sri mempertegas bahwa perdamaian tahun 2012 lalu tanpa sepengetahuan Dian.

Dalam keterangannya, Sri juga menyebut pihak Dian terbuka untuk berdamai. Pasalnya, masalah ini terjadi di antara sesama keluarga.

"Tapi dari pihak terdakwa seolah tidak mau untuk berdamai. Saya sudah beberapa kali mengajak pihak terdakwa untuk duduk bersama dan berdamai namun tawaran itu tidak disambutnya," ungkapnya.

Menanggapi hal itu, majelis hakim juga meminta agar kedua pihak damai saja karena memang masih keluarga.
"Silahkan untuk berdamai dan nanti ajukan surat perdamaiannya ke kami. Nanti ini akan menjadi pertimbangan majelis dalam memutus," kata Hakim Ketua, Edison Muhammad.

Seperti diketahui, ‎Luke didakwa memasukkan keterangan palsu dalam surat keterangan ahli waris, sebagaimana tercantum pada pasal 266, dan pasal 263 KUH Pidana. Surat keterangan ahli waris dibuat tersangka pada tanggal 15 Januari 2014 lalu. Surat tersebut atas nama Rachmat Surya Puluhulawa yang diterbitkan atau dikeluarkan oleh Camat Cidadap.

Perbuatan terdakwa beraawal pada Mei 2010 saat menyuruh ketua RT 02/02 Kelurahan Cidadap memasukan dirinya ke daftar ahli waris setelah ayahnya H. Muhammad Willy Suganda meninggal. Padahal sebenarnya, masih ada tiga ahli waris lainnya dari keturunan almarhum, yakni Dian Novina (istri), Muhammad Amir Zafran Suganda, serta Ayesha Zahira Ramadhani Suganda sebagaimana keputusan dari PA Bandung Bandung nomor 189/PdtP/2012IPA Bdg tanggal 12 April 2012.

Adapun maksud terdakwa memalsukan surat ahli waris itu tidak lain untuk memiliki semua harta peninggalan ayahnya, berupa lima sertipikat hak milik atas tanah yang terletak di Desa Mekarwangi, Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat.

Dengan adanya surat yang dipalsukan tersebut, maka terbitlah surat keterangan ahli waris dari kecamatan Cidadap yang isinya sesuai dengan permohonan terdakwa. Kemudian lima sertifikat tersebut dibaliknamakan atas nama terdakwa, dan akibatnya saksi Novina dan dua anaknya merasa dirugikan.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA