Diusir Penduduk Irak, Donald Trump Enggan Tarik Pasukan AS

Dunia

Kamis, 23 Januari 2020 | 00:21 WIB

200122231224-diusi.jpg

sofrep

Pasukan AS di wilayah Irak.

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengadakan pertemuan dengan Presiden Irak Barham Salih di Davos, Swiss, Rabu (22/1/2020). Salah satu agenda yang dibicarakan terkait penarikan pasukan AS dari Irak.

Hasil gambar untuk barham salih and donald trump"

Sebelumnya pihak Washington menolak permintaan Irak pada awal Januari agar pasukan AS menarik pasukannya. Sehingga muncul wacana penurunan jumlah pasukan AS di wilayah Irak.

"Penurunan jumlah tentara asing serta kepentingan menghormati tuntutan rakyat Irak untuk menjaga kedaulatan negara dibahas selama pertemuan itu," bunyi pernyataan kantor Kepresidenan Irak.

Saat ditanya media terkait kemungkinan penarikan pasukan AS dari Irak usai melakukan pertemuan tersebut, Donald Trump mengatakan, “Kami akan melihat apa yang terjadi, karena kami harus melakukan hal-hal dengan syarat-syarat kami”.

Trump mengisyaratkan AS enggan menarik pasukannya dari Irak. Ia mengatakan, 5.000 tentara AS tetap berada di Irak. Namun pemerintahannya akan “membuat keputusan” tentang masa depan mereka.

Sementara Barham Salih meminta agar AS mempertimbangkan penarikan pasukan untuk menjaga kondusifitas negaranya.

“Kita punya tujuan yang sama, yakni Irak yang stabil dan berdaulat yang berdamai dengan dirinya sendiri dan berdamai dengan negara-negara tetangganya,” ucapnya.

Hasil gambar untuk iraq parliament"

Parlemen Irak pada 5 Januari mengesahkan resolusi tak mengikat, yang memuat permintaan kepada pemerintah agar mengakhiri keberadaan pasukan asing di Irak. Permintaan itu diajukan setelah serangan udara AS menewaskan jenderal Iran Qassem Soleimani dan komandan milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis.

Pembunuhan Soleimani, yang dibalas Teheran dengan melancarkan tembakan rudal balistik ke dua pangkalan militer Irak yang ditempati pasukan AS, menyoroti pengaruh kekuatan-kekuatan asing di Irak, terutama Iran dan Amerika Serikat.

Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi telah meminta Washington untuk bersiap-siap menarik pasukan AS, sesuai dengan keputusan parlemen Irak.

Namun pemerintah Trump menolak permintaan itu. Washington kemudian mengatakan bahwa pihaknya sedang menjajaki kemungkinan memperluas misi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Irak, sebuah rencana untuk berbagi beban di kawasan tersebut.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA