Picu Kekhawatiran, Ilmuwan Islandia Ungkap Saat Ini Ada 40 Mutasi Virus Corona

Dunia

Kamis, 26 Maret 2020 | 14:30 WIB

200326142805-tujuh.jpg

dailymail

Para ilmuwan Islandia mengklaim mereka menemukan 40 mutasi dari Covid-19 atau virus corona yang kini masih menjadi pandemi global. Mutasi ditemukan dengan menganalisis swab pasien COVID-19. Islandia  sejauh ini mengonfirmasi hampir 600 kasus. Meski memicu kekhawatiran bagi sebagian kalangan tetapi ilmuwan lain mengorfirmasi jika mutasi merupakan hal lumrah dan menjadi celah mempelajari virus.

Dikutip dari DailyMail kemarin, menggunakan urutan genetik, para peneliti mengidentifikasi berapa banyak mutasi yang diakumulasi oleh virus. Varian genetik ini dapat bertindak sebagai sidik jari virus untuk menunjukkan dari mana virus berasal.

Hasilnya mereka mampu melacak asal virus pasien yang ternyata ikut “dibawa” dari tiga negara Eropa, yaitu Austria, Italia yang menjadi pusat penyebaran  dan Inggris. Tujuh orang yang terinfeksi juga dinyatakan sama-sama menyaksikan laga bola di Inggris.

Virus berakumulasi dalam mutasi ketika  berevolusi bisa menyebabkan perubahan “perilaku”. Mutasi sendiri proses biologis yang memungkinkan virus menyerang tubuh manusia sejak awal. Para ilmuwan percaya infeksi awalnya menyerang hewan selama bertahun-tahun, bahkan mungkin beberapa dekade, sebelum memiliki kemampuan untuk menulari manusia.

Mempelajari virus menggunakan genomik membantu memahami bagaimana mereka berperilaku yang pada akhirnya membantu para ilmuwan melawan pandemi. Ilmuwan Islandia menyelidiki virus bersama  otoritas kesehatan dan perusahaan genetika DeCode Genetics dengan menguji 9.768 orang yang berpartisipasi.

Ini termasuk siapa saja yang telah didiagnosis serta orang-orang dengan gejala atau mereka yang berada dalam kelompok berisiko tinggi untuk corona. Sekitar 5.000 sukarelawan yang tidak memiliki gejala ikut bergabung dalam penelitian dan 48 di antaranya dinyatakan positif.

Pengurutan  genom lengkap dilakukan dan mengungkap petunjuk bagaimana virus telah berevolusi juga  rantai penularannya. "Kita bisa melihat bagaimana virus bermutasi," kata Kári Stefánsson, direktur DeCode Genetics. “Kami telah menemukan 40 mutasi virus khusus di Islandia.”

Ia melanjutkan, “Kami menemukan seseorang yang memiliki campuran virus. Mereka memiliki virus dari sebelum dan sesudah mutasi. Dan virus yang dapat ditelusuri pada orang itu adalah virus yang bermutasi.  Satu orang lagi ditemukan membawa dua varian corona.”

DeCode Genetics mampu melacak bagaimana virus masuk ke Islandia, negara kepulauan dengan populasi 365.000 jiwa. Stefánsson menyebut beberapa berasal dari Austria dan jenis lainnya dari orang yang terinfeksi di Italia.

“Dan ada jenis virus ketiga yang ditemukan pada orang yang terinfeksi di Inggris. Tujuh orang menyaksikan pertandingan sepak bola di sana,”  katanya dengan merahasiakan laga dimaksud. Meski demikian studi ini belum dipublikasikan, artinya belum diteliti oleh ilmuwan lain.

Derek Gatherer, spesialis penyakit menular  Universitas Lancaster mengaku  tidak terkejut dengan temuan itu. “Semua virus mengakumulasi mutasi, tetapi hanya sedikit yang memiliki konsekuensi medis. Tapi ini tetap info berharga dalam melacak asal-usul rantai infeksi. Sepertinya Islandia ‘mengimpor’  infeksi dari negara-negara Eropa lainnya.”

Allan Randrup Thomsen, ahli virologi dari Departemen Imunologi dan Mikrobiologi Universitas Kopenhagen menambahkan hasil yang dijelaskan tim Islandia dianggap berterima. "Fakta yang menarik,  40 varian spesifik yang terbagi dalam tiga kelompok dan dapat ditelusuri hingga ke sumber infeksinya."

“Sebagai ahli virus, menarik mengetahui jalur mana yang terinfeksi. Studi ini akan kita lihat lebih banyak setelah epidemi karena kita ingin tahu  bagaimana virus berkembang. Coronavirus dapat bermutasi secara wajar. Kami telah melihat laporan variannya dari Cina. Jadi ini sudah  diprediksi.”

Studi sebelumnya di Cina pada awal Maret lalu menyebut corona telah bermutasi menjadi setidaknya dua jenis sejak wabah dimulai pada bulan Desember. Universitas Peking di Beijing mempelajari genom virus yang diambil dari 103 kasus dan menemukan mutasi umum di dua lokasi pada genom  yang mereka beri nama L dan S.

Mereka mengklaim sekitar 70 persen pasien terinfeksi  jenis L, yang lebih agresif dan lebih cepat menyebar daripada S. Varian S kurang agresif tetapi dianggap sebagai jenis virus pertama yang menulari manusia dan terus berlanjut menginfeksi pasien baru.

Sementara itu kritikus meminta agar penelitian dilakukan dengan lebih komprehensif. Mereka juga mengatakan dua mutasi tadi  tidak berarti ada dua
strain. Namun baik Gatherer maupun Thomsen berharap virus berkembang hingga berkurang efek patogennya.

Mirip dengan flu, Covid-19 kemungkinan lebih menyebar dan menginfeksi karena beradaptasi dengan baik. Namun variannya yang mematikan kemungkinan juga mati. Gatherer mengatakan proses ini  memakan waktu beberapa tahun seperti flu babi H1N1.


Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA