"Ghost Mania Festival" Ingin Lebih Populerkan "Gandrung" Sebagai Ikon Banyuwangi

Hiburan

Rabu, 15 Januari 2020 | 17:24 WIB

200115173214--ghos.jpg

istimewa

P-ANITIA Pelaksana Parfi Awards 2020 beranjangsana ke Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Selasa (14/01/2020). Dari kiri ke kanan, Mismi Marhamah, S.Pd. (Sekretaris LBCPB), M. Yanuar Bramuda (Kepala Dinas Disbudpar Kabupaten Banyuwangi), Eddie Karsito (Ketua Bidang Acara Parfi Awards 2020), Choliqul Ridha (Sekretaris Dinas Disbudpar), dan Bambang Harjito, SE, M.Si. (Ketua LBCPB).

Keragaman budaya tradisional di masing-masing daerah di Indonesia menambah keunikan sebagai bangsa yang besar. Zaman boleh berubah, generasi boleh berganti, namun kelestarian budaya tradisional adalah tanggung jawab bersama untuk melestarikannya.

Oleh karena itu, kegiatan budaya yang dilaksanakan Panitia Pelaksana Parfi Awards 2020, di kota Banyuwangi, murni sebagai kegiatan ’nguri-uri’ budaya dalam bingkai karya film Indonesia. Acara ‘Ghost Mania Festival’ ingin lebih mempopulerkan ’Gandrung’ sebagai ikon Kabupaten Banyuwangi.

Demikian antara lain disampaikan, Ketua Bidang Acara Parfi Awards 2020, Eddie Karsito, saat beranjangsana ke Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Selasa (14/01/2020).

Kedatangan Eddie Karsito ke kantor Disbudpar Kabupaten Banyuwangi ini dalam rangka memenuhi undangan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, M. Yanuar Bramuda, untuk memberi penjelasan tentang pelaksanaan acara ‘Ghost Mania Festival – Parfi Awards 2020’ yang digelar di A&R Fashion Store, Banyuwangi, Minggu (12/01/2020).

Aktor film dan sinetron, yang juga wartawan, serta penggiat seni budaya ini, didampingi Ketua Lembaga Bintang Cinema Production Banyuwangi (LBCPB), Bambang Harjito, SE, M.Si, dan Sekretarisnya, Mismi Marhamah, S.Pd.  Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Choliqul Ridha.

Eddie Karsito selaku inisiator acara menjelaskan detail, visi dan misi acara, ‘Ghost Mania Festival – Parfi Awards 2020’ yang menimbulkan multi tafsir karena menampilkan sosok mirip penari ’Gandrung’ dalam rupa ’ghost’ ; hantu. Hal ini sempat menimbulkan reaksi sebagian budayawan dan pemangku tradisi di Banyuwangi.

Namun dalam pertemuan tersebut, Eddie menjelaskan, bahwa yang ditampilkan oleh para seniman yang terlibat di acara tersebut tidak bermaksud merendahkan budaya tertentu. Melainkan murni sebagai ekspreasi karya seni yang justru ingin mengangkat (lebih mempopulerkan) khasanah budaya yang menjadi ikon Kabupaten Banyuwangi, yaitu ’Gandrung’.

“Ada hubungan parsial dari semua konten yang kami tampilkan. Tentang detail, visi dan misi acara, bagaimana acara ini dapat menjadi ekspresi kultural multi dimensi. Dapat dijadikan literatur dan wacana sejarah budaya bangsa sebagai teks budaya atau dokumen sosial,” terangnya.

Digelarnya Parfi Awards 2020, dengan tema, ‘Film Indonesia, Karya Budaya, Inspirasi Bangsa,’ kata Eddie, justru ingin menanamkan agar generasi muda memiliki rasa bangga, serta lebih mencintai dengan sepenuh hati warisan tradisonal budaya asli _(local wisdom).

“Melalui kegiatan ini kami ingin mewadahi berbagai kreatifitas untuk anak-anak muda.  Acara ini menjadi media edukasi, kreasi, dan apresiasi, untuk anak bangsa seluruh Indonesia yang dikemas melalui pendekatan budaya, dan kearifan lokal Indonesia,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, M. Yanuar Bramuda, mengatakan, menyambut baik kegiatan yang diselenggarakan Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) dan Lembaga Bintang Cinema Production Banyuwangi (LBCPB). “Kami menyambut baik, mendorong dan mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini di Banyuwangi,” paparnya.

Terkait dengan sejumlah pihak yang menilai lain terhadap kegiatan ini, menurut Bramuda, perlu tabbayun. “Kita perlu mengklarifikasi masalah yang terjadi. Tabbayun. Dengan harapan mendapatkan penjelasan kesimpulan yang lebih bijak, arif dan lebih tepat. Dari penjelasan ini kami melihat tidak adanya unsur kesengajaan. Ataupun unsur yang memang direkayasa untuk melecehkan budaya di Banyuwangi,” kata Bramuda.

Dengan melihat potensi seni, budaya dan pariwsiata di Kabupaten Banyuwangi, pihak Parfi memang mengharapkan ada kerjasama lebih lanjut dengan Pemerintah Kabupatan Banyuwangi, dalam hal ini melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi.

“Banyuwangi memiliki kekhasan budaya yang kaya, termasuk landscape geografinya yang luar biasa. Di tengah perkembangan teknologi yang cepat dan canggih, kita dituntut semakin terbuka dan saling memahami.  Nguri-uri budaya, menjaganya untuk terus tumbuh di tengah interaksi budaya-budaya lain di dunia,” ujar Eddie menutup.

Editor: boedi azwar

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA