Sembarangan Buang Limbah B3, PT Lusantex Didenda Rp 200 Juta

Meja Hijau

Rabu, 6 November 2019 | 14:19 WIB

191106141305-semba.jpg

dok

ilustrasi


PENGADILAN Negeri Bale Bandung menjatukan vonis pidana denda sebesar Rp 200 juta kepada PT Lusantex yang berlokasi di Jln. Moch. Toha, Kec. Dayeuhkolot, Kab. Bandung. Perusahaan itu dinyatakan bersalah karena melakukan dumping limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) batu bara tanpa izin.

Dalam situs resmi Pengadilan Negeri Bale Bandung dijelaskan, vonis terhadap perusahaan PT Lusantex dibacakan pada 21 Oktober 2019 lalu oleh Ketua Majelis Hakim, Sihar Hamonangan Purba dengan anggota Majelis Tohari Tapsirin dan Dinahayati Syofyan selaku Hakim anggota.

PT Lusantex yang diwakili direkturnya, Carter Lukman, terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 104 juncto Pasal 116 ayat 1 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

"Terdakwa PT Lusantex yang diwakili Carter Lukman, terbukti melakukan dumping limbah B3 tanpa izin. Menjatuhkan pidana dengan pidana denda Rp 200 juta, berdasarkan ketentuan apabila dalam 1 tahun tidak dibayar, sebagian aset disita dan dijual atau dilelang untuk membayar denda," terang Ketua Majelis Hakim, Sihar Hamonangan dilansir dari situs resmi Pengadilan Bale Bandung, Rabu (6/11/2019).

Majelis hakim juga menjatuhkan pidana tambahan untuk perbaikan Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL) maupun lingkungan di sekitar PT Lusantex akibat pidana. Dengan cara, membersihkan limbah B3 berupa bottom ash dan fly ash yang bercampur‎ dengan tanah.

Perusahaan itu juga diwajibkan mengurus perizinan terkait pengelolaan lingkungan hidup, izin lingkungan, dan izin pembuangan limbah cair.

"Mengoptimalisasi IPAL dan mengalirkan air limbah hasil pencucian kain grey ke IPAL sampai batas baku mutu. Lalu membuat tempat penyimpanan sementara (TPS) dan menempatkan limbah B3 ke T‎PS," terangnya.

Vonis hakim lebih rendah dari tuntutan jaksa Neneng Tia Setianingsih yang menuntut agar PT Lusantex dipidana dengan denda Rp 400 juta. ‎

Kasus ini bermula dari aktifitas pabrik yang menghasilkan limbah B3 batu bara berupa bottom ash dan fly ash. Namun, pengelolaan limbahnya tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, yaitu dengan menyimpan dan menimbun limbah B3 tanpa izin dari pihak yang berwenang di sekitar mesin boiler pabrik‎.

Limbah B3 yang dihasilkan per 6 sampai 7 bulan mencapai 9 ton. Sedangkan limbah sludhe atau endapan dalam 6 bulan mencapai 10 kilogram. Bahwa kandungan limbah, menurut uji laboratorium limbah B3 fly ash mengandung logam berat
seperti Cu, Zn, Cd, Pb, Ni dan Cr total yang beracun. Adapun limbah cair yang dibuang bersama sludge ‎atau endapan B3 melebihi baku mutu yakni COD 178 miligram/liter sedangkan baku mutu COD mencapai 150 miligram/liter.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA