Harga Saham di Wall Street Ditutup Bervariasi

Dunia

Sabtu, 23 Mei 2020 | 10:28 WIB

200523102900-harga.jpg

WALL Street berakhir bervariasi pada akhir perdagangan Jumat (22/5/2020) atau Sabtu (23/5/2020) pagi WIB, karena investor mempertimbangkan meningkatnya ketegangan Cina-AS dan ketidakpastian yang sedang berlangsung tentang laju pemulihan ekonomi dari virus corona.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 8,96 poin atau 0,04 persen, menjadi ditutup di 24.465,16 poin. Indeks S&P 500 naik 6,94 poin atau 0,24 persen, menjadi berakhir di 2.955,45 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup meningkat 39,71 poin atau 0,43 persen, menjadi 9.332,59 poin.

Untuk minggu ini, Dow menambahkan 3,3 persen, S&P 500 naik 3,2 persen, dan Nasdaq naik 3,4 persen.

Peringatan Presiden Donald Trump pada Kamis (21/5/2020) bahwa AS akan bereaksi keras terhadap rencana China memberlakukan undang-undang keamanan nasional di Hong Kong telah menimbulkan kekhawatiran atas Washington dan Beijing yang mungkin mengingkari perjanjian perdagangan Fase 1 mereka.

Di akhir sesi, saham-saham naik tipis setelah Departemen Perdagangan AS mengatakan pihaknya menambahkan 33 perusahaan Cina dan institusi lain ke daftar hitam ekonomi untuk pelanggaran hak asasi manusia dan untuk mengatasi masalah keamanan nasional AS.

Retorika yang meningkat antara Washington dan Beijing telah merobohkan Wall Street dari tertinggi multi-bulan, meskipun tiga indeks utama masih semuanya naik sekitar tiga untuk minggu ini, didorong oleh optimisme tentang kemungkinan vaksin virus corona dan pelonggaran pembatasan terkait virus.

“Kami masih berpikir kekhawatiran Covud-19 ada di kursi pengemudi, tetapi kami dapat melihat hubungan AS-Cina kembali ke kursi depan,” kata Eric Freedman, kepala investasi di Bank Wealth Management AS.

Bursa saham AS akan ditutup pada Senin (25/5/2020) untuk hari libur publik "Memorial Day".

Investor juga terus mencerna beberapa data ekonomi utama. Klaim pengangguran awal AS mencapai 2,438 juta pada pekan yang berakhir 16 Mei, Departemen Tenaga Kerja melaporkan Kamis (21/5/2020).

Selama sembilan minggu terakhir, lebih dari 38 juta orang Amerika telah mengajukan klaim asuransi pengangguran, karena ekonomi terus terhuyung-huyung akibat pandemi Covid-19.

Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell mengatakan Kamis (21/5/2020) bahwa ekonomi AS menghadapi tingkat ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya sebagai akibat dari wabah virus corona.

Gubernur bank sentral AS mengatakan sementara bebannya meluas, "mereka yang menanggung dampak kejatuhan adalah mereka yang paling tidak sanggup menanggungnya."

Pada Jumat sore (22/5/2020) lebih dari 1,59 juta kasus Covid-19 yang dikonfirmasi telah dilaporkan di AS, dengan lebih dari 95.000 kematian, menurut Pusat Sains dan Teknik Sistem (CSSE) di Universitas Johns Hopkins.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA