Diiming-Imingi Keuntungan Investasi Saham Emas, Lilih Malah Merugi Rp 2,6 Miliar

Meja Hijau

Selasa, 19 November 2019 | 16:39 WIB

191119163846-diimi.jpg

dok

ilustrasi


DIIMING-imingi keuntungan besar, H. Lilih Mulyadi malah harus menanggung kerugian. Kontraktor asal Kabupaten Subang itu harus merelakan uangnya yang mencapai Rp 2,6 miliar melayang hanya dalam tempo dua pekan.

Apa yang dialami Lilih bermula saat ia didatangi oleh marketing PT Kontak Perkasa Futures (KPF) yang menawarinya investasi saham emas. Pada awalnya Lilih tak tertarik sama sekali. Namun ia terus menerus didatangi dan ditawari untuk berinvestasi.

"Singkat cerita, klien kami ini akhirnya terbujuk dan menyimpan uangnya dengan maksudnya investasi saham emas. Saat itu marketing PT KPF menjanjikan keuntungan Rp 170 juta per bulan," terang Kuasa Hukum Lilih, Hamynudin Fariza kepada wartawan di kantornya, Jln. Lombok, Kota Bandung, Selasa (19/11/2019).

Hamynudin menambahkan, setelah terus dibujuk itu, Lilih menyetor uang sebesar Rp 1 miliar pada tanggal 26 September 2019. Uang tersebut disetor dengan cara mentransfer ke nomor account RTA81604 dengan nomor Receipt 062775. "Setelah menyetor uang, klien kami dihubungi oleh pihak PT KPF dan diminta marketing untuk mengiyakan semua pertanyaan yang disampaikan," jelas Hamynudin.

Setelah menyetor Rp 1 miliar di 26 September 2019, dua hari berselang Lilih dihubungi kembali oleh marketing PT KPF. Lilih kemudian diminta lagi untuk top up dana dan menyetor uang sebesar Rp 1 miliar.

"Jadi tanggal 28 September 2019 klien kami diminta lagi menyetor uang. Katanya uang Rp 1 miliar yang disetor tanggal 26 September 2019 sudah habis karena peluang trading sedang bagus. Klien kami dijanjikan keuntungan yang jauh lebih besar. Bahkan marketing menakuti-nakuti, jika tidak menyetor maka uang akan hangus," paparnya.

Dengan ketakutan, Lilih pun akhirnya menyetor lagi uang investasi sebesar Rp 1 miliar lewat dua kali mentransfer. Selang beberapa hari, tambah Hamynudin, kliennya menagih keuntungan. Namun marketing PT KPF tak menepatinya dan meminta Lilih untuk bersabar.

"Setelah itu, klien kami seperti dihiptonis dan marketing PT KPF memintanya untuk kembali melakukan top up sebesar Rp 60 juta. Dalihnya agar uang klien kami yang Rp 2 miliar bisa ditarik dan mendapat keuntungan. Karena panik dan ketakutan, klien kami akhirnya menyetor lagi Rp 600 juta ke rekening atas nama PT KPF," ungkap Hamynudin.


Namun ditunggu-tunggu, keuntungan yang dijanjikan oleh marketing PT KPF sama sekali tak pernah terbukti. Hingga saat ini Lilih tak menerima sepeser pun keuntungan tersebut. Karena itulah, Lilih mengalami kerugian sebesar Rp 2,6 miliar.

"Akhirnya klien kami melakukan gugatan perbuatan melawan hukum. Yang digugatnya PT KPF, direktur, manajer bisnis, marketing, pialang, wakil pialang. Sebelumnya klien kami pernah mencoba melaporkan kasus ini ke Krimsus Polda Jabar namun ditolak dengan alasan kasus ini masuk perdata," jelasnya.

Saat ini, ujar Hamynudin, gugatan kliennya sudah mulai disidangkan di PN Jakarta Selatan. Namun dua kali persidangan, para tergugat tak pernah hadir. Rencananya, sidang akan digelar lagi pada Kamis (21/11/2019).

"Menurut informasi klien kami, yang menjadi korban dari perusahaan itu sebenarnya banyak. Tapi dari mereka belum ada yang melapor. Makanya kami membuka posko pengaduan bagi mereka yang merasa menjadi korban seperti pa Lilih. Mereka bisa mendatangi posko di kantor kami yang ada di Siliwangi Driving Range, Jalan Lombok, Kota Bandung," pungkas Hamynudin.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA