Uang Saku Haji 2020 Diusulkan Dipangkas 500 Riyal

Haji

Jumat, 17 Januari 2020 | 17:28 WIB

200117172722-uang-.jpg

manasikumroh.com

Ilustrasi pelaksanaan ibadah haji.

PEMBERIAN uang saku untuk jemaah haji 2020 diusulkan untuk dipangkas, sehingga tak sama dengan pelaksanaan 2019. Jika semula uang saku jemaah mencapai 1.500 Riyal, di tahun 2020 ini diusulkan dipotong 500 Riyal dan menjadi 1.000 Riyal.

Hal itu disampaikan Direktur Pengelolaan Dana Haji dan Sistem Informasi Haji Terpadu Kemenag, Maman Saepulloh. Menurut Maman, masukan tersebut disampaikan oleh Badan Pengelolaan Keuangan Haji (BPKH).

"Itu baru masukan dari BPKH, namun sepertinya pak Menteri dan DPR belum mendapat persetujuan. Walaupun dipotong sebenarnya kebutuhan jemaah sudah cukup terpenuhi," ungkap Maman, Jumat (17/1/2020).

Dibenarkan Maman, hingga saat ini wacana pemangkasan uang saku jamaah haji 2020 itu belum disetujui oleh Menteri Agama dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Di sisi lain, ujarnya, saat ini kebutuhan konsumsi bagi jemaah haji di Makkah sudah menjadi 50 kali dari yang semula 40 kali.

Dengan perubahan ini, jemaah tidak perlu khawatir kebutuhannya tidak terpenuhi karena pengurangan uang saku atau living cost. Jemaah juga tidak perlu khawatir pelaksanaan ibadah terganggu karena uang saku yang berkurang.

Maman menyatakan, pemerintah akan memastikan jemaah bisa fokus pada pelaksanaan ibadah, tanpa perlu mengkhawatirkan makanan atau transportasi selama haji.

"Insya Allah cukup dan tidak mengganggu jemaah," imbuh Maman seperti dilansir dari detikcom.

Lebih lanjut Maman menjelaskan terkait usulan pemangkasan uang saku tersebut. Ada masukan, uang saku atau living cost untuk tahun ini direncanakan 1.000 Riyal, dari yang semula 1.500 Riyal untuk uang saku haji 2019.

Uang saku, yang rencananya turun sebesar 500 Riyal tersebut, diambil dari dana yang disetor jemaah haji. Dalam Rupiah, jumlah tersebut sekitar Rp 3 juta dari yang sebelumnya berkisar Rp 6 juta.

Adanya living cost memudahkan jemaah karena tak perlu membawa atau menukar uang terlalu banyak. Uang ini sangat berguna ketika jemaah haji tak bisa memenuhi kebutuhannya, misal saat layanan katering dihentikan karena tidak ada angkutan. Momen ini biasa terjadi saat H-3 hingga H+2 fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau Armina yang berlokasi di Makkah.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA