Curi Sparepart Pesawat, Oknum Karyawan PT DI Dihukum 10 Bulan-2,5 Tahun Bui

Meja Hijau

Kamis, 5 Desember 2019 | 14:31 WIB

191205143315-curi-.jpg

dok

ilustrasi

LIMA oknum karyawan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dijatuhi hukuman beragam oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bandung. Mereka dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana penggelapan dalam jabatan berupa mencuri dan menjual sparepart pesawat dengan nilai kerugian negara mencapai Rp 5,4 miliar.

Hal itu terungkap dalam sidang putusan yang digelar di PN Bandung, Jalan L.L.R.E Martadinata, Kamis (5/12/2019). Ketua Majelis Yulia menyatakan para terdakwa terbukti bersalah sebagaimana Pasal 374 KUHPidana Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana Jo Pasal 64 ayat 1 KUHPidana.

"Menjatuhkan hukuman kepada terdakwa Agus Zaenudin dan terdakwa Mochammad Radenaswara masing-masing selama dua tahun dan enam bulan," ujar hakim.

Dalam sidang tersebut, juga dibacakan vonis untuk tiga terdakwa lainnya. Mereka yaitu Dian Hardiansyah dan Wawan Kriswan yang dijatuhi hukuman 1 tahun dan enam bulan, kemudian terdakwa Indra Nanda Lesmana hukuman selama 10 bulan. 

Vonis dari Majelis Hakim itu lebih ringan dari tuntutan JPU Kejari Bandung Lucky Afgani. Sebelumnya Agus dan Radenaswara masing-masing dituntut 3 tahun, terdakwa Dian dan Wawan dituntut 2 tahun dan terdakwa Indra dituntut satu tahun.

Hal yang memberatkan perbuatan para terdakwa yaitu merugikan negara Rp 5,4 miliar. Sedangkan yang meringankan, para terdakwa bersikap sopan, kooperatif dan mengakui perbuatannya. Atas putusan tersebut para terdakwa mengaku pikir-pikir, begitu juga tim JPU. 

Dalam uraiannya hakim menyatakan terdakwa Agus Zaenudian dan empat terdakwa lainnya, antara Mei 2018 sampai September 2018, bertempat di Gudang CH, Gudang CG dan Gudang Ex Repair Area PT DI dengan sengaja melawan hukum memiliki barang yang bukan hak miliknya.

"Yakni sparepart pesawat terbang yang nilainya mencapai 374.266.53 dolar AS atau Rp 5.426.864.685," ungkap hakim.

Adapun barang yang milik PT DI yang digelapkan oleh para terdakwa itu totalnya sebanyak 19 item, dan diperjualbelikan tanpa melalui standar operasional prosedur (SOP) dan izin manajer PT DI.  

Dari 19 sparepart pesawat terbang yang dikeluarkan, sebanyak 18 item diberikan kepada Mochamad Randenamara yang merupakan staf divisi fasilitas umum PT DI. Caranya, Mochamad Randenaswara terlebih dahulu menghubungi terdakwa dan menginformasikan sparepart pesawat yang dibutuhkan untuk diambil dari gudang.

Kemudian pada saat jam istirahat atau setelah pegawai yang lain pulang dan kondisi ruangan sedang sepi, terdakwa mengambil sparepart pesawat yang dipesan dan memasukkannya ke dalam tas punggung dan diberikan kepada Radenaswara.

"Di hanggar fasilitas kerja Mochammad Radenaswara, terdakwa bertukar tas. Atau terkadang transaksi dilakukan di toilet lantai dasar Gedung Air Craft Integration jika barang yang dipesan berupa konektor pesawat terbang yang bisa disimpan di saku baju produksi terdakwa," jelasnya.

Sementara itu, khusus sparepart berupa empat buah konektor terdakwa berikan kepada Indra Lesmana selaku staf gudang CG PT DI untuk mengambil sparepart tersebut dengan menawarkan fee/keuntungan sebanyak Rp 500 ribu untuk satu buah konektor.

Ia mengungkapkan, 18 sparepart yang diberikan kepada Mochamad Randenaswara, dijual secara bertahap ke luar, yakni ke Darmawan alias Budi alias Anduk, Iwan alias Beke dan Beni alias Benjol (DPO) dengan total penjualan senilai Rp 429 juta.

"Saksi Mochamad Randenaswara serahkan kepada terdakwa sebesar Rp 358 juta, dan sisanya Rp 71 juta keuntungan pribadinya," ujarnya.

Selain kepada Radenaswara, terdakwa juga menjual satu buah buah inverter yang digunakan untuk pesawat CN 235, produksi GE Aviation System kepada Dian Hadiansyah yang merupakan supervisor quality inspection production shop and sub assy di divisi quality assurance senilai Rp 45 juta, dan dijual oleh Dian ke Wawan karyawan kontrak PT DI senilai Rp 50 juta. 

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA