Film "Lo Ban Teng" Digarap Dengan Pendekatan Budaya

Hiburan

Rabu, 13 November 2019 | 12:27 WIB

191113124530-film-.gif

@istimewa


Manusia tidak terlepas dari isu identitas. Identitas dibentuk oleh kebudayaannya. Salah satu identitas kebudayaan Indonesia di bidang olahraga beladiri, adalah pencak silat. Keidentitasan dan revivalisme inilah yang akan digarap dalam bentuk film laga bertajuk, ”Lo Ban Teng.”

“Film tidak hanya produk ekonomis. Film juga dilihat sebagai media sosialisasi dan media publikasi budaya yang ampuh dan persuasif,” ujar Produser Film ’Lo Ban Teng’ Taufiq Arief Denin, kepada galamedianews.com, saat dihubungi melalui sambungan selulernya, di Jakarta, Selasa (12/11/2019).

’Lo Ban Teng,’ jelas Taufiq, sebuah film yang memadukan aktor Indonesia dan Tiongkok. Cerita diadaptasi dari kisah hidup pendekar asal Hokkian Tiongkok, dengan setting lokasi shooting dilaksanakan di Tiongkok, Semarang dan Jakarta. Film ini akan diproduksi Production House (PH) Putra Kusuma Pictures, milik aktor dan tokoh supranatural, Ki Kusumo.

“Mengingat tuntutan artistik, dan lokasi shootingnya di beberapa Negara, produksi film ini tentu menelan biaya puluhan miliar. Namun dari aspek pembiayaan Ki Kusumo tetap memberi keleluasan dan kebebasan kami berkreasi. Film ini akan memakan waktu penggarapan selama tiga sampai empat bulan. Ki Kusumo berpesan agar film ’Lo Ban Teng,’ harus dibuat se-perfect mungkin,” papar produser yang sudah melahirkan belasan karya sinema ini.

Bahkan Ki Kusumo, lanjut Taufiq, meminta kepadanya untuk mengejar bintang laga Jean Claude Van Dame untuk membintangi film produksi dalam negeri ini. Oleh karena itu, pihaknya saat ini sedang intens menghubungi manajemen Jean Claude Van Dame untuk dapat menghadirkan bintang laga Hollywood itu dalam film ’Lo Ban Teng.’

Silat Identitas Budaya Indonesia
Olahraga (silat), lanjut, Taufiq, mampu menciptakan persatuan yang memadukan dan mengharmoniskan seluruh bangsa, tanpa mengenal ras dan warna kulit. Pada level kejuaraan dunia, olahraga mampu menyatukan semua bangsa. Survivalitas dan sportifitas mampu menggerakkan mereka untuk bersama-sama mencapai satu tujuan, yaitu kemenangan dan keberhasilan.

“Nilai-nilai inilah yang akan kita hadirkan lewat film. Menampilkan topik olahraga dan permainan yang mengandung energi besar. Kita tahu, di olahraga terdapat kompetisi, kejujuran, adu kekuatan, dan adu strategi. Tapi, di olahraga juga terdapat persahabatan, persaudaraan, dan kekeluargaan,” ujar produser yang sudah banyak menangani berbagai satuan mata acara di televisi ini.

Proses penggarapan film ’Lo Ban Teng,’ papar Taufiq, akan melibatkan beberapa perguruan beladiri lokal. “Kita harapkan kerjasama ini akan menciptakan simbiosis mutualisme para penggiat bela diri antar Negara, serta film ini bisa di terima masyarakat luas. Para aktor dan aktris film ini tak hanya mempertontonkan kehebatan capaian mereka di bidang olahraga, tapi diharapkan dapat menggelorakan obor peradaban maju di Asia, khususnya Asia Tenggara,” ujarnya.

Silat, lanjut Taufiq, salah satu bentuk identitas seni beladiri Nusantara kebudayaan Indonesia. Silat kini tidak hanya sebagai alat seni bela diri, tetapi berkembang menjadi sebuah upaya  dalam memelihara kesehatan melalui olehraga. “Silat juga membentuk karakter bangsa yang tangguh, kuat, berbudi luhur, dan berkembang menjadi watak identitas bangsa,” kata produser yang karyanya ‘Petualangan Didi Tikus’  meraih penghargaan di ajang Panasonic Award 2012, sebagai Film Animasi Pertama Asli Indonesia ini.

Selain pencak silat, terang Taufiq, tidak banyak orang tahu kalau di Indonesia ada perguruan ilmu bela diri Kung Fu beraliran Ngo Chu Kun. Perguruan ini didirikan dan dikembangkan oleh seorang guru bernama Lo Ban Teng. Aliran yang lahir sejak tahun 1928 ini tersebar tidak saja di sejumlah daerah di Indonesia, tapi juga di beberapa negara di Asia. “Kisah nyata inilah yang mendasari roh film yang akan kita produksi,” ujarnya.

Film ’Lo Ban Teng’ berkisah tentang seorang pemuda dari Desa Ciobee, Hokkian. Di desa tersebut dia bersama keluarganya adalah pendatang. Ayahnya, Lo Ka Liong membuka usaha arak bernama Kim Oen Hap. Sejak umur 14 tahun, Lo Ban Teng sudah belajar kungfu dengan seorang guru di desanya. Umur 17 tahun, Lo Ban Teng dikirim ayahnya ke Kampung Selan, Semarang Jawa Tengah. Disana, dia hanya bertahan 7 bulan. Lo Ban Teng memutuskan kembali ke Tiongkok.

Sekembalinya dari Semarang, Lo Ban Teng mendengar tentang adanya ilmu gingkang atau melompat melebihi tinggi tubuhnya hingga ke atas genteng. Sejak saat itu dia kembali menekuni kungfu lagi. Dia mengabdi pada guru tua kerempeng bernama Yoe Tjoen Gan, hingga menemukan rahasia teknik pukulan dahsyat,  Kuntao Ho Yong Pay.

Ketika gurunya meninggal, Lo Ban Teng tetap belajar kungfu pada guru lain. Lo Ban Teng tak mengenal lelah terus berguru dan belajar Kungfu hingga ilmu-ilmu lainnya. Termasuk mengobati orang. Dari sanalah, akhirnya Lo Ban Teng dikenal sebagai sinshe yang tersohor, di samping ahli dalam ilmu bela diri. Niatnya, untuk menolong orang.

Film yang konon ceritanya dari awal sampai akhir penuh dengan adegan perkelahian mendebarkan ini, targetnya tahun 2020 sudah tayang di bioskop.

Editor: boedi azwar

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA